22

148 18 4
                                        

Dalam beberapa hari ini, perasaannya yang bahkan belum sempat diutarakan sama sekali telah ditolak mentah-mentah, hanya bisa terdampar di atas kasurnya.

Anak gemuk yang baru merasakan cinta itu kini tengah merana.

Tanpa sepengetahuan orang rumah, Hyungseok akan menangis sampai kelelahan sampai tertidur.

Ibu Park dan Ayah Park menyadari kegelisahan putra bungsunya, namun tidak bisa melakukan banyak hal untuk membantu kesedihan di hatinya. Hanya bisa memberinya waktu untuk memulihkan diri, setidaknya memberikan waktu untuknya Hyungseok tenang.

Ayah Park baru pulang dari medan perang dan belum bisa berbaur dengan alami di keluarganya. Tubuh dan mentalnya masih harus beradaptasi dengan lingkungan yang damai. Namun melihat anak bungsunya sedang sedih, dia selalu teringat dengan kejadian di masa lalu.

Bukan cuman Hyungseok yang punya kecenderungan mengalami trauma, Park Jinyoung juga sama, dia selalu takut dan bahkan sering bermimpi buruk tentang kejadian kala itu, hingga membuatnya sangat jelas lebih memanjakan Hyungseok dibandingkan Daniel.

Ibu Park dan Daniel tidak masalah dengan kecenderungan tersebut, terutama Daniel. Semua orang paham dan menerimanya karena keduanya sama-sama punya kenanga buruk tersebut di dalam hati mereka. Hal ini juga akan meringankan perasaan mereka sendiri.

Melihat putra bungsunya sedih, Ayah Park selalu diam-diam datang di tengah malah dan akan tinggal sebentar di samping tempat tidur, melihat Hyungseok yang tertidur yang selalu berwajah sembab.

Jika ada yang bisa dia lakukan, Ayah Park akan memberikan semuanya yang dia punya untuk anak-anak nya, terutama Hyungseok.

Hyungseok tidak mengetahui bahwa rasa sedihnya karena ditolak membawa kekhawatiran semua orang di keluarga.

Sifatnya yang selalu riang, lebih pendiam di banding sebelumnya. Melihat makanan di atas meja, Hyungseok tidak berselera menghabiskannya. Padahal hal yang membuatnya bahagia adalah masakan buatan ibunya.

Memikirkan perkataan Jihoon, Hyungseok memiliki pemikiran yang belum pernah dia pikirkan sebelumnya. Tapi memilih bungkam dan tidak mengatakannya pada orang tuanya dan berangkat ke sekolah seperti biasanya. Yang berbeda adalah, tidak ada senyuman di wajah manisnya.

Membuat tubuh gemuk nya perlahan kehilangan sinar.

Hyungseok tidak menemui Jihoon seperti biasanya, untuk sekedar mengintip atau memberinya makanan ringan. Dia juga tidak bersosialisasi dengan teman sekelasnya atau sekedar menanyakan soal pelajaran.

Perubahannya pun tidak membuat orang-orang disekitarnya menyadarinya karena memang Hyungseok tidak terlalu akrab dengan teman sekelasnya.

Jiho yang biasanya menjadi teman sekelas yang akrab juga perlahan menjauh. Dia terlihat dalam suasana hati yang cukup baik dan mengobrol dengan teman-teman lainnya sambil memperlihatkan jam tangan barunya yang dia beli kemarin.

Terkadang ekor matanya akan melirik ke arah meja Hyungseok dengan wajah sombong dan mendengus senang melihat kesuraman dalam diri Hyungseok.

Karena dari awal, anak berkacamata tersebut tidak benar-benar ingin berteman dengan Hyungseok yang bahkan menurutnya dia lebih baik dari segi penampilan dan punya lebih banyak teman dibanding dirinya.

Hyungseok mengeratkan kepalan tangannya di atas pahanya. Dia bukan orang yang bodoh sampai tidak memahami bagaimana cara pandang semua orang padanya. Bahkan sebelum Janghyun menjauhinya, mereka selalu memandang dirinya dari atas ke bawah dengan tatapan mengejek dan menghina.

Hanya karena dirinya dekat dengan Janghyun dan adik kembar Daniel, tidak ada yang berani mengatakannya secara gamblang kepadanya.

Dia tahu, tubuh gemuknya sangat jelek di mata mereka. Mengganggu pemandangan mereka dan selalu memberinya wajah mengejek. Bahkan Jiho, satu-satunya teman kelas yang mau mengajaknya bicara pun diam-diam menghinanya di belakangnya.

𝐖𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐭𝐚𝐦𝐮 [𝐇𝐲𝐮𝐧𝐠𝐬𝐞𝐨𝐤]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang