Happy reading!
Hallo semua, maaf yh baru bisa up. Sebulan kemarin aku benar-benar sibuk, belum ada waktu buat ngelanjutin cerita aku.
Tipis-tipis aja yhh, semoga suka!!!
Sikecil Syaqila tampak begitu asyik bermain di depan ndalem Kyai Abdullah. Beberapa mainan masak-masakan miliknya terlihat kotor karena tanah. Bocah itu memaksa saudaranya untuk ikut bermain. Tentu saja kedua Kakaknya itu mengikuti kemauan sibungsu dengan ogah-ogahan.
"Enak ndak, Ucen?" Tanya Syaqila.
"Ngga enak," jawab Husain.
"Ihh Ucenn! Halus bilang enak, Mas Hapis!" Ucap Syaqila beralih pada Kakaknya.
"Ya, kan tanah, Qila. Bener kata Ucen. Ngga enak," jawab Hafizh sembari meletakkan piring mini berwarna pink itu.
"Tapi kalau Qila main sama Uma sama Aba, meleka bilang enak kok," jawab Syaqila.
Hafizh dan Husain hanya mampu menghela nafasnya panjang. Menghadapi Syaqila memang harus banyak sabarnya.
"Ilyass! Ilyas!" Syaqila berlari menghampiri sosok lelaki yang tengah membantu Akang pondok mengangkat meja. Memang di pesantren akan diadakan acara rutinan seperti biasa.
Semua santri maupun pengurus pondok ikut membantu membersihkan area pesantren yang akan digunakan nanti malam.
Banu, yang sampai saat ini masih mengabdi di pesantren terkekeh pelan melihat ning kecil mereka yang begitu antusias kala melihat remaja kelas 2 Tsanawiyah berada dikawasan ndalem.
Ia ingat betul temannya yang dahulu selalu bercanda akan jodohnya. Mahan orangnya. Dulu lelaki itu begitu mengidam-idamkan ning Qila akan menjadi jodohnya, tapi sepertinya Syaqila sendiri kepincut dengan lelaki lain.
Memang setelah lulus dari pesantren beberapa teman Banu memutuskan untuk boyong. Mereka akan fokus pada kesibukan mereka masing-masing. Diantara empat temannya hanya tersisa Banu dan Zaky saja disini.
"Ilyas," panggil Syaqila sekali lagi.
Lelaki yang baru beranjak remaja itu menoleh pada Syaqila. Ia hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.
"Pakai Mas, Ning. Kan Mas Ilyas lebih tua," ujar Banu.
"Tapi belum putih lambutnya." Banu dan beberapa temannya terbahak mendengar ucapan polos Syaqila.
Ilyas yang paling muda disini hanya mampu mendatarkan wajahnya. Lelaki itu merasa tidak enak berada dikumpulan seniornya.
"Tapi kan usianya lebih tua. Ning Qila kalau panggil Gus Hapis pakai Mas juga kan? Nah kalau sama yang lain juga seperti itu ya?" Ujar Banu.
"Oteyyy," seru Syaqila dengan senyum lebarnya.
"Mas Ilyas ganteng," ujar Syaqila yang lagi-lagi membuat semua orang tertawa. Sepertinya Gus Ibra dan Ning Syaqira tidak seperti ini, pikirnya.
"Qila mau main masak-masak sama Mas Ilyas," ujar gadis itu. Tangan mungilnya memainkan sendok mainan miliknya dengan lucu.
"Mas Ilyasnya mau bantuin kakang pondok dulu, ning." Syaqila tampak cemberut mendengarnya.
"Qila ikut ya?" Ujar gadis kecil itu.
"Eh, jangan ning," tolak Banu dengan halus.
"Kenapa ndak boleh, Kang Banu?" Tanya Syaqila.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Married
Fiksi UmumSequel IBRA Tentang kehidupan Syaqira dan Ibrahim setelah menikah, memiliki anak dan tentang kehidupan yang sesungguhnya. Dianugerahi dua anak yang lucu-lucu membuat Syaqira merasa begitu beruntung. Dicintai oleh suaminya dan juga kedua anaknya memb...
