24

14.2K 793 29
                                        

Di bawah tebing tangannya memegang erat akar pohon. Suara tapak kuda terdengar melewati nya membuat Alea semakin menunduk, sebisa mungkin menekan kehadiran nya agar tidak di ketahui.

Morano memasuki aula, Raja Hans ayah nya duduk di kursi sebelah kursi batu terbesar di ruangan. Itu singgasana pemimpin milik Morano sekarang. Bahkan Sarga juga hadir, melihat kedatangan Morano dia langsung berdiri dan tersenyum penuh arti.

"Tanggal pernikahan akan di majukan."

Morano tersentak, sekilas melirik Sarga yang terus tersenyum.
"Ada apa sebenarnya?".

"Kami sudah tua, ingin segera menimang cucu. Morano, dalam satu Minggu pernikahan akan dilaksanakan."

"Ayah..."

"Ada apa? Bukankah bagus? Dengan begitu kamu bisa segera memiliki selir mu."

Morano terdiam. Memang istri sah harus yang pertama dalam segala hal, maka dari itu setelah dia menikah selir bisa dia pilih sesuka hati. Karena selir ibarat nya hanya penghangat ranjang tambahan, maka istri sah harus di utamakan.

"Baiklah."

Setelah dari aula Morano mendatangi kamar Alea. Menyuruh dua penjaga membuka pintu dan masuk. Tak lama terdengar teriakan, dua penjaga dengan panik masuk.

"Ketua?".

"Dimana Alea?".

Dia penjaga saling berpandangan.
"Nona...belum kembali."

Morano tersentak, dengan cepat keluar dan menuruni tangga dengan tergesa.
"Pengawal?!"

"Ketua?". Pengawal berkumpul di depan Morano.
"Cari seluruh tempat, temukan wanita yang saya bawa!!"

"Capat!".

Mereka semua langsung berlari dengan panik melihat wajah Morano yang tampak gelap menahan amarah . Sekarang tujuan nya adalah Serena. Saat dia akan menuju kediaman Serena, di arah lain Serena berjalan mendekati nya.

"Mana Alea?". Morano menatap nya dingin.

Serena menjilat bibir nya yang terasa kering.
"Bukankah dia sudah masuk? Aku hanya mengantarnya ke lantai satu."

Morano melihat ekspresi Serena yang tampak kebingungan. Tanpa kata meninggalkan nya dan menunggangi kuda keluar istana begitu prajurit mengatakan tidak menemukan Alea di manapun.

"Aku yang pertama mengenalmu dan kita bahkan bersahabat dari kecil. Tapi kenapa kamu tidak pernah melirikku?". Serena merasa getir. Dia hanya memperjuangkan hak nya dan juga janji Morano saat mereka masih anak-anak.

"Moran...aku lelah.." Serena kecil berjongkok dan wajah lucu nya mengembung dengan manja.

Morano kecil mendekati nya dan ikut berjongkok di depan nya.
"Kamu wanita, kenapa begitu lemah. Kamu beruntung memiliki aku yang kuat."

Serena kecil semakin menekukkan wajah nya.
"Jangan mengejek ku."

Morano kecil tersenyum geli. Dia berdiri dan mengulurkan tangan nya pada Serena kecil.
"Tapi kau tenang saja. Selama kamu memiliki aku, kamu tidak perlu kuat karena aku akan melindungi mu."

Serena kecil berdiri dan mereka saling berhadapan, mendengar perkataan Morano kecil senyuman lebar tidak bisa dia tahan.
"Kalau begitu kamu harus menjadi pengantin ku. Seperti ayah yang melindungi ibu, kamu juga akan melindungi ku."

Morano kecil mengacak rambut Serena kecil dengan gemas.
"Baiklah, tunggu aku semakin kuat dan kamu akan melihat ku lebih hebat dari ayah ku."

"Baik."

Big Man! (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang