27

14.8K 977 58
                                        

Alea mengikuti bi Lia lewat mata nya. Bi Lia tampak keluar dengan tergesa, entah urusan apa yang membuat nya begitu sibuk beberapa hari ini. Dan kali ini bahkan Jaden pun tampak keluar dari kamar dan segera berlari keluar.

"Alea? Aku ada urusan, jika butuh sesuatu katakan saja pada Ashley." Seru Jaden sebelum menghilang.

Alea mengernyit, ada apa dengan mereka? Dan lagi...ini sudah yang kesekian kali nya dia di tinggal berdua dengan Ashley. Alea mengusap tengkuknya yang terasa dingin, begitu berbalik sorot mata Ashley menyapu pandangan nya.

Alea hampir meloncat melihat Ashley berada di belakang nya tanpa suara.
Alea menghela nafas pelan, suasana di rumah ini kini malah semakin aneh.
"Itu...Jaden dan bibi Lia tampak sibuk, apa kita tidak perlu membantu?".

Alis tajam nya terangkat sesaat, lalu berjalan melewati Alea dan berhenti memunggunginya.
"Biarkan saja, mau ikut?". Jika di perhatikan sudut mata nya melirik ke arah nya, tapi Alea sibuk dengan ketegangan yang masih tersisa dari efek pesona Ashley setelah beberapa hari ini Alea sadari.

"Kemana...?"

"Mencari kayu bakar."

Di dalam hutan Alea mengikuti dari belakang, di depannya Ashley sesekali menunduk memunguti ranting-ranting kering. Melihat sekitar di penuhi pohon, suara kicauan burung terdengar membuat suasana menjadi tenang.

Alea pernah mendengar, hutan yang ramai berarti aman. Dan jika hutan hening berarti malapetaka. Meski tidak mengerti, tapi suara hewan kecil seperti burung memang terdengar sangat bagus.

Berjalan-jalan seperti ini...meski mengusir kebosanan tetap saja terlalu aneh hanya melihat Ashley bekerja tanpa membantu. Diam-diam Alea ikut memunguti ranting kering hingga tangan nya penuh, begitu merasakan berat baru Alea berhenti menambah ranting.

Ashley berhenti dan melempar seikat ranting ke tanah. Berdiri di bawah pohon melihat ke atas tampak memperhatikan sesuatu. Begitu dia menoleh mendapati Alea yang berdiri dengan memeluk seikat ranting, wajah nya tampak mengerut.

"Kau bisa ikut, tidak perlu membantu."

Alea mengerjap.
"Aku..."

Ashley mendekat mengambil seikat ranting dari Alea dan melemparnya tepat di samping ranting lainnya. Lalu melihat Alea.
"Tunggu di sini."

Begitu Ashley memanjat pohon Alea mundur melihat ke atas dengan tercengang.
"Apa dia reinkarnasi monyet? Kenapa begitu cepat naik?".

"Tangkap."

Satu buah terlempar tapi Alea gagal menangkap nya. Di atas sana dengusan geli menyapu pendengaran Alea sekilas, tapi begitu melihat Ashley Alea hanya mendapati wajah Ashley yang dingin.

"Apa aku salah dengar?".

"Lempar lagi." Alea berseru. Di atas sana Ashley memainkan buah apel hutan di tangan, melihat Alea yang bersiap menerima buah jatuh kedutan di matanya hampir tidak terlihat.

Melempar buah ke bawah, Alea kembali melewatkannya. Dengan kesal berdecak dan kembali berseru.
"Lagi!".

Kali ini Alea berhasil menangkap nya. Lagi dan lagi, ini seperti permainan anak-anak. Ternyata berhasil menangkap buah yang di lempar membuat nya lebih bersemangat. Ini terasa seru, Alea tidak bisa berhenti tersenyum.

"Lagi!".

Tapi Ashley segera turun.
"Sudah banyak."

Alea melihat ke bawah dan satu tumpuk apel sudah cukup mengenyangkan seisi rumah.

Alea membantu Ashley memunguti apel hutan yang berserakan dan mengumpulkan nya.
" Ini terlalu banyak, bagaimana kita membawanya?"

"Sudah puas bermain?" Nada jenaka menyapu indra pendengarannya, tapi Alea tidak yakin karena ekspresi Ashley tetap datar.

Big Man! (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang