Yang ditebak Gus Ibra benar terjadi. Syaqira mengandung anak ketiga mereka disaat usia Syaqila masih berusia tiga tahunan. Mengetahui hal itu, kedua anaknya pun begitu antusias menyambutnya. Awalnya Syaqira takut si kecil akan merasa tidak suka tapi ternyata sebaliknya.
Dari kedua belah pihak keluarga Gus Ibra dan Syaqira pun ikut bahagia menyambutnya. Ini rezeki, tentunya mereka tidak boleh menolaknya walaupun kedua anaknya masih terlihat kecil.
Seperti biasa, Gus Ibra melarang Syaqira melakukan aktivitas berat. Masak pun Gus Ibra mengambil alih tugasnya. Syaqira hanya diberi kesempatan untuk mencuci piring, itu pun hanya satu kali dalam sehari.
Kalau urusan bersih-bersih rumah, kedua anaknya pun bisa membantu sedikit-sedikit. Yah, lumayan untuk meringankan pekerjaan Gus Ibra.
Puasa ke 10 mereka lalui dengan Hafizh yang terkena radang. Namanya juga anak kecil, hobinya berbuka dengan es. Padahal Syaqira maupun Gus Ibra telah mengingatkan agar tidak terlalu banyak meminum es. Tapi namanya juga Hafizh.
"Uma, uhuk-uhuk-uhukm." Syaqira memutar bola matanya.
"Uma kan udah bilang, jangan minum es, Mas Hapis. Ngeyel, sekarang baru ngerasain kan?" Ujar Syaqira sembari membawakan air hangat untuk anaknya.
Anak itu mengusap matanya yang terasa panas dan berair. Kali ini ia merapatkan diri pada tubuh ibunya. Kepalanya ia sandarkan pada dada Syaqira. Kedua tangan kecilnya melingkar di perut Syaqira.
"Sakit Uma," lirih bocah itu yang membuat Syaqira tidak tega.
"Besok diterusin ya, minum es nya?" Ujar Syaqira sembari mengusap-usap kepala putranya lembut.
Hafizh menggelengkan kepalanya pelan, hidungnya semakin memerah dan terasa meler. Nafasnya terasa tersumbat dan pusing. Bocah itu benar-benar kapok sekarang.
"Ini, minum air hangat dulu. Aba baru beli obat buat Hapis, nanti diminum kalau Aba udah pulang," ujar Syaqira.
Benar saja, tidak lama setelahnya Gus Ibra dan Syaqila muncul dari balik pintu. Gadis kecil itu berjalan riang sembari memeluk kantung plastik berisi jajanan miliknya.
"Samlikum, Uma!" Riangnya.
"Wa'alaikumusalam, sayang." Jawab Syaqira sembari tersenyum manis.
"Ini, diminum sesudah makan, Sayang. Sehari dua kali." Gus Ibra menyerahkan obat tersebut pada Istrinya.
"Masih pusing?" Tanya Gus Ibra mendudukkan dirinya di samping Hafizh.
"Panasnya udah ngga terlalu sih. cuma ngeluh sakit lehernya, Mas." Ujar Syaqira sembari membuka obat tersebut.
"Nanti kalau masih ngga ngefek obatnya. Bawa ke klinik aja, Sayang." Ujar Gus Ibra. Lelaki itu bergerak mengecuk kening serta ubun-ubun putranya dengan lembut.
"Uhuk-uhuk, Uma sakitt~" ejek Syaqila dihadapan Kakaknya itu. Gus Ibra sudah terbahak melihat tingkah anaknya.
"Heh! ngga boleh begitu, Qila. Ngga baik. Doain Masnya biar cepet sembuh, ojo diladaki wae," ujar Gus Ibra sembari mencubit hidung putrinya dengan gemas.
(Jangan diejek aja)
Seperti tidak merasa bersalah bocah itu hanya cengengesan dihadapan kedua orang tua serta Kakaknya. Syaqila mendudukkan dirinya di atas karpet sembari membuka jajanan miliknya.
"Aba, nanti beli lagi ya?" Ujar Syaqila.
"Kan masih banyak. Itu sehari juga Qila ngga akan habis," ujar Gus Ibra yang kini tengah mengusap peluh yang membasahi kening putranya.
"Kalau habis beli ya?" Ucapnya.
"Ngga boleh banyak-banyak lho, Qil. Ngga sehat chiki-chikinya," ujar Syaqira menatap Putrinya yang duduk ditengah-tengah banyaknya Chiki-chikian.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Married
General FictionSequel IBRA Tentang kehidupan Syaqira dan Ibrahim setelah menikah, memiliki anak dan tentang kehidupan yang sesungguhnya. Dianugerahi dua anak yang lucu-lucu membuat Syaqira merasa begitu beruntung. Dicintai oleh suaminya dan juga kedua anaknya memb...
