21

149 18 6
                                        

Lee Jihoon menatap malas ke arah mereka yang terkapar di bawahnya. Pakaiannya agak berdebu, menepuk-nepuk bagian tersebut dengan tak puas. Ketika hendak pergi, seseorang dengan suara lemah terdengar di belakangnya.

"Tunggu..!"

Dia pun menoleh dan menemukan anak gemuk yang babak belur. Alisnya mengernyit tidak senang. "Apa?"

Hyungseok gugup, melihat wajahnya ketika berbalik, dia semakin terpesona hingga wajahnya merah. "Ah, eum, makasih....udah nolongin aku."

Jihoon semakin mengernyit: "Hah?"

Dia jelas tidak mengerti maksud anak gemuk ini. Dia hanya tidak sengaja bertemu anak-anak ingusan ini ketika melewati tembok seperti biasanya, dan menghajar mereka karena mengganggu pemandangan. Tapi, dia tidak menyangka secara tidak sengaja menyelematkan orang yang dibully.

Berdecak, Jihoon tidak ingin berbicara dengannya. Jadi berbalik kembali dan hendak pergi. Tapi Hyungseok sekali lagi menahannya.

"Anu, boleh aku tau namamu?"

Jihoon berhenti, lalu menoleh dengan malas. Mendengus dingin, dia sama sekali tidak ingin menyebutkan namanya ke sembarangan orang. Apalagi anak gemuk yang mudah ditindas ini.

Sama sekali tidak berguna.

Tapi entah kenapa, dia tetap menjawabnya: "Jihoon." Lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Mendengar namanya, mata Hyungseok berbinar cerah. Menggumamkan nama orang itu dan merasakan jantung nya berdetak keras.

"....Jihoon."

Hyungseok akan mengingat nama ini. Rasanya, tubuhnya ikut bergetar bersama jantungnya. Dia hanya mengira itu reflek dari kegembiraan karena menemukan seseorang yang mau membantunya. Namun nyatanya, efek psikologis yang terjadi barusan karena trauma masa kecil, menjadikan kesadarannya menipis.

Anak gemuk itu pun jatuh dan tak sadarkan diri.

Yang dia lihat pertama kalinya ketika bangun adalah, langit-langit di rumah sakit, bau disinfektan yang kentara, dan warna putih mendominasi.

Ternyata, Jay tetap menjemputnya dan membawanya ke rumah sakit.

Tapi Hyungseok hanya bisa menemukan Daniel, Ibu Park, dan Ayah Park yang menunjukkan kekhawatiran yang kentara. Setelah mengetahuinya dari Jay, ketiganya langsung bergegas ke rumah sakit tanpa peduli dengan kesibukan mereka masing-masing.

Melihat Hyungseok luka-luka di sekujur tubuhnya serta wajahnya, hati mereka semua tidak tenang dan gelisah. Ibu Park menangis dan Ayah Park menahan amarah sambil menenangkan istrinya.

Daniel juga marah besar, tapi dia lebih menyesal karena tidak bisa bersamanya ketika bahaya datang.

Saat Hyungseok bangun, ketiga anggota keluarga itu buru-buru mendatangi ranjang pesakitan dan membombardir dengan segudang pertanyaan. Menanyakan kondisinya, siapa yang memukulnya, apa ada yang terasa tidak nyaman di tubuhnya. Hal-hal itu, membuat anak gemuk yang baru bangun itu seketika linglung.

Daniel mendapati adiknya kebingungan dan mendorong kedua orang tuanya untuk tidak bertanya terlalu banyak. Keduanya mengerti dan diam sejenak.

Daniel menceritakan bahwa Jay menelepon mereka dan mengatakan bahwa kamu pingsan di sebuah tempat sendirian dengan kondisi babak belur.

Ia ingin mengatakan juga bahwa Jay terlihat sangat bersalah karena selangkah lebih lambat dan menyebabkan masalah menimpa Hyungseok, tapi tidak jadi mengatakannya. Lagipula, ini semua bukan salah dia. Pemuda Hong sudah berusaha untuk menuruti egonya untuk mengantar pulang adiknya dan kali ini bukan sengaja kecolongan.

𝐖𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐭𝐚𝐦𝐮 [𝐇𝐲𝐮𝐧𝐠𝐬𝐞𝐨𝐤]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang