29

149 15 2
                                        

Gimyung mendengus sinis ketika melihat penampilan Hyungseok, merasa sedih juga kenapa pakaian yang dia kenakan tidak mirip dengannya.

"Jangan kepedean, deh. Hyungseok bahkan gak pernah tau kau hadir di acara ini atau enggak!"

Yoojin tidak membalas ucapan sarkastik tersebut, tapi menatap Hyungseok dengan lembut: "Meski ini kebetulan, aku tetap senang. Ini membuktikan bahwa hubungan kita menjadi lebih dekat."

Ada senyuman provokasi yang membuat dua pemuda lainnya merasakan firasat buruk, ketika Ketua Ilhae perlahan mendekat ke arah Hyungseok. Senyuman itu semakin mengembang dan berkata: "Hyungseok, jangan lupakan bahwa aku sedang mengejarmu saat ini. Aku sangat menantikan hari pertunangan kita di masa depan."

Hyungseok yang mendengarnya langsung melongo: ".....?"

Hyungseok yang baru mengingat tentang hal tersebut: "! ! ! !"

Memang ada hal seperti ini sebelumnya di antara dia dan Yoojin.

Yoojin memang menginginkan dirinya bertunangan dengannya, tapi bukan semacam paksaan dan Ketua Ilhae ini dengan ikhlas menunggu Hyungseok memutuskan apakah dia ingin atau tidak.

Namun sebelum dia mencerna ucapannya yang tiba-tiba, Gimyung mendelik panik, sementara Jay seakan mengingatkan kembali akan sesuatu yang mengganggunya hingga bibirnya semakin turun tak mengenakan.

Gimyung meraih tubuh Hyungseok, wajahnya yang panik tampak bersiap untuk menangis, "Betulan, Hyungseok?! Kamu, sama dia—gak mungkin kan kalian bakal tunangan?!"

Ucapannya cukup kencang sampai orang-orang disekitar mereka menoleh hampir serempak dengan tanda tanya. Hyungseok langsung terkejut, dia tanpa sadar ingin menutup mulut toa Gimyung tapi gagal ketika Jay meraih tubuhnya untuk menjauh dari semua orang.

Jay pun tidak berbeda jauh dengan Gimyung, tapi dia bisa menjaga ketenangan di wajahnya. Namun bukan berarti dia tidak bertindak, ketika berusaha menjauhi semua orang, pemuda Hong itu meraih lengan Hyungseok dan menariknya menjauh dari meja prasmanan.

Terdengar suara protes dari mereka dan seseorang dengan cepat mencekal lengan Hyungseok yang lain, mencegahnya pergi.

Yoosung bertanya dengan nada pelan yang menakutkan: "Kau mau bawa Seokie kemana?"

Nada riang yang biasa dia dikeluarkan setiap saat, kini berubah dingin. Cara dia memandang pun menjadi tidak baik. Apalagi setiap matanya memandang Jay.

Jay tanpa sadar mencengkeram lengan Hyungseok lebih kencang, membuat Hyungseok tanpa sadar meringis pelan.

Mendengar rasa sakit si manis, Gimyung semakin mengerutkan dahinya, berjalan ke arah mereka dan meraih Hyungseok sehingga kedua lengan yang dicekal terlepas.

"Apa yang kalian lakukan, hah?? Hyungseok kesakitan!" ujar Gimyung marah, lalu menatap Hyungseok dengan pandangan khawatir: "Kamu gapapa?"

Hyungseok yang sedari tadi bagaikan produk diskon yang diperebutkan: "......."

Kemudian mengangguk pelan, "Ya, aku oke." Di balik punggungnya, ada banyak tatapan panas yang seolah ingin menembus kedua tangan Gimyung yang menyentuhnya, Hyungseok tidak menyadarinya, tapi mendorong pelan Gimyung lalu menoleh ke arah Jay. "Jay, kemana kamu ingin bawa aku barusan?"

Bahkan terburu-buru seperti ada sesuatu yang genting.

Hyungseok menebak bahwa itu mungkin (pasti) ada kaitannya dengan Daniel? Dia ingin mengajaknya untuk mencari Daniel karena merasa rindu.

Pasti!

Maka Hyungseok, sebagai fudanshi yang menghargai hubungan asmara kakak kembarnya bersama pacar tampannya, dia harus menolongnya.

𝐖𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐭𝐚𝐦𝐮 [𝐇𝐲𝐮𝐧𝐠𝐬𝐞𝐨𝐤]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang