Bab 25

2.9K 181 11
                                        

Sepinya rumah membuat Syaqira merasa bosan. Putranya sudah ngacir bermain setelah pulang sekolah sedangkan Gus Ibra tengah beristirahat di dalam kamar. Syaqira hanya bersantai di ruang tengah sembari menonton acara televisi.

Perempuan itu mengernyit ketika tidak mendapati suara putrinya yang tengah bermain di depan rumah. Takut-takut anaknya akan bermain keluar tanpa sepengetahuannya. Syaqira pun berjalan kedepan guna memastikan keadaan Syaqila.

Sedangkan disisi lain, Syaqila yang sudah basah dan penuh dengan tanah itu tampak begitu riang bermain di halaman rumah.

Syaqila terus meloncat-loncat di genangan air yang ia buat, sehingga airnya menyiprat kemana-mana. Selang air itu ia biarkan tergeletak sehingga air yang keluar terus terkumpul disana. Sesekali bocah itu mengarahkan air dari selang itu keatas sebagai pancuran.

"Ya Allah, Qila!"

"Pantas aja anteng, lagi bikin proyek toh," guman Syaqira sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Abaaaa, anaknya nih," adu Syaqira yang membuat lelaki berperawakan tinggi itu keluar dari rumah.

Lelaki itu menghela nafasnya panjang. Lagi-lagi putrinya berulah. Lelaki itu melotot kala air yang dibuat mainan oleh Syaqila berada dimana-mana.

"Yassalam. Syaqila! Airnya kemana-mana ini," ujar Gus Ibra berjalan mematikan kran di samping rumahnya lantas mendekati Syaqila yang malah menghindarinya.

"Kok dimatiin?" Tanya bocah itu sembari menarik selang airnya.

"Kamu ini, main air terus. Nanti masuk angin," ujar Gus Ibra lantas menarik lengan kecil anaknya. Dengan gesit, Gus Ibra mengangkat tubuh anaknya dan membawa Syaqila ke kamar mandi, melewati pintu belakang rumah tentunya.

Syaqila tidak tantrum, tumben sekali memang. Syaqila justru tertawa ketika Gus Ibra mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar mandi.

Syaqira geleng-geleng kepala melihatnya. Perempuan itu lantas membawa pel itu mengeringkan air yang berada di teras akibat ulah si kecil.

Sedangkan Gus Ibra, lelaki itu mengguyur tubuh Syaqila guna membersihkan tanah dan pasir yang menempel di baju dan rambutnya.

"Kamu ini salto apa gimana sih, dek? Rambutnya penuh pasir gini," ujar Gus Ibra sembari memakaikan shampo pada Syaqila.

"Salto tu apa, Aba?" Tanya Syaqila sembari menggenggam erat botol shampo miliknya.

Gus Ibra tidak menjawab, lelaki itu sibuk memandikan putrinya yang selalu ada saja tingkahnya. Tidak seperti Masnya yang anteng. Yah, anteng karena tertidur tepatnya.

"Aba, pakai ini," tunjuk Qila pada sabun milik istrinya.

"Qila pakai punya sendiri, kan ada." Syaqila cemberut seketika.

"Mau ini, bial wangi sepelti Uma," jawab bocah itu yang membuat Gus Ibra mengangguk saja. Gus Ibra membiarkan Syaqila menggunakan sabun dengan sendirinya. Sedangkan Gus Ibra sendiri mengucek pakaian Syaqila.

"Kamu diam dulu ya? Aba ambilkan handuk dulu," ujar Gus Ibra yang diangguki oleh Gus Ibra.

Lelaki itu lantas keluar dari kamar mandi. Berjalan menuju kamar sembari menggulung sarungnya hingga lebih pendek.

"Tolong handuknya Qila, sayang," ucapnya pada Syaqira yang tengah melipat pakaian.

"Udah selesai mandinya?" Tanya Syaqira sembari meraih handuk milik putrinya.

"Udah. Rambutnya Ya Allah, sayang. Banyak pasirnya. Ngga tau itu Qila guling-guling apa gimana," ujar Gus Ibra sembari menggelengkan kepalanya heran.

"Qila. Ngga heran lagi, Mas." Ujarnya. Gus Ibra ikut terkekeh pelan lantas kembali turun untuk menyusul putrinya.

After MarriedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang