Bab 28

3.3K 201 22
                                        

Syaqila dan juga Gus Ibra sudah berbaikan. Keduanya bahkan semakin lengket semenjak kejadian kemarin. Apalagi, hari ini bocah itu malah demam. Syaqira sampai kewalahan karena putrinya rewel.

Gus Ibra dengan senang hati mengambil alihnya. Menemani bahkan menggendong kemanapun Syaqila bergerak.

"Hapis, ndak jadi ngaji?" Tanya Gus Ibra pada putranya yang masih duduk santai di depan televisi.

"Libur dulu ya, Aba? Hapis mau di rumah sama Uma sama Qila," jawab bocah itu sembari memeluk bantalnya.

"Yaudah boleh, tapi nanti tetep ngaji sama Aba lho." Hafizh mengangguk saja mendengarnya.

"Aaa—Aba, sakit," adu Syaqila sembari merengek. Syaqila bingung, ia tidak bisa mendeskripsikan rasa sakit yang ia rasakan.

Gus Ibra menempelkan pipinya pada kening putrinya. Tangan kekarnya pun turut menepuk-nepuk punggung dan pantat Syaqila agar gadis kecil itu kembali tenang.

"Kasihan sekali anak, Aba. Syafakillah, sayang." Ia kecup kening itu lantas kembali mendekapnya dengan sayang.

"Qila tuh kena Karma, Ba." Ujar Hafizh sembari menatap Syaqila songong.

"Karma apa?" Tanya Gus Ibra bingung.

"Waktu aku sakit kemarin kan, Qila ngejek aku. Sekarang giliran Qila yang sakit deh, namanya Qila kena Azab." Begitu katanya.

Syaqila yang mendengar itu tentu saja langsung menangis. Gus Ibra geleng-geleng kepala melihatnya. Yang satu kompor yang satu cengeng. sudahlah tamat riwayatmu, Ibra.

"Qila ndak mau kena azab," ujar gadis itu sembari menatap Ayahnya dengan sendu.

"Loh, belum tentu. Sakit itu datangnya dari Allah. Bisa untuk menghapuskan dosa, bisa juga karena teguran. Hm, tergantung perbuatan Qila bagaimana." Jelas Gus Ibra.

"Qila ndak mau azab," lirih bocah itu sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Gus Ibra. Kedua mata sayunya menatap Ayahnya itu dengan hidung yang memerah.

 Kedua mata sayunya menatap Ayahnya itu dengan hidung yang memerah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gus Ibra terkekeh pelan melihatnya. Lelaki itu lantas kembali membawa Syaqila untuk kedepan. Mencari angin sebab siang ini rasanya begitu panas. Dengan membawa Syaqila di gendongannya, Gus Ibra duduk di teras sembari menatap ramainya halaman pondok.

Syaqila terus bersandar nyaman di dada bidang Gus Ibra. Jemari kecilnya bergerak memainkan ujung kaos yang digunakan oleh Gus Ibra.

"Kakinya Qila, nyut nyut," adu Syaqila sembari menunjuk kakinya yang terbalut perban.

"Hm? Mana coba, Aba liat." Gus Ibra menyentuh kaki kecil itu sembari mengelusnya lembut.

Cup.

"Dah, sembuh." Gus Ibra mengecup telapak kaki putrinya itu untuk mengelabui Syaqila agar tidak terfokus pada kakinya.

"Ndak sembuh! Masih sakit," bantah Syaqila sembari mendorong wajah Gus Ibra. Bocah itu kembali menangis yang membuat Gus Ibra langsung menggendongnya.

Menggendong Syaqila berdiri. Menimang-nimang gadis kecilnya yang ia gendong ala koala. Kepalanya kembali ia tempelkan pada kening Syaqila yang bersandar pada dadanya.

After MarriedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang