23

13.9K 797 21
                                        

Burung berkicau menyambut matahari yang menyinari bumi. Setelah pelayan membantu membersihkan Alea kembali, mereka menghidangkan makanan berupa sayuran dan daging dari hasil perburuan.

"Nona...Ketua akan membawa anda berkeliling jika makanan ini anda nikmati."

Alea berdecak, dengan malas mengambil daging. Beberapa sayur hijau dan daging bakar. Alea jadi teringat Ashley dan Jaden, biasanya mereka akan berburu dan membakar daging untuk dirinya.

'Dimana mereka sekarang? Apa mereka mencari ku?'.

Pintu kamar terbuka, Morano masuk dan melihat Alea selesai dengan makanan nya.
"Ayo, aku akan mengajakmu bersantai."

Berdecak! Alea mengikuti Morano, menuruni undakan tangga hingga keluar dari istana. Mereka berada di halaman belakang, disini tersedia kursi dan meja dan sebuah papan target. Alea duduk di kursi dan seorang pelayan menyajikan teh juga beberapa cemilan di piring.

Di depan sana Morano mengambil busur dan panah mengarahkan pada papan target. Alea memperhatikan sambil menopang dagu.

Sstt Tap!

Sst Tap!

Prajurit Bandit maupun pelayan langsung bersorak dan bertepuk tangan begitu Morano terus mengenai sasaran. Mereka sangat antusias melihat keahlian memanah Morano. Harus Alea akui Morano memang pria tampan berbakat, tapi Alea sama sekali tidak menaruh hati pada pria seperti nya. Di mata nya Morano adalah pria pemaksa, seolah-olah apa yang dia inginkan akan dia dapatkan.

Serena datang dan duduk di depan Alea. Mata nya terus tertuju dengan mata berbinar pada Moreno. Bahkan berseru antusias yang membuat Alea memutar mata malas.
"Aku jauh lebih baik."

Mendengar suara nya, Serena baru melihat Alea.
"Jadi kau bisa memanah?".

Alea mengernyit, nada suara Serena lebih ramah dari kemarin. Tidak berniat menjawab Serena tapi Alea berbalik bertanya.
"Kau menyukai Moreno?".

"Sangat."

Senyuman kecil hadir di sudut bibir Alea.
"Aku akan menjadi selirnya, tidak kah kamu cemburu?".

Serena melihat punggung Morano. Begitu kembali melihat Alea senyuman samar Serena berikan.
"Aku tidak akan cemburu hanya pada seorang selir. Aku akan menjadi istri sah. Kamu, seorang selir tidak lebih dari sekedar penghangat ranjang."

Alea merasa tersindir, tapi ini juga bukan keinginan nya.
"Kamu pasti belum pernah di sentuh Morano."

Saat itu ekspresi Serena berubah suram.
"Apa maksudmu?".

Alea menyeringai, tangan nya naik membelai lehernya sendiri.
"Semalam...dia terlihat jantan." Tatapannya menatap intens Morano yang kembali bersiap memanah. Sudut matanya melirik Serena yang sudah mengepalkan tangan nya dengan wajah memerah.

"Sebenarnya aku lebih menyukai Ashley, tapi Morano... Juga boleh di coba." Kata-katanya semakin vulgar. Jika di sini tidak banyak orang Serena sudah pasti akan berteriak marah dan mencabik-cabik wajah Alea.

"Kau benar-benar...pelacur."

Alea merasa tidak terima akan sebutannya. Tapi, rencana ini harus coba dia jalankan. Sudah terlanjur menyelam, jika tenggelam pun harus ada perjuangan.
"Setidaknya Morano menaruh rasa padaku." Nada suara Alea terdengar sangat bangga.

"Apa mau mu?".

Alea mengangkat alisnya seolah tidak paham.
"Apa maksudmu?".

"Apa yang akan membuat mu menjauhi Morano? Aku akan membayar lebih jika kau mau pergi." Tekan Serena.

Diam-diam Alea tersenyum senang.
"Sangat mudah, kau..." Alea mendekatkan diri pada Serena.

"Bantu aku kabur." Saat itu ekspresinya berubah serius.

Big Man! (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang