Sequel IBRA
Tentang kehidupan Syaqira dan Ibrahim setelah menikah, memiliki anak dan tentang kehidupan yang sesungguhnya.
Dianugerahi dua anak yang lucu-lucu membuat Syaqira merasa begitu beruntung. Dicintai oleh suaminya dan juga kedua anaknya memb...
Gus Ibra memasuki rumah dengan santai. Kaki jenjangnya berjalan semakin masuk kedalam. Suara sedikit risuh itu terdengar hingga keruang tengah. Gus Ibra mengernyit heran. Biasanya kalau masak, Syaqira tidak akan seheboh itu.
Lelaki itu berjalan menuju sumber suara. Memastikan benar Syaqira atau bukan. Sesampainya di dapur, Gus Ibra melotot melihat kekacauan di depannya.
"Astaghfirullah, nak." Kedua manusia cilik itu menoleh kebelakang lantas menyengir lebar.
"Istri Aba dimana?" Tanya Gus Ibra.
"Ndak tau, Aba. Tadi, tadi kelual kan Mas Hapis?" ujar si imut yang diangguki oleh Hafizh.
Gus Ibra menghela nafasnya panjang. Lelaki itu memijat pankal hidungnya lantas menatap anak-anaknya garang.
"Siapa yang suruh berantakin ini semua, hm?" Tanyanya sembari berjongkok di depan Syaqila dan Hafizh.
"Syaqila Aba," tunjuk Hafizh pada adiknya yang kini mendongak menatap dirinya dengan lugu.
"Kan Qila mau main salju yang sepelti Elsa, Aba." Ujar si kecil mencari pembelaan.
"Leligoo~Leligo~NANANALELIGOOO~" Syaqila kembali bernyanyi sembari menghempaskan tepung yang berada digenggamannya.
"Subhanallah anakku," ujarnya lirih.
"Heh, dengerin Aba! Ini tuh buat masak, nduk. Ngga boleh diberantakin kayak gini, buat mainan kayak gini tuh ngga boleh. Mubazir. Rumah juga jadi kotor, susah lho nanti beresinnya. Syaqila ngga kasihan sama Uma, hm? Uma nanti harus beresin ini, Uma udah capek beres-beres rumah, capek masak buat makan. Masa Qila berantakin rumah. Dipakai buat mainan semua barang Uma. Nanti kalau Uma nangis gimana?" Tanya Gus Ibra pada sibungsu.
Syaqila yang ditatap dalam oleh Abanya pun kicep. Dasarnya hati perempuan itu lembut, padahal Gus Ibra menasehatinya tidak dengan nada marah, tapi bocah itu sudah berkaca-kaca.
"Maap Aba," ujar Syaqila.
"Janji dulu, ngga akan ngulangi lagi?" Tanya Gus Ibra sembari menangkup kedua bahu kecil putrinya.
"Iyah, ndak diulang," jawab sikecil dengan hidung yang memerah.
"Bener ya? Kalau besok masih diulang mau Aba apain?" Tanya Gus Ibra.
"Dicubit Aba," ujar Syaqila sembari mencubit kecil tangan Abanya. Gus Ibra terus menatap Syaqila yang membuat gadis kecil itu menangis. Gus Ibra beralih menatap putranya yang hanya terdiam dibelakang Syaqila.
"Hafizh juga. Kenapa adiknya ngga ditegur, Le? Lain kali ngga boleh mainan tepung lagi! Ngerti ngga?" Hafizh terdiam mendengarnya.
"Loh malah diem, denger ngga tadi Aba ngomong apa?" Ulang Gus Ibra.
"Iya, Aba. Hapis minta maap," ujar bocah itu sembari menunduk takut.
"Sini, Hapis sama Qila berdiri disini. Aba hukum ya?" Ujar Gus Ibra sembari menarik kedua anaknya untuk berdiri dipojok ruangan.
"Dah, berdiri disini sampai Aba selesai bersihin ini," ujar Gus Ibra yang diangguki oleh keudanya.
Gus Ibra beralih meraih sapu dan alat bersih-bersih lainnya. Dirinya bergerak membersihkan kekacauan yang diperbuat oleh kedua anaknya. Untungnya Syaqira tengah tidak ada di rumah. Bisa-bisa perempuan itu akan murka.
"Abaaaaaa, Qilanya maap. Ndak akan kotol-kotol lagi," isak anak gadisnya.
Gus Ibra hanya bisa terkekeh pelan melihat anaknya yang sedari tadi menangis. Sedangkan Hafizh hanya terdiam sesuai instruksi Abanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ngga papa, Nak. Aba ngga marah, paling Uma kamu yang marah, nanti ngga mau gendong kamu," ujar Gus Ibra yang semakin membuat putrinya menangis histeris.
"Umaaaa Qila maaf, ndak main leligo lagi. Umaaaaaa!!" Tangis Syaqila yang membuat Gus Ibra tertawa mendengarnya. Haduh, kalau dipikir-pikir kasihan juga anaknya menangis seperti itu.
Setelah selesai membersihkan lantai dan meja. Gus Ibra beralih pada kedua anaknya. Lelaki itu lebih dulu menggendong putrinya yang masih terisak. Lantas merangkul Hafizh membawanya keruang tengah.
"Aba maap," ujarnya.
"Iya, sayang." Gus Ibra menepuk-nepuk punggung putrinya agar terdiam.
Gus Ibra membawa keduanya duduk di ruang tengah sembari menunggu sang istri tercinta. Lelaki itu terus mencoba menenangkan putrinya yang terus menangis karena merasa bersalah pada Umanya.
"Nanti Umanya malah ndak, Aba, sama Qila?" Tanya Syaqila.
"Ngga tahu, coba tanya Mas Hapis," ujar Gus Ibra.
"Malah ndak, Mas Hapis?" Tanya Syaqila pada Hafizh. Bocah itu hanya menggeleng pelan tanda tidak tahu.
"Kalau malah gimana, Aba? Huhuuuuu—Qila minta maaf," ujar Syaqila kembali memeluk leher Ayahnya. Menumpahkan segala tangisnya disana.
Gus Ibra terkekeh pelan mendengarnya. Mau kasihan tapi di dengar-dengar kok lucu celotehannya.
"Cup-cup. Kasihannya anak Aba," ujar Gus Ibra lantas mengecup pelipis Syaqila dengan lembut.
"Nanti Aba bilangin Uma ya? Jangan malahin Qila, nanti bilang ya, Aba?" Pinta si kecil.
"Hmmm, ngga deh. Uma serem lho dek kalau marah. Aba takut," ujar Gus Ibra semakin membuat Syaqila menangis. Emang bapak guendeng!
"HUAHHHHHHHH~"
"Aba kok nakalin Qila? Hapis bilangin Uma ya!" Ancam si sulung yang membuat Gus Ibra panik.
"Aba cuma becanda, Mas Hapis. Lagian kalian juga kenapa main-main tepung? Dijadikan pelajaran, besok jangan diulang lagi," ucap Gus Ibra yang membuat Hafizh kembali terdiam.
"Bilang terima kasih dulu sama Aba. Tadi yang beresin Aba lho," ujar Gus Ibra mengacungkan tangannya.
"Minta maaf Aba," ujar Hafizh mencium punggung tangan Putranya.
Gus Ibra tersenyum lantas mengusap kepala putranya dengan sayang. Setelah itu Gus Ibra kembali fokus pada putrinya yang masih berkaca-kaca.
"Assalamu'alaikum," ujar si cantik memasuki rumah.
Mendengar suara ibunya, kedua bocah itu lekas berlari menghampiri Syaqira. Memeluk tubuh Ibunya yang membuat Syaqira kebingungan.
"Loh, sayangnya Uma kenapa nangis ini?" Tanya Syaqira sembari memeluk kedua putra putrinya.
"Uma, Hapis minta maaf. Hapis janji ngga akan rusuh lagi," ujar putranya dengan berderai air mata.
"Uma maapin Qila juga, Qila ndak akan nakal lagi, ndak akan lusakin balang Uma lagi. Qila ndak akan—huaaaaaaaaa Umaaaaaa!" isaknya semakin kencang.
"Eh, eh. Kenapa ini? Coba cerita sama Uma."
"Qila sama mas Hapis, main Leligo-leligoan pakai tepung Uma. Tepungnya tumpah-tumpah, Uma." Syaqira mengangguk mendengarnya.
"Begitu ya? Pantes aja anak Uma cemong semua," ujar Syaqira sembari mengusap tepung yang berada di pipi dan baju kedua anaknya.
"Ngga apa-apa. Uma ngga marah kok, tapi ngga boleh diulang lagi ya? Tepungnya kan buat Uma masak. Kalau ngga ada bahan buat masak, nanti kita ngga bisa makan lho." Kedua anaknya mengangguk.
"Kita ngga boleh buang-buang seperti itu. Mubazir, diluar sana masih banyak orang yang kesusahan cari makan. Sedangkan kita Alhamdulillah masih bisa makan, harus bersyukur dan ngga boleh buang-buang makanan ataupun bahan makanan. Ya? Jangan diulang ya?"
"Iya, Uma," ujarnya serempak lantas kembali memeluk ibunya. Gus Ibra tersenyum teduh melihat interaksi ketiganya.
"MasyaAllah. Yuk, sekarang ganti baju dulu," ujar Syaqira bangkit sembari menggandeng kedua tangan anaknya.
"Ayo, Hapis ganti sama Aba. Biar Qila sama Uma." Ujar Gus Ibra berjalan menghampiri ketiganya. Bocah itu mengangguk lantas merapatkan diri pada Abanya.
Keempat manusia itupun berjalan menuju kamar. Isak kecil Syaqila masih begitu kentara. Duh, Gus Ibra jadi merasa bersalah. Padahal kan niatnya cuma mau negur aja nak, bukan marahin kamu.