Alea termenung... mendengar smua cerita Ashley.
"Masih panjang, apa kamu tidak lelah mendengar nya?".
Alea menepis jari-jari Ashley yang menyentuh rambutnya.
Menghela nafas pelan, Ashley yang duduk di samping Alea menerawang jauh.
"Setelah semua ini...apa kamu akan memaafkan ku?".
Alea bahkan tidak meliriknya.
"Sebaiknya, penjelasan mu tidak di penuhi kebohongan dan terdengar masuk akal."
Ashley memperhatikan Alea dari samping, rasa ingin memeluknya dia tahan dan mengalihkan pandangan dengan berat.
"Setelah penelitian itu berhasil aku mencari kesempatan untuk membawamu ikut serta ke dalam nya."
"Sekitar dua bulan aku menunggu dan bahkan diam-diam memasang kamera di setiap sudut rumah mu."
Seketika Alea berbalik dengan tajam.
"Kau..."
"Kau akhirnya melihat ku." Ashley tersenyum.
"Kau mempermainkan ku?". Geram Alea.
"Tidak juga...aku memang memasang cctv kecil di beberapa tempat."
"Hingga...aku melihat paman keluar dari gudang dan membawa sebuah kotak dan memperhatikan nya di ruang tamu."
"Pada saat itulah aku mencari peruntungan. Liontin itu tampak cantik, mungkin akan di berikan pada mu. Jadi dengan cepat aku memesan dengan model yang sama dalam waktu tiga hari dan membiarkan para ilmuwan memasang alat penghubung dimensi didalam kalung nya."
"Menukar nya sebelum paman memberikan ya padamu."
"Tcih." Alea berpaling.
"Ae...mari kita mulai dari awal. Aku janji, akan menjaga sikap dan menyenangkan mu."
Alea berdiri.
"Aku tidak berminat dengan seorang pembunuh." Berbalik dan menutup pintu gubuk dengan keras.
Ashley terdiam cukup lama, melihat langit yang menguning dengan udara sejuk.
Menjelang malam rasa lapar membuat Alea bergulung di balik selimut tipis.
Dari siang hingga malam dia tidak keluar karena enggan bertemu Ashley.
Ashley memang telah menceritakan semua nya. Tapi tetap saja Alea merasa tidak tenang. Entah karena alasan Ashley yang menjebaknya masuk ke dunia ini atau karena sifat psikopat nya.
Membunuh karena cemburu? Apa dia benar-benar psikopat.
Alea termenung di atas ranjang kayu. Perut nya terus mengeluarkan suara. Dia lapar, tapi terlalu malu untuk meminta. Ashley mungkin masih ada di luar, karena dia tidak mungkin meninggalkan di gunung seperti ini.
Alea pede, karena tau bagaimana tergila-gila nya Ashley padanya.
Senyuman sombong memikirkan nya Alea tak memungkiri dia cukup bangga karena merasa di cintai sebesar itu.
Tapi juga cukup takut cinta nya lebih ke gila.
"Hah..sudahlah, aku liat luar... mungkin ada makanan."
Berdiri di dekat jendela, Alea mengintip keluar. Api unggun menyala tapi keberadaan Ashley tidak di ketahui.
"Apa dia pergi?".
Dengan pelan Alea membuka pintu, melihat sekeliling halaman yang terang dengan obor di sekeliling. Api unggun masih menyala cukup banyak, artinya Ashley baru saja pergi entah kemana.
Di bawah perapian tampak buah bulat di panggang seperempat gosong.
"Ubi?". Alea meneguk ludah.
"Ah sudahlah, dia tidak ada juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Man! (End)
Fiksi UmumAlea adalah gadis modern.Namun sebuah kalung peninggalan leluhurnya membawanya menuju ke dunia lain.Dunia yang benar-benar berbeda.
