24

157 14 27
                                        

Koridor itu semakin lenggang dan tidak ada murid-murid yang memenuhinya. Waktu pelajaran sebentar lagi akan tiba dan kebanyakan dari mereka sudah ada di kelasnya masing-masing.

Hanya segelintir murid, termasuk Hyungseok yang berlari dengan panik menyusuri koridor tersebut.

Namun kakinya pendek, dia tidak bisa berlari lebih cepat dibanding Janghyun yang menyusul di belakang.

Kecepatan mereka yang berbanding terbalik membuat Janghyun berhasil mengejar Hyungseok.

Menarik lengannya dan membalikan tubuhnya agar menghadap ke arahnya.

Hyungseok terkejut karena tubuhnya tiba-tiba ditarik, tapi tidak terkejut begitu melihat siapa yang menariknya. Namun ada kekecewaan di matanya saat melihat raut panik Janghyun di sana.

"Hyungseok, dengarkan aku dulu."

Hyungseok: "Gak usah."

Janghyun: "Aku gak bermaksud apa-apa. Aku dengan Jihoon, kami hanya teman, sebenarnya—"

Hyungseok memotong dengan kecewa: "Kenapa kamu gak bilang sebelumnya kalau kamu kenal dia selama ini?"

Hyungseok mengenal Janghyun cukup baik. Meski dia berinteraksi dengan banyak orang, selalu ada dinding tak kasat mata yang membelah dirinya dengan banyak orang. Sikapnya seperti itu tidak terlihat di depan Jihoon.

Mengingat bagaimana Jihoon berinteraksi dengan orang-orang lainnya ketika dia menjauhinya tempo hari, meski Hyungseok bersedih, dia masih melihat tembok tak kasat mata tersebut. Namun tidak ketika dia berhadapan dengan Jihoon.

Ada semacam rasa akrab di wajahnya saat berinteraksi dengannya, yang membuatnya langsung menebak bahwa hubungan keduanya cukup baik dan sudah saling kenal sejak lama.

Hyungseok semakin ragu dan kecewa ketika kepanikan Janghyun saat menjelaskannya.

Sudah jelas, dia sengaja menyembunyikan ini darinya. Hyungseok menunggu apa yang ingin dia katakan.

Janghyun melihat reaksi tersebut, terdiam sejenak, lalu mendesah panjang. Tangan yang memegang pergelangan tangannya, dia menyadari perbedaan dibanding sebelumnya.

Hyungseok benar-benar berhasil melakukan diet dan sekarang terlihat berbeda. Namun mata rusa yang tertutup poni tidak pernah berubah, selalu bersinar dengan caranya sendiri. Akan tetapi sekarang sedang memandangnya dengan sedih.

Janghyun menjelaskan: "Aku sebenarnya udah kenal dia bahkan sebelum kamu mengenalnya." Jeda, dia melihat dengan gugup Hyungseok, lalu cepat-cepat: "Tapi aku gak bermaksud gak bilang. Aku lupa dan aku gak yakin apa orang yang kamu bicarakan dengan orang yang aku kenal itu sama."

Hyungseok yang mendengarnya: "....."

Janghyun kembali menjelaskan: "Sebelumnya kupikir mereka hanya punya nama yang sama, aku gak terlalu mikirin apakah mereka juga orang yang sama. Tapi ketika aku ketemu Jihoon beberapa hari yang lalu, aku pun baru tau kalau dia ternyata kakak kelas yang kamu sukai itu."

Hyungseok masih merasa bahwa ada sesuatu di antara mereka berdua yang tidak dijelaskan oleh Janghyun. Meski dia sedikit lega setelah mendengar penjelasannya, tapi tetap saja hatinya terasa resah.

Hyungseok tanpa sadar meninggikan intonasinya: "Terus kenapa kamu gak langsung bilang sama aku dan malah—" Dia enggan mengatakan bahwa keduanya malah terlihat akur dan—meski merasa tidak nyaman mengatakannya, tapi mereka berdua terlihat serasi.

Meski dia berusaha melupakan kenangan menyakitkan itu, anak manis yang baru merasakan cinta pertamanya, tetap tidak bisa melupakan sensasi ketika dia jatuh cinta.

𝐖𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐭𝐚𝐦𝐮 [𝐇𝐲𝐮𝐧𝐠𝐬𝐞𝐨𝐤]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang