End

4.4K 208 20
                                        













Eitsssss! Sebelum baca bab ini. Aku mau kasih tahu terlebih dahulu kalau cerita ini bakal habis disini. Target ku memang hanya sampai bab 30 dan pas banget sampai mereka merayakan lebaran idul fitri.

Untuk kalian yang udah nunggu-nunggu dan berharap cerita ini akan terus update. Mohon maaf ya sayang-sayangku, cerita ini harus selesai disini🥹

Pokoknya love banyak-banyak buat kalian yang terus ngikutin cerita aku dan support aku. Semoga kalian diberi kebahagiaan yang berlimpah💗🫶🏻😍🥹
























































Hening terasa begitu memasuki rumah. Gus Ibra berjalan dengan perlahan memasuki kamar. Pintu yang tadinya tertutup itu ia buka secara perlahan. Senyumnya terbit melihat istri dan kedua anaknya yang sudah terbaring di atas ranjang.

Gus Ibra lebih dulu menghampiri Syaqila yang tertidur dengan memeluk hewan berbulu lucu. Bahkan pulang dari rumah Ayah Fahri pun, Syaqila tidak mau lepas dari hewan tersebut.

Kucing. Berawal dari Hamam yang bercerita memiliki banyak kucing dan menawarkan pada Syaqila, alhasil sebelum pulang kerumah, Gus Ibra lebih dulu mengambil kucing di rumah Hamam.

 Berawal dari Hamam yang bercerita memiliki banyak kucing dan menawarkan pada Syaqila, alhasil sebelum pulang kerumah, Gus Ibra lebih dulu mengambil kucing di rumah Hamam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ngga mau lepas beneran?" Gumam Gus Ibra sembari mengusap kepala putrinya dengan lembut.

"Udah sayang katanya," balas Syaqira sembari terkekeh pelan.

"Ada-ada aja," jawab Gus Ibra sembari memindahkan kucing itu keluar. Setelahnya, Gus Ibra kembali memasuki kamar. Mendudukkan dirinya di samping Syaqira. Keduanya mengamati putra-putrinya yang sudah terlelap tanpa terganggu suatu apapun.

"Ternyata kita udah tua ya?" Ucap Syaqira sembari terkekeh pelan.

"Aku baru sadar waktu tadi kumpul-kumpul di rumah Bunda. Padahal udah hampir tujuh tahun kan kita menikah? Kumpul di rumah Bunda juga udah sering. Tapi ngga tau kenapa aku baru sadar kalau aku udah sepenuhnya lepas dari Bunda. Aku udah punya keluarga sendiri, aku udah punya dua anak. Aku bakal makin tua, nanti kalau anak-anakku udah pada besar, udah pada menikah, ihhh sedih." Gus Ibra terkekeh pelan mendengarnya. Ia usap air yang mengalir pada pipi istrinya.

"Kamu ngga sendiri lho. Ada Mas yang selalu disisi kamu. Ngga perlu khawatir, kita lalui sama-sama ya?" Ucap Gus Ibra sembari mengusap-usap punggung Syaqira dengan lembut.

"Aku masih suka sedih kalau liat mereka. Jadi keinget utun," ujar Syaqira sembari menatap Gus Ibra sendu. Lelaki itu dengan sigap memeluk dan menenangkan istrinya.

"Allah lebih sayang sama anak kita, Ra." Syaqira semakin terisak mendengarnya.

Syaqira tidak menjawab ucapan suaminya. Ia juga tidak ingin mengambil topik pembicaraan ini. Ia sudah ikhlas, hanya saja sering teringat bayang-bayang kala ia terjatuh saat itu. Syaqira tidak marah pada sang pemilik takdir. Ia yakin ini sudah yang terbaik. Anaknya sudah lebih dulu menunggu mereka di surga.

"Sampai tua, kalau anak-anakku bikin kesalahan. Tolong jangan dimarahin terus ya? Jangan sampai di takzir seperti santri-santri di pondok. Hapis sama Qila bakal ngerti kok kalau dikasih tau. Mereka kayak Mas Ibra. Pasti mereka manut kalau dinasehati," ujar Syaqira sembari memeluk tubuh Suaminya.

"Maaf ya? Mas kelepasan waktu itu," ucap Gus Ibra sembari mengeratkan pelukannya pada Syaqira.

"Aku ngga bahas itu kok, aku cuma mau ngingetin kamu aja. Kedepannya aku mau anak-anak merasa beruntung punya kita. Boleh dimarahin tapi jangan kelewatan sampai main tangan. Aku yakin Mas Ibra juga ngga akan ngelakuin itu. Tapi namanya manusia itu pasti pernah khilaf. Pokoknya bantu aku jadi ibu yang baik buat anak-anak," ujar Syaqira sembari melepas rengkuhan Gus Ibra.

Gus Ibra menangkup kedua pipi Syaqira. Kepalanya mengangguk beberapa kali meyakinkan Syaqira.

"Bantu Mas juga, sayang. Tolong kalau sekiranya didikan Mas buat kalian terlalu kasar. Kita sama-sama berusaha jadi yang terbaik ya?" Ucap Gus Ibra yang diangguki oleh Syaqira.

"Qila sama Hapis pasti bangga punya Aba seperti Mas Ibra," ujar Syaqira berbisik tepat di depan wajah Gus Ibra.

"Mereka juga bangga punya Uma yang cantik dan pintar masak seperti kamu," ujar Gus Ibra sembari menjawil hidung kecil Syaqira.

Keduanya terkekeh pelan lalu saling berpelukan dengan sayang. Syaqira bahkan sudah berpindah pada pangkuan Gus Ibra. Kedua lengan Gus Ibra melingkar pada perut istrinya.

"Aku ngga akan lupa waktu di hukum sama kamu. Aku ngga akan lupa waktu aku kabur terus dimarahin sama kamu. Ngga akan lupa waktu manjat pohon buat tidur di kamar kamu. Aku bakal selalu inget apapun tentang aku, kamu sama pondok ini."

"Terimakasih ya Gus Ibra udah bimbing aku sampai sekarang. Terimakasih udah mau mencintai aku sama anak-anak—"

"Ira! Mereka anak Mas juga ya!" Bantah Gus Ibra sembari mencubit kedua sisi pinggang Syaqira yang membuat wanita itu terkekeh pelan.

"Tapi mirip aku semua," balas Syaqira yang membuat Gus Ibra gemas.

"Syaqila mirip sama Mas," jawab Gus Ibra tidak mau kalah.

"Ira. Harusnya Mas yang berterimakasih sama kamu. Terimakasih udah hadir di hidup Mas. Terimakasih udah melahirkan dua anak yang lucu-lucu disini. Mas, benar-benar bahagia hidup sama kamu," ucap Gus Ibra sembari mengecup kening serta ubun-ubun Syaqira dengan lembut.

"Mas jangan bosan-bosan sama aku. Karena aku lho kamu punya dua buntut yang lucu-lucu gitu," ujar Syaqira sembari menunjuk kedua anaknya yang tertidur di atas kasur mereka.

"Kapan Mas bilang bosan? Hm?" Syaqira tersenyum mengingat kegiatan suaminya yang hanya memujinya setiap hari.

Syaqira kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang Gus Ibra. Begitu pun Gus Ibra yang kembali merengkuh tubuh Syaqira dengan hangat. Pipinya ia tumpukan pada kepala Syaqira sembari sesekali ia kecup kepala itu lembut.

Gus Ibra juga tidak menyangka Syaqira lah yang akan menemaninya hingga tua. Yang akan menghabiskan masa tua bersama. Akan selalu bersama dikala suka dan duka. Sampai tua, Ira. Cintaku habis di kamu Hafizh dan Syaqila. 




























Thankyou all🥹💗

After MarriedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang