29

197 29 22
                                        

Hari sudah mulai beranjak senja namun Sohyun belum juga bisa menemukan jalan kembali dari hutan, langit yang seharusnya berwarna oranye tertutup oleh awan gelap. "Isshh.. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan." Gumam Sohyun.

Sohyun memperhatikan sekelilingnya, sebenarnya sejak tadi ia merasa sangat aneh, entah kenapa semakin ia masuk kedalam hutan Sohyun merasa hutan yang ia masuki menjadi semakin sunyi, seakan-akan hanya ia yang berada di dalam hutan itu, bahkan ia sama sekali tidak mendengar suara-suara binatang liar dan sampai detik ini Sohyun belum mendapatkan satupun hewan buruan.

Sohyun menghela nafasnya kasar, masih bersama dengan Badai, ia berhenti di pinggir sungai yang jernih lalu mengikat tali pelana Badai pada sebatang pohon dan ia duduk bersandar pada batang pohon hanya sekedar untuk beristirahat sebelum nantinya ia harus menyeberangi sungai ini kembali untuk kembali ke penginapan kerajaan. Sohyun sebenarnya sangat bingung seingatnya ia sudah menyeberangi sungai ini tadi namun entah kenapa ia justru kembali lagi kesini.

"Badai, apa kau lelah? Aku benar-benar sangat lelah.  Sepertinya hari ini langkah kakiku sudah lebih dari sepuluh ribu langkah." Keluh Sohyun, perlahan tapi pasti mata Sohyun mulai terpejam, sepertinya ia benar-benar kelelahan dan entah sudah berapa lama Sohyun tertidur hingga tiba-tiba suara petir yang menggelegar mengagetkan Sohyun.

Sohyun berjingkat, matanya terbelalak kaget karena suara petir, dan hal pertama yang ia sadari begitu membuka mata adalah keberadaan badai yang raib begitu saja dan juga air sungai yang tiba-tiba meluap dan berwarna keruh disertai arus yang deras.

"Badai!!!!" Sohyun berteriak memanggil badai ia menyusuri tepi sungai sembari terus meneriakan nama badai, namun ia sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda keberadaan badai. Rintik hujan yang perlahan turun membasahinya, dan perlahan rintik lembut itu berubah menjadi sangat deras bahkan kini juga disertai angin yang kencang.

"Apa badai sudah menyebrangi sungai?" Terka Sohyun bingung, ia masih berdiri di tepi sungai dengan badan yang basah kuyup. Sedari tadi ia terus menimang, apakah ia harus menyeberangi sungai sekarang? Sepertinya tidak mungkin, batin Sohyun. Menyeberangi sungai disaat arus sangat deras seperti ini, dan tubuh basah, menggigil kedinginan sepertinya adalah ide yang buruk. Sohyun berjalan guna mencari tempat berteduh dan tidak jauh dari sungai ada sebuah gua, maka tanpa pikir panjang Sohyun berteduh di dalam gua.

Sohyun menggigil kedinginan, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali duduk meringkuk sembari memegangi tubuhnya yang kedinginan, ia tidak bisa menyalakan api karena peralatanya ikut raib bersama dengan badai, hanya ada busur beserta anak panahnya dan ia tidak bisa menggunakanya untuk menyalakan api.

.

.

.

Entah sudah berapa lama, Sohyun berada di dalam gua, semuanya gelap gulita baik didalam maupun diluar gua, hal ini dikarenakan bulan yang tidak bersinar karena tertutup awan gelap. Jujur saja Sohyun mulai merasa ketakutan, namun ia coba menepisnya ia harus bertahan, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia pasti bisa melewati hal ini.

"Hyun!" Sohyun yang hampir tertidur didalam gua langsung terbangun begitu mendengar suara yang sangat familiar.

"Park Yoona." Sahut Sohyun tidak yakin. Sohyun berusaha meraih sosok yang ada dihadapanya dan Yoona yang menyadari hal itu langsung memegang tangan Sohyun yang terasa sangat dingin. "Kau kedinginan! Tunggu sebentar Hyun, aku akan menyalakan api."

Yoona membuat perapian di dalam gua, ia melihat wajah pucat Sohyun dengan bibir yang mulai membiru serta baju Sohyun yang setengah basah. "Bagaimana kau bisa disini?" Tanya Sohyun sembari mendekatkan dirinya di perapian.

"Aku disini karena aku mengkhawatirkanmu, bukankah sudah kubilang bahwa aku akan membantumu." Sohyun melihat kearah luar gua seolah ia mencari keberadaan seseorang.

Turn Back TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang