part 44

192 17 0
                                        

Selamat membacaa
......

Hari hari mereka, penuh dengan canda, tawa, dan gembira. Apapun masalahnya, mereka terus menerus tidak mempermasalahkan hal seperti itu.

Pagi ini, Adalah pagi yang cerah. Terdapat remaja laki-laki baru saja terbangun. Ia pun turun kebawah untuk bertemu dengan keluarga Revisan.

"Selamat pagi kesayangan Raivaro."  Remaja itu pun mengucapkan selamat pagi kepada mereka.

"Pagi juga kesayangan mamih." Sahut flora yang tersenyum.

"Muachh." Rai pun mencium kening Flora dan pipinya. "Always cantik mamih, i love you mamih." Pujinya yang tersenyum.

"Makasih pujiannya Anak ganteng." Balas Flora dengan mengedipkan satu matanya.

"Mana morning kiss nya mamih? Masa morning kiss Abang ga dibales sih." Cibir Rai dengan memanyunkan bibirnya.

Flora pun mencium pipinya Raivaro seketika. Perbuatan itu yang membuat Rai sangat salah tingkah.

"Ishh, jede kok ga di kasih morning kiss sama Aban!." Kesal Jeane yang melipat kedua tangannya.

"Utututu, sini sini." Rai pun mendekati Jeane, "Muachh, udah kan? Udah jangan marah lagi adik abangg, nanti cantiknya hilang." Puji nya.

"Kebanyakan morning kiss, ayo sarapan, biar bisa berangkat sekolah." Ucap Valdo.

"Ayay kapten." Kompak mereka berdua.

Akhirnya mereka pun menuju meja makan untuk sarapan.

Setelah sarapan, mereka bersiap siap untuk berangkat ke sekolah. Tetapi, mereka sangat sibuk untuk mencari kelengkapan sekolah, ada saja kelakuan mereka disaat bersiap siap.

"MAMIHH, KAOS KAKI ABANG HILANG, YANG WARNA HITAM MAMIH!!." Teriak Rai yang tengah mencari cari kaos kaki kesayangannya itu.

"Astaga, baru aja selesai makan. Piring nya pun belum ke angkat, ada aja gebrakannya." Kesal Flora yang menggelengkan kepalanya.

"Hahaha, udah biasa itu. Adat istiadat keluarga Revisan." Tawa tipis Valdo sambil meminum kopi.

"Anak kamu tuh mas, plek ketiplek kelakuannya mirip kamu. Udah wajah, kelakuan lagi." Ucap Flora yang memegang kepalanya.

"Dih, anak sendiri ga dianggap. Parah sih, tuh dua anak kamu saling berteriak. Turun tangan sang ketua nih." Tengil valdo sambil menaik turunkan alisnya.

"MAMIHH, SEPATU KESAYANGAN JEDE HILANG MAMIHH." Tak kalah teriak juga. Ternyata Jeane kehilangan sepatunya.

Flora pun sudah sakit kepalanya. Ia pun melemparkan kaos kaki beserta sepatu yang mereka cari cari.

Mereka berdua pun menatap Flora yang berdiri dihadapan mereka. "Hehe, siap salah mamih." Kompaknya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Udah dramanya? Mamih udah cape yah dengan kelakuan kalian! Udah cepat berangkat sekarang! Mamih ga mau denger ocehan kalian." Sebal Flora sambil menyilang tangannya.

"Hehe iya mamih, Salim dulu." Rai pun bersalaman dengan flora sambil tersenyum lebar.

"Iya mamih, salim sama mamih paling cantik hehe." Nyengir lebar Jeane sambil menyalami tangan ibunya.

"Ets, bentar jede, ada yang kurang?." Kata Rai yang menghentikan jalannya Jeane.

"OH YA, LUPA UANG JAJAN, PAPAH JATAH KAMI MANA." Kompak mereka sambil berlari menuju Valdo.

"Nasib nasib, kenapa mereka ga lupa aja sih! Ribet banget." Pasrah Valdo yang mengambil dompetnya.

"Rasain kamu mas, gitu aja kamu ngeluh." Ejek Flora sambil menjulurkan lidahnya.

Pilihan Aku [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang