13

174 16 1
                                        

Masa SMP mereka telah tiba. Ketiganya masih satu sekolah seperti biasanya. Hanya saja, Daniel agak menjauh dan sering berkumpul dengan teman-teman barunya yang terlihat sefrekuensi.

Hyungseok tidak mempermasalahkan Daniel berteman dengan siapa saja. Malahan dia senang sekali. Sebelumnya, kakak kembarnya itu tidak memiliki teman yang benar-benar ingin berteman dengannya. Mengingat bagaimana tabiat Daniel selama ini. Asyik berada di sisinya seperti bodyguard dan cenderung abai terhadap orang lain.

Mungkin karena Hyungseok sudah punya Janghyun sebagai sahabat, kewaspadaan Daniel perlahan menurun lalu bertemu dengan orang-orang baru yang memahami dirinya.

Janghyun merasa senang juga tidak ada Daniel di sekitar Hyungseok selama 24 jam sehari seperti biasanya.

Hyungseok juga senang bahwa Janghyun selalu ada di sisinya meskipun dia populer di kalangan para murid. Selain karena prestasinya yang lumayan, paras rupawannya sangat memikat banyak orang.

Terkadang dirinya berpikir, kenapa Janghyun tetap mau berteman dengannya yang gemuk dan jelek dibanding mereka yang lebih rupawan darinya.

Tak terasa, mereka beranjak jadi murid kelas 2.

"Janghyun, selamat pagi~"

"Pagi."

"Kyaa~ Dia ganteng banget~"

Sapaan seperti itu sudah biasa dilontarkan pada Janghyun setiap hari. Bagaimana mereka terlihat mengagumi sosok temannya itu dan diam-diam merasa tertarik untuk diajak berpacaran.

"Janghyun populer seperti biasanya, ya." Celetuk Hyungseok setelah berjalan ke arah kiri.

Janghyun yang tersenyum ramah seperti biasanya mendadak menatap Hyungseok tidak percaya. Matanya nampak tidak nyaman lalu menunduk ke depan wajahnya.

"Kamu gak suka..?"

"Eh? Apa maksud–" Ucapannya langsung terhenti begitu sadar wajahnya begitu dekat dengan Janghyun. Reflek mundur satu langkah dan berhenti melangkah.

Janghyun melihat reaksi Hyungseok demikian dan memilih memalingkan wajahnya.

"Ah, aku gak bilang gak suka, kok. Janghyun kan keren, tampan, pinter juga, pantes kan banyak orang yang suka. Aku cuman, senang aja Janghyun disukai banyak orang.." Terang Hyungseok gelagapan namun akhirnya kembali tenang dengan senyuman tipis.

"Oh.., begitu ya?"

Reflek menggaruk pipinya dengan telunjuk, Janghyun tidak bisa untuk tidak merona tipis saat melihat senyuman yang begitu manis di depannya. Merasa lega juga karena tebakan liarnya tadi tidaklah benar. Namun begitu Hyungseok kembali berucap, Janghyun mendadak terdiam.

"Aku penasaran, kenapa Janghyun tetap mau berteman denganku dibanding mereka? Mereka kan lebih cantik dan tampan dibanding aku yang...kayak babi ini..."

Mendadak atmosfir berubah dingin.

Tidak ada balasan dari Janghyun dan membuat Hyungseok jadi menunduk dalam. Merasa menyesal kenapa dia tiba-tiba berucap demikian dan membuat suasana jadi tidak enak. Namun hatinya jadi terasa sakit karena tebakan di kepalanya tentang Janghyun yang terpaksa berteman dengannya menjadi benar. Jika sudah begini, mungkin Janghyun akan pergi dan tidak mau berteman dengan—

"Ah! Janghyun..??"

Tidak menduga, Janghyun menarik lengannya dan pergi menjauh dari kelas.

Satu sudut tempat di bawah tangga Janghyun arahkan. Mendorongnya ke depan dinding dan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Hyungseok.

Wajahnya nampak serius tanpa senyuman seperti biasanya. Pemuda Park nyaris menelan ludah susah payah melihat sisi lain Janghyun yang seperti ini.

Tatapannya tajam namun bukan berarti ada rasa benci di sana. Rasa tidak suka dan tidak terima ia rasakan setelah mendengar kalimat tidak masuk akal yang dilontarkan Hyungseok tadi.

𝐖𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐭𝐚𝐦𝐮 [𝐇𝐲𝐮𝐧𝐠𝐬𝐞𝐨𝐤]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang