Ayah angkatnya, Reja menutup koran yang tengah di baca nya. Melirik pelayan nya yang tengah membersihkan lemari kaca.
"Siapa yang Al temui?"
Pelayan itu menghentikan tugas nya dan berfikir akan seseorang yang dia lihat.
"Em..seorang pria dewasa, terlihat gagah dan tampan. Otot nya..." Ekspresi malu-malu terpatri di wajahnya.
"Bagus Tuan." Cengir nya.
Ardan mengernyit. Berdehem keras dan beranjak.
Arah nya menuju kaca jendela. Menyela gorden dan mengintip keluar.
Kosong.
"Kemana mereka?"
....
"Ini ini dan ini." Alea dengan perasaan puas menunjuk hampir semua menu. Di seberang nya Ashley bersandar di kursi, senyuman di sudut bibirnya dan riak penuh ketertarikan di mata nya, jelas...menatap Alea penuh minat.
Saat tatapan Alea beralih pada Ashley, warna merah menghiasi pipi nya.
"Setelah perjalanan itu...aku benar-benar sangat merindukan makanan disini. Aku bukan nya rakus..."
Ashley menegakkan punggung nya. Mengulur kan tangan dan meraih dagu Alea hanya untuk mengusap sudut bibirnya yang kemerahan akibat liptint dan tersenyum geli.
"Tentu saja, apapun yang kamu inginkan."
Setelahnya Ashley melepas Alea dan kembali bersandar pada kursi sementara jari nya mengusap bibir nya sendiri.
Alea berkedip, dia jelas melihat rona merah di antara jari Ashley. Mengulum bibirnya dan menunduk. Saat dia mengangkat pandangan, pelayan yang tadi mencatat pesanan nya justru terpaku di tempat, melihat ke arah Alea dan Ashley dengan penuh rasa iri.
Alea berdehem.
"Itu saja, tolong ya."
"Ah? Iya baik..."
Alea menopang dagu, melihat sekitar resto dan jatuh pada Ashley yang juga tengah menatap nya.
"Kenapa? Menatapku... seperti itu?"
Rasa sesak menyenangkan tak bisa di pungkiri.
Perasaan di cintai begitu dalam dan selalu menjadi tempat pertama dalam pandangan nya, Alea sangat merasa di hargai.
Tapi tetap saja, di tatap sedemikian rupa membuat nya malu.
"Satu bulan lagi...apa cukup?" Suara nya yang berat dan bass menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.
"Satu bulan...." Lirih Alea.
"Satu Minggu...kurasa juga cukup." Koreksi Ashley.
Alea tersentak.
"Satu Minggu?"
"Apa terlalu lama? Kalau begitu tiga hari..."
"Tidak Ashley...satu bulan juga menurut ku terlalu cepat. Pernikahan itu sekali seumur hidup, aku ingin pernikahan yang indah dan akan selalu di kenang hingga kita menua bersama." Jelas Alea.
"Secepat itu...apa kamu pikir pernikahan hanya tentang tidur bersama?" Alea melirik jakun Ashley yang bergerak-gerak.
'Jangan pikir aku tidak tau dengan pikiran mesum mu.' dengus Alea dalam hati.
Ingatan memberikan cuplikan dimana saat mereka berpelukan di teras rumah. Alea sangat yakin sebuah sentuhan dia rasakan di pantat nya dengan sedikit remasan.
Mengingat nya membuat Alea semakin malu.
Ashley berdehem dan melirik sekitar.
"Tentu saja...karena aku ingin segera mengikat mu."
"Ashley...."
"Memiliki mu, aku takut kamu berlari lagi Ae." Ashley meraih tangan Alea.
"Ayah belum tau kita bersama lagi." Ingat Alea.
Ashley mengusap jari Alea.
"Setelah ini...ayo temui paman."
Lalu di kecupnya punggung tangan Alea.
Danemberikan tatapan tepat pada manik mata Alea yang bergetar karena sentuhan nya.
'ini dia...pria yang selalu tergila-gila dengan ku.' Alea merasa senang dan bangga karena nya.
.....
Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Alea berdiri bersama Ashley dari sofa.
Pandangan Reja jatuh pada tautan tangan mereka dan sosok Ashley yang sudah lama tidak dirinya lihat.
Raut terkejut jelas terlihat di dalam mata nya yang bergetar.
"Al...apa ini?"
Alea maju satu langkah.
"Ayah...kami akan menikah."
"Tapi bukan kah dia..."
"Aku sudah tau kebenaran nya, kami masih saling mencintai. Ayah, tolong restui kami." Alea tersenyum penuh harap.
Reja adalah ayah angkat juga sekaligus paman nya yang telah merawat nya.
Alea sangat menghormati nya.
Reja menghela nafas pelan.
"Ashley, mari berbicara."
Reja berbalik dan masuk ke dalam ruang kerja nya yang berada di lantai satu.
Ashley mengusap rambut Alea.
"Tenang saja, bagaimana pun keputusan nya...aku akan tetap memiliki mu."
"Ash...kau tau ini bukan saat nya bercanda." Gerutu Alea.
"Aku serius." Sentuhan basah di dahi nya Ashley berikan. Lalu melepas tautan tangan mereka dan menyentuh lembut pipi Alea sebelum akhirnya menyusul Reja.
Alea menyentuh dahi nya, masih dia rasakan bagaimana bibir Ashley menempel disana dengan penuh kelembutan.
Menatap pintu ruang kerja Reja yang tertutup Alea meremas kedua tangan nya.
Entah apa yang mereka bicarakan.
Satu jam kemudian Ashley Reja keluar di ikuti Ashley.
"Tiga bulan lagi...kalian akan menikah."
Alea yang semula terpaku dengan takut, tersentak dengan jantung berdetak kencang.
"Ayah." Alea segera masuk ke dalam pelukan Reja.
"Paman...itu terlalu lama, satu bulan lagi..." Suara Ashley mengkoreksi dengan nada enggan.
"Jika ingin menikah...juga harus ada restu ku. Kalau tidak...aku tidak akan merestui mu." Reja berkata dengan tegas.
Melihat aura dingin di antara mereka Alea ragu permasalahan telah selesai.
"Ayah..." Alea menatap reja penuh tanya.
Reja menghela nafas berat.
"Aku hanya ingin pernikahan mu berjalan dengan sangat sempurna. Rencanakan dengan baik-baik, jangan terlalu terburu-buru. Baik?"
Alea beralih menatap Ashley. Begitu Ashley berkedip dan mengangguk, Alea segera mengangguk.
"Baik ayah...sesuai keinginan mu."
"Anak baik..." Reja mengusap kepala Alea penuh kasih.
......
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Man! (End)
Aktuelle LiteraturAlea adalah gadis modern.Namun sebuah kalung peninggalan leluhurnya membawanya menuju ke dunia lain.Dunia yang benar-benar berbeda.
