35

19.2K 1.2K 94
                                        

Tubuhnya bergetar, keringat membasahi dahi dan dengan kejut kelopak mata nya terbuka di iringi nafas yang terengah.

"Apa itu tadi?".

Alea mengusap keringat yang mengalir deras, mimpi aneh yang di alami nya di siang bolong seperti ini membuat nya terheran-heran.

Dimana dia berada di dunia asal nya dan tengah berlari seolah menghindari sesuatu. Takut, kecewa dan perasaan marah seakan menjadi satu.

"Alea..."

Alea menatap pintu kayu, suara Jaden terdengar memangil. Alea segera membuka pintu di bawah pandangan Jaden yang tampak mengernyit melihat nya penuh dengan peluh.

"Di dalam panas. Lihat, kau sampai berkeringat." Refleks Jaden mengusap dahi Alea.

"Hm."

Serentak kedua nya menoleh dan mengerjap kaku melihat pandangan Ashley yang menyorot tajam.

Entah sejak kapan dia berada disana, Alea juga tidak sadar.

Jaden meringis segera menyingkir mundur dengan gugup. Alea mengalih kan pandangan teringat akan tujuan Jaden yang memanggil nya.
"Tadi, ada apa?".

"Itu...aku tadi petik kelapa, kamu mau minum air kelapa tidak?".

"Boleh, masih ada?" Alea meneguk ludah tergiur. Kebetulan dia juga tengah haus, cuaca akhir-akhir ini begitu panas membuat nya terus berkeringat.

"Tinggal satu, ayo."

Alea menutup pintu kamar dan akan mengikuti Jaden saat sebuah tangan besar menahan pergelangan tangan nya. Jaden pun ikut berhenti dan menatap heran Ashley.

"Dengan ku."

Jaden refleks berdehem keras dengan bibir berkedut.
"Baiklah-baiklah...aku tidak akan mengganggu." Jaden tersenyum dan meninggal kan Alea yang merasa panas di wajah nya dan Ashley yang menatap datar kepergian nya.

"Ayo."

Di halaman belakang angin berhembus dari pepohonan di sekitar, Alea duduk di atas batu berukuran sedang memperhatikan Ashley yang tengah membelah kelapa. Memasukkan air kelapa ke dalam gelas bambu dan memberikan nya pada Alea.

"Hahh...coba kalau di tambah es." Rasa dingin air kelapa membasahi tenggorokan. Terasa segar, tapi membayangkan jika di tambah bongkahan es mungkin akan terasa lebih nikmat.

"Es?". Ashley bertanya sambil memberikan daging kelapa yang telah di kupas.

"Ya, air yang membeku dan menjadi es." Alea menjelaskan sementara tangan nya mengambil daging kelapa dan memakannya dengan tenang.

"Oh ya, aku ingat. Saat pertama kali kita bertemu, bukankah di sana sedang turun salju."

"Hutan Salju." Ucap Ashley.

"Iya, kapan-kapan kita kesana lagi. Bagaimana?".  Harap Alea, mendongak melihat Ashley yang berdiri menjulang di depan nya.

"Tidak." Ashley berbalik, mengambil sapu lidi dan menyapu halaman. Tidak menyadari ekspresi Alea yang cemberut.

"Kenapa? Sampai perbatasan nya saja. Aku hanya ingin membeku kan air untuk di buat minuman. Di tambah air apel waktu itu, jika di tambah es..." Alea sudah membayangkan bagaimana nikmatnya rasa manis air apel yang dingin.

"Pasti akan sangat nikmat." Alea sampai meneguk ludahnya saking tergiur nya dia.

Tapi melihat Ashley yang tidak  bersuara Alea menduga jika Ashley tidak akan mengabulkan keinginan nya, hanya bisa mendesah kesal.

"Kalau gitu, aku akan coba ajak Jaden."

Hening beberapa saat, pergerakan Ashley pun terhenti tapi tak ada respon lain yang membuat Alea menatap punggung nya bingung.
"Kalau gitu...aku cari Jaden saja." Alea beranjak, menatap punggung Ashley yang masih tak bergerak dan segera meninggalkan nya.

Big Man! (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang