Hari ini adalah akhir pekan.
Hyungseok tidak punya semangat selama beberapa hari ini. Ketika semua orang mencacinya, dia tidak bisa istirahat dengan baik dan wajahnya menjadi kuyu.
Bisa dilihat bahwa tubuhnya semakin kurus dan tidak sehat.
Anak manis itu menjadi khawatir dengan kesehatannya dan memilih menghidup udara segar sejenak. Waktu masih pagi, dia ingin berjalan-jalan sebentar di sekitar area perumahan nya.
Ketika melewati dapur, dia menemukan ibunya di sana. Tidak ingin membuatnya khawatir, Hyungseok tidak pernah menceritakannya pada kedua orang tuanya. Dia menyapa sebentar kemudian berjalan ke arah pintu.
Hal pertama yang dia lihat ketika keluar dari rumahnya adalah.....
Janghyun.
"....."
Hyungseok tanpa sadar mengeratkan tangannya di handel pintu. Reflek kembali menutup pintu, tangan Janghyun lebih dulu menahannya.
"Ayo kita bicara."
Hyungseok mendengus, merasa lucu. Wajah kuyu nya menjadi tegang ketika emosi mengenainya, membuat matanya yang lelah memunculkan akar merah di bagian matanya yang putih.
Setelah dirinya berjuang seorang diri di kamarnya yang gelap selama beberapa hari karena kesalahpahaman semua orang setelah postingan Janghyun, orang bersangkutan baru datang setelah situasi agak mereda.
Melihat wajah menyesal Janghyun, entah kenapa tidak membuatnya membangkitkan perasaan apa-apa.
Hyungseok tidak pernah merasakan reaksi seperti ini setiap kali berhadapan dengan Janghyun sebelumnya.
Setiap kali teman baiknya ini melakukan kesalahan, Hyungseok tidak pernah semarah ini. Dalam periode waktu ini, Janghyun selalu membuatnya marah dan kecewa, yang mungkin memberinya ilusi mati rasa dan kelelahan.
Hanya karena satu orang yang mendadak datang di tengah-tengah hubungan keduanya, Hyungseok mulai meragukan kesetiaan dalam persahabatan mereka berdua.
Janghyun merasa gelisah ketika Hyungseok tidak kunjung mengatakan apa-apa. Mendorong pintu agak lebar yang akhirnya melihat kekacauan di tubuh Hyungseok.
Seketika membeku.
Lalu, "Hyungseok, kenapa kamu jadi kayak gini?" Meraih kedua sisi tubuhnya dan melihat kondisi Hyungseok yang menyedihkan.
Ada semacam perasaan aneh di hatinya. Janghyun menyadari bahwa perbuatannya selama ini membuat teman kecilnya ini menjadi seperti ini.
Tubuhnya yang kurus menjadi layu dan kulitnya yang seputih susu menjadi pucat tanpa sinar lembut yang biasa memancar di tubuhnya.
Apa perbuatannya terlalu berlebihan?
"Hyungseok, aku—"
Tanpa ingin mendengar omongannya lagi, Hyungseok mundur dua langkah yang membuat tangan di kedua sisinya terlepas.
Ada keheningan di sana yang membuat suasana di antara mereka semakin stagnan.
Hyungseok tidak perduli lagi apakah ibunya akan mendengarnya atau tidak, emosinya yang selama ini tertahan dan terasa sakit, membuat nada bicaranya terdengar serak.
"Aku ingin sendirian, bisa gak, kamu menjauh dariku sejenak?"
Mendengar suara serak dan raut kekecewaan di wajahnya, Janghyun akhirnya tahu bahwa dia memang terlalu berlebihan. Ketika pintu tertutup, dia ingin meraih kembali Hyungseok.
Menahan pintu dan mencekal pergelangan tangan Hyungseok yang tipis. "Hyungseok, apa aku harus putus dengan Jihoon? Biar keadaan kembali lagi kayak dulu. Aku bisa memutuskannya, jadi, Hyungseok, aku—"
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐖𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐭𝐚𝐦𝐮 [𝐇𝐲𝐮𝐧𝐠𝐬𝐞𝐨𝐤]
Fiksi PenggemarCover & art, story by Virgoeminie BL, fanfiction, School Life, Transmigrasi-Reinkarnasi Hyungseok Harem (?) Sinopsis: Setelah kematiannya, Vino Kim masuk ke dalam tubuh Park Hyungseok yang berperan sebagai karakter antagonis dalam cerita AU Jihoon d...
![𝐖𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐭𝐚𝐦𝐮 [𝐇𝐲𝐮𝐧𝐠𝐬𝐞𝐨𝐤]](https://img.wattpad.com/cover/333206669-64-k193144.jpg)