WHAT IF

10 2 0
                                        


Fathan dan Caca tengah berseteru akibat kesalahpahaman diantara mereka.

Keduanya kini tengah berdebat di teras rumah Caca.

"Masa iya kaya gitu, ga semuanya sesuai yang kamu pikirin ca" ucap Fathan.

"Terserah kakak deh" ucap Caca setelah itu beranjak pergi meninggalkan Fathan yang masih terdiam.

Bantingan pintu kamar yang keras membuat fathan berdiri dan menyusul kekamar Caca.

"Caa buka pintunya dulu sebentar" ucap Fathan dengan mata yang memburam.

Suara Isak tangis Caca terdengar dari dalam yang membuat Fathan semakin merasa bersalah.

"Maaf ca" ucap Fathan berulang ulang sampai dadanya sakit dan Fathan pun batuk darah.

"Ini kenapa?" Gumamnya melihat darah di tangannya.

"Ca.. maaf" ucap Fathan sekali lagi lalu ia tergeletak lemas tak berdaya.

Memegangi dada dan kepalanya yang sangat menyakitinya.

Caca masih menangis, satu jam berlalu ia tak mendengar suara Fathan sama sekali.

"Kak Fathan pulang? Apa dia ga sayang sama aku?" Gumamnya.

Menaruh guling yang suda basah karena tangisannya, ia beranjak menuju pintu kamarnya.

"Ceklek" suara gagang pintu terbuka.

Caca terbelalak terkejut melihat Fathan yang suda tergeletak da berdarah.

"KAK FATHAN!" teriaknya khawatir dan menangis.

Skipp

Semua anak garnets,anggota keluarga fathan dan Caca menunggu didepan ruangan IGD.

Caca yang masih menangis sembari memeluk jaket Fathan.

Tidak ada yang bisa menenangkan Caca selain Fathan, ia hanya ingin meminta maaf pada Fathan karena kejadian dirumah.

Tak lama dokter keluar, ekspresi yang tidak dapat ditebak dari dokter itu.

"Mohon maaf, kami suda berusaha. Pasien tidak dapat diselamatkan karena kanker paru-paru dan tumor di otaknya" ucap dokter.

Bagaikan disambar petir, Caca menangis sejadi-jadinya. Ucapan yang tidak ingin didengar oleh Caca membuat dirinya pingsan.

Hai ca, maaf aku harus pergi duluan. Kamu harus bisa menggapai cita-cita kamu ya, maaf aku gabisa menemani kamu.

Kita ketemu diakhirat nanti yaa, maaf ca atas semua kesalahan aku. Aku minta maaf.

Kamu relain aku ya? Biar kamu bisa bahagia tanpa bayang-bayang aku, aku sayang banget sama kamu ca. Sangat sangat mencintai kamu.

Aku tetap memperhatikan kamu kok, oiya jangan lupa untuk makan es krim kesukaan kamu di kulkas ya, takutnya nanti jamuran.

Selamat malam dan selamat tidur ya, mungkin ini terakhir kalinya kamu denger aku mengucapkan kata ini.

Selamat tinggal, aku pamit. I love you in every universe.

Caca terbangun berteriak mencari Fathan, ia baru saja mendengar kata-kata Fathan.

"Ca.. Fathan udah engga ada" ucap ridhwan sembari menahan tangisnya.

"Engga, engga mungkin. Ini semua cuma prank kan? Gamungkin. Aku gamau kehilangan kak Fathan" ucapnya sembari menangis.

Ridhwan terdiam, ia sangat sedih karena sahabatnya meninggalkan dirinya.

"GARNETS ga akan hidup tanpa Lo than" ucap ridhwan.

"Gue harus apa sekarang? Gue kehilangan sahabat, saudara bahkan keluarga gue. Lo satu-satunya orang yang bisa nebak semua pikiran gue" ucap ridhwan.

/////

Keesokan harinya Fathan di makamkan, Caca menangis tak kuasa menahan tangisnya.

Semua anak garnets tidak ada yang tidak menangis, semuanya bahkan yang tidak dekat pun menangis.

Dia adalah kakak, Abang, panutan, bahkan sosok pemimpin didalam garnets.

Selamat jalan Fathaniel, tenang disana. Kita menyayangi Lo.

Penghormatan terakhir dari anak garnets kepada Fathan.

"Selamat tinggal, wakil ketua GARNETS" ucap semuanya serempak.

"GARNETS! BERDOA DIMULAI" ucap babas, untuk pertama kalinya babas mengucapkan kata yang biasa di sebut oleh Fathan.

Caca yang masih terduduk lemas disamping batu nisan bertuliskan nama Fathan.

"I love you more kak" ucapnya pelan sembari mengelus batu nisan itu.

Alternatif saja ini, CHATAN berakhir bahagia.

Saya pamit kedua kalinya hehehe

CATHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang