Selamat membaca..
....
Matahari bersinar terik di langit biru yang nyaris tanpa awan. Suasana siang hari terasa begitu hangat, bahkan panas menyengat di permukaan kulit. Jalanan tampak lengang, hanya sesekali terdengar deru kendaraan yang melintas tergesa. Pepohonan di pinggir jalan berdiri diam, daunnya bergoyang ringan ditiup angin yang sejuk meski tipis. Di kejauhan, suara burung-burung terdengar samar, seolah ikut berlindung dari sengatan matahari. Waktu berjalan lambat, dan udara siang membawa rasa kantuk yang memeluk perlahan.
"Raivaroo!! Tolongin mamih angkat galon, pak satpam gak ada bang!" Pekik Flora yang memanggil.
"Bentar mamih, lagi main gamee!" Jawab Rai yang berteriak juga, ia malah asik memainkan game online yang berada di handphone tersebut.
"Ayo nak, mbok sama mamih mau masakk!"
"Ck." Decak Rai. "Sebentar dong mamih, ini game gak bisa di pause." Jawab Rai dengan nada membentak.
Flora hanya menggelengkan kepalanya, dia tak bisa berkata kata lagi, memang keras kepalanya Rai menurun kepada Valdo. Membuatnya sudah terbiasa seperti itu.
"RAIVARO SKY HARDAN REVISAN!!" Teriakan maut itu membuat Raivaro tersebut, bukan hanya Rai, bahkan semua orang rumah pun terkejut karena teriakan dari Revaldo itu.
Sontak Rai langsung mematikan handphonenya dan berlari ke arah Flora untuk membantu mengangkat galon yang disuruh Flora tadi.
Semakin mendekatkan Valdo ke arah Rai, membuat Rai berkeringat berlebihan, karena ia ketakutan jika papahnya berteriak seperti itu.
"Ini mamih, ada lagi? Mungkin Rai bisa bantu mamih masak? Atau bagaimana, bilang sama Rai mamih." Ucap Rai yang bergetar, dan menanyakan bertubi-tubi oleh Flora agar tidak dimarahi oleh Valdo itu.
Flora langsung saja tersenyum, dan menggelengkan kepalanya berkali-kali, "gak ada lagi, Rai. Mamih cuman minta bantu angkat galon aja, sana gih main lagi." Jawab Flora yang lembut.
Datangnya Valdo langsung menyeret kerah baju Rai dan menarik ke arah keluar dari dapur itu.
"Eeh eehh, pah lepasin! Rai mau jatuh."
"Gak peduli."
Valdo langsung mendorong Rai ke arah sofa, membuat Rai terduduk disofa tersebut.
"Kamu berani yah sama mamih bentak bentak begitu hah! Hebat kamu?"
Bentakan itu membuat Raivaro menundukkan kepalanya, dan tak berani menatap mata papahnya yang kini menatap tajam kepada Rai itu.
"Memangnya kamu siapa? Papah suami mamih aja gak pernah membentak mamih. Kamu? Hanya sekedar anak saja sudah seperti ini? Durhaka kamu sama mamih!"
Raivaro hanya mendengar ceramah dari papannya itu, ia tak mau menjawab, karena nantinya akan dilanjutkan oleh papanya tersebut.
"Iya pah, Rai salah, Rai minta maaf." Sahut Rai yang bernada lemas itu.
"Ngapain minta maaf sama papah? Minta maaf sama mamih kamu, berani berbuat berani bertanggung jawab."
Rai pun mengangguk paham, kemudian ia berdiri dan berjalan menuju Flora yang kini sedang masak.
"Mamih.... Rai minta maaf mamih karena menjawab mamih pake nada bentak. Rai minta maaf." Ucap Rai yang meminta maaf kepada mamihnya sambil bertunduk dihadapan Flora.
Membuat Flora terkejut, karena Rai bertunduk dihadapannya, sontak dia langsung menyuruh Rai untuk berdiri.
"Hey hey, anak mamih. Iyaa mamih udah maafin kok, ayo bangun ih. Nanti kena air panas." Jawab lembut Flora kepada Rai, dan menyuruh Rai untuk berdiri agar tidak terkena air panas yang sedang dia rebus itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Aku [End]
Romance(End) "Cinta itu seperti angin, kamu tidak bisa melihatnya tapi kamu bisa merasakannya."
![Pilihan Aku [End]](https://img.wattpad.com/cover/362503319-64-k214331.jpg)