30

15.5K 961 36
                                        

"Ashley..."

"Jangan terburu-buru."

Alea mengusap wajah dengan ekspresi murung. Perkataan bibi Lia masih terdengar di ingatan nya.

Dinding kamar berbahan kayu, bagaiman Alea tidak mendengar nya? Kepergok di saat mereka hampir kembali menyatukan kelopak daging merah, Alea rasanya ingin mengubur diri.

Hingga malam telah terlewati, kata-kata bi Lia masih terngiang di ingatan nya. Tapi...

Alea menggigit jari.

Tiba-tiba dia penasaran bagaimana ekspresi Ashley semalam begitu ketahuan bi Lia bahkan hingga memberinya wejangan.

Apakah wajah nya tetap datar atau ada ekspresi lain? Alea mengulas senyum kecil begitu memikirkan nya.

Pagi-pagi sekali bi Lia bergegas keluar sebelum Alea mengutarakan keinginan nya untuk ikut agar tidak bosan.

Di ambang pintu keluar Alea menghela nafas lesu.
Sebuah tangan tiba-tiba terulur ke depannya membuat Alea mematung.

"Hey...ada apa?". Tapi suara Jaden menyapu telinga nya, Alea dengan cepat melihat ke samping dan menemukan Jaden yang tampak keheranan.

"Oh, emm...tidak apa-apa."

Jaden tersenyum kecil, lalu mengedikkan dagu ke arah tangan nya yang masih terulur.
"Kue, cobalah."

Alea mengambil nya.
"Makasih."

Jaden mengangguk dan memakan kue lainnya yang dia pegang lalu duduk di undakan tangga. Tangannya menepuk tempat di samping.
"Sini."

Alea mendekat dan duduk di samping Jaden. Menikmati kue dengan kernyitan di dahi.
"Enak, kue apa ini?".

"Kue beras. Kemarin bi Lia bantuin di rumah warga yang sedang merayakan kelahiran bayi mereka."

Alea menatap Jaden dengan penasaran.
"Perayaan? ".

"Hem, tapi tidak seramai di kota, perayaan di sini hanya sekedar bagi-bagi Kue beras dan manisan buah."

Mendengar itu Alea tampak kecewa. Jika di dunia nya akan ada pesta dan foto-foto momen kebersamaan bayi, mengundang banyak orang dan berdoa untuk kesehatan bayi yang baru melihat dunia.

Yah...mungkin karena desa ini jauh dari desa-desa lainnya dan jauh juga dari ibu kota.

"Mau lagi?". Dari balik baju Jaden mengeluarkan bingkisan yang terbuat dari daun. Begitu di buka, ada tiga kue beras di taburi kelapa parut.

Alea mengerjap.
"Apa bagi-bagi kue disini cukup banyak?".

Tiba-tiba Jaden tertawa di bawah tatapan Alea yang kebingungan.
"Ehem, wajah mu terlihat polos, maaf aku malah menertawakan mu." Jelas Jaden begitu tawa nya telah reda.

"Sebenarnya kue beras yang aku pegang ini dari Hana." Beritahu Jaden.

"Mmm..kalian tampak dekat?".

"Tentu saja, kami sudah kenal dari kecil."

Alea terdiam, teman dari kecil? Entah kenapa Alea merasa tidak nyaman.
"Sedekat apa? Apa Ashley juga..."

"Sangat dekat, kau mungkin mendengar cerita Hana semalam. Kamu tau, aku sangat suka mengerjai Hana dan melihat ekspresi nya yang lucu. Dia terlihat menggemaskan saat marah." Sesekali Jaden tampak tertawa di setiap cerita nya.

'Sedekat itu?'

"Oh iya, apa kemarin Ashley melakukan sesuatu?". Tiba-tiba Jaden bertanya membuat Alea mengingat kejadian semalam saat kepergok bi Lia.

Big Man! (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang