Hyungseok menyadari bahwa kata-katanya barusan tidak benar dan segera mengoreksinya sambil tergagap.
"A-aku, maksudku, aku tentu menyukaimu sebagai temanku. Hahaha...." Hyungseok reflek tertawa garing.
Dia benar-benar salah bicara barusan dan tanpa sengaja mengeluarkan isi hatinya sendiri sebagai seorang fanboy. Jika kakaknya mendengar apa yang dia ucapkan barusan, entah apa yang akan dia lakukan karena kecewa padanya sebab mengira dirinya punya perasaan dengan pacarnya (Jay).
Ia berusaha bersikap biasa tanpa menyadari raut wajah Jay berubah. Ada keheningan, pemuda pirang itu pada akhirnya hanya terkekeh dan tersenyum.
Mengusap lembut surai gelap Hyungseok. Pipi berisi itu merona di bawah sinar matahari yang menembus dari sela-sela dedaunan pohon.
Bagi Jay, ini sudah cukup.
Setidaknya, dia tahu bahwa kekhawatiran nya barusan tidak perlu. Walaupun suatu hari, pemuda manis ini menyukai seseorang di masa depan selain padanya, Jay akan.....
Pemikirannya barusan hanyalah sepintas, merasa lucu hingga kembali terkekeh, namun bukan berarti pemikiran tersebut tidak bisa direalisasikan.
Hyungseok mendengar kekehan pelan tersebut dan mendongak. Kemudian bernapas lega. Sepertinya Jay tidak lagi merasa gelisah dan kembali ceria seperti biasanya.
Untung saja keputusannya mengikuti Jay adalah benar. Kalau tidak, Jay mungkin masih kepikiran sampai sekarang dan hubungannya dengan Daniel tidak kunjung membaik.
'Aku bangga sama diriku sendiri. Inilah gunanya fans.'
Hyungseok ikut terkekeh dan keduanya saling memandang tersenyum.
"....."
"Kamu ingin mengantarku pulang?"
Jay mengangguk.
"Itu...." Hyungseok mendadak merasa malas jika harus naik angkutan umum. "....ide yang bagus. Ayo!"
•••
Janghyun sudah tidak bersekolah selama beberapa hari. Selama beberapa hari ini pula dia sengaja mematikan ponselnya dan menutup dirinya. Setelah pulang dari pemakanan, ia hanya berdiam diri di apartemennya dalam diam.
Memanfaatkan kesendirian di apartemen yang gelap dan dingin, ia diam-diam memetakan pikirannya baik-baik. Memikirkannya dalam-dalam tentang bagaimana isi hatinya seharusnya berjalan.
Pandangannya datar ke depan, ada televisi yang menampilkan sebuah variety show terkenal yang tidak dia ketahui apa itu. Terlihat fokus menonton, nyatanya dia tengah melamun tanpa ingin menyerap konten di depannya.
Butuh satu jam untuk menyelesaikan satu episode, Janghyun kemudian berkedip, perlahan duduk dan bersandar di sofa.
Pandangannya tertuju pada ponsel yang sengaja dimatikan di atas meja yang sudah ia letakkan di sana tanpa tersentuh. Dengan pertimbangan, meraihnya dan menyalakannya.
Ada sekitar dua puluh persen lagi ponsel memiliki daya. Ketika layar kunci terlihat, rentetan pemberitahuan membanjiri layarnya dengan kecepatan mengerikan. Janghyun sudah menduga ini akan terjadi dan memilih mengisi daya terlebih dahulu.
Naik ke lantai atas, kamarnya gelap karena korden tidak disibak. Dan ketika disibak, cahaya matahari merangsang matanya yang membuatnya sontak menutup matanya. Menyesuaikan intensitas cahaya, Janghyun berbalik dan menuju lemari kecil di samping ranjang. Lalu mulai mengisi daya.
Setelah beberapa lama, terdengar nada dering bawaan di kamarnya. Janghyun mengambilnya dengan malas, dan begitu menemukan nama Ayah di sana, dia tertegun sejenak.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐖𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐭𝐚𝐦𝐮 [𝐇𝐲𝐮𝐧𝐠𝐬𝐞𝐨𝐤]
Fiksi PenggemarCover & art, story by Virgoeminie BL, fanfiction, School Life, Transmigrasi-Reinkarnasi Hyungseok Harem (?) Sinopsis: Setelah kematiannya, Vino Kim masuk ke dalam tubuh Park Hyungseok yang berperan sebagai karakter antagonis dalam cerita AU Jihoon d...
![𝐖𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐭𝐚𝐦𝐮 [𝐇𝐲𝐮𝐧𝐠𝐬𝐞𝐨𝐤]](https://img.wattpad.com/cover/333206669-64-k193144.jpg)