part 52

142 16 0
                                        

Selamat membaca
......

Pagi itu, kelas sangat berisik dengan tingkah polah para siswa yang masih menunggu jam pelajaran pertama dimulai. Waktu menunjukkan pukul delapan lewat, tetapi bayangan seseorang yang akan mengisi jam pelajaran fisika hari itu belum juga terlihat.

Di tengah hiruk pikuk kelas X IPS-1 yang dihuni beberapa siswa unggulan, terlihat seorang siswa yang tengah membaca buku dengan kacamata di tempat duduk paling belakang yang dekat dengan jendela. Ada beberapa teman temannya yang mendekati dirinya dibarisan yang ia duduki itu.

Sementara angin angin sepoi-sepoi dari celah jendela membelai wajahnya. Rambut coklatnya pun berantakan, karena angin yang berhembus dari jendela. Kemudian ia menyisir rambut coklat tebalnya dengan jari.

"Rai.. g-gimana kemaren? Ada perubahan nggak." Tanya Jimmy yang sedikit takut untuk mempertanyakan hal tersebut.

Kemudian remaja lelaki yang kini membaca buku menutup buku tersebut. Sambil membenarkan kacamatanya yang melorot itu.

Rai menghela nafas panjangnya. Kemudian ia menyusun buku buku yang telah ia baca.

"Ada." Jawab singkat seorang remaja lelaki tersebut, yaitu Rai. "Gua nggak terlalu terbayang sama wajahnya, sifatnya, kelakuannya, dan momen momennya bersama gua," sambungnya.

Mereka pun mengangguk kecil dengan penjelasan dari Raivaro tersebut. Mereka tak mau panjang lebar, takutnya membuat Rai risih dengan pertanyaan yang mereka ucapkan.

Flashback on...

"Hai Lulu Asdila Sadikara." Sapa Rai di batu nisan itu.

Sapaan Rai tidak dijawab, yah karna yang ia sapa adalah orang telah meninggal.

"Udah lama, yah? Aku nggak ke kubur kamu, tenang disana, ya," ucapnya sambil menaburkan bunga ke batu nisan Lulu sang mantannya tersebut.

Tak lupa Rai membaca doa untuk Lulu agar tenang di alam kubur.

"Aamiin." Selesai mendoakan, kemudian ia berduduk tegap.

"Lulu, aku cuman mau bilang, jangan mampir ke mimpi aku lagi, ya? Jangan membuat bayang bayang dipikiran aku. Izinkan aku untuk melupakan kamu, Lu."

"Aku juga pengen bahagia, Lu. Izinkan aku, Lulu. Aku ingin membuka hati aku untuk seseorang, setelah kamu tiada, hati aku selalu kamu tutup dengan bayang bayangan kamu."

"Kita juga sudah beda dunia. Jadi, aku akan menikmati di dunia ini, Lu. Tolong kamu perlahan menghilang dari ingatan dan pikiran aku. Aku pengen buka hati."

"Aku perlahan ikhlas dengan kepergian kamu, dan kamu juga harus ikhlas untuk lepas dari bayang bayangan kamu itu. Terima kasih sudah ada di hari hari ku, Lu."

"Hari ini, aku Raivaro Sky Hardan Revisan resmi melupakan kamu Lulu Asdila Sadikara. Selamat tinggal, tenang di alam sana yah, Lu."

Perkataan itu berhasil membuat air mata membasahi pipinya. Ia pun menghapus air mata tersebut, dan meninggalkan kuburan itu.

Flashback off ...

"Selamat pagi, anak anak!"

Suara sapaan serentak dari para siswa memaksa para geng Hamboys untuk kembali ke tempat duduknya semula dan bersiap untuk menerima pelajaran.

"Buka halaman empat puluh tiga!" Perintah guru biologi yang terlihat tua dibanding usianya yang masih berkisar tiga puluhan.

•••

Pilihan Aku [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang