"Kau tau bibi...Jaden selalu membuatku kesal, dia bahkan pernah mengambil sandal ku dan di taruh di atas pohon."
Suara tawa mengiringi suara Hana yang terdengar merajuk. Saat itu Alea baru terbangun, duduk di pinggir ranjang dan mengusap mata.
Pencahayaan dari lampu minyak di kamar terlihat remang-remang. Ini sudah malam entah sudah jam berapa, tampaknya Hana masih betah singgah di rumah bibi Lia.
Bibi Lia pun juga terlihat senang setiap mendengar ceritanya yang penuh semangat. Hana bagaikan matahari di rumah ini, membuat suasana menjadi hidup.
Alea merasa kantung kemih nya penuh, lalu keluar dari kamar dan semua orang yang tengah duduk di kursi bambu langsung mengalihkan perhatian begitu mendengar suara derit pintu.
Alea mengerjap.
"A aku...mau ke kamar mandi."
Tiba-tiba bibi Lia berdehem. Matanya melirik semua orang yang terpaku melihat Alea yang baru bangun tidur. Alea mungkin tidak sadar, rambutnya terlihat kusut tapi tidak mengubah kecantikan nya. Sementara gaun yang dia pakai adalah gaun dari dunia nya saat berpindah ke dunia ini. Masalahnya gaun putih tanpa lengan itu sedikit turun dan menunjukkan belahan dada nya yang putih.
Ashley tiba-tiba berdiri di bawah tatapan semua orang. Berdiri di depan Alea dan menyisir rambut Alea dengan jari, lalu menarik tangan nya ke kamar mandi.
"Aku...bisa sendiri." Cicit Alea.
Mereka berhenti di depan kamar mandi dengan bilik kayu. Suara hewan malam di balik kegelapan terdengar jelas, cahaya dari obor terlihat remang tapi Alea tetap menunduk tidak berani menatap Ashley.
Ashley melepaskan tangan nya dan membiarkan Alea menyelesaikan keinginan nya.
Alea menatap kloset yang terbuat dari kayu membentuk kotak dan di tengah kayu ada lubang untuk menampung kotoran. Aneh nya tidak ada bau sama sekali, mungkin karena aroma air bunga yang di simpan di wadah batok kelapa dan di gantung di setiap sisi kamar mandi.
Yah setidaknya masih sedikit mirip kloset di dunia nya.
Setelah selesai Alea keluar tapi langsung terdiam kaku melihat Ashley yang berdiri membelakangi nya.
'Dia tidak pergi? Kenapa menunggu ku?'.
Alea meneguk ludah, tenggorokan nya terasa kering saat ini. Melihat Ashley di depan nya semakin membuat Alea ingin cepat-cepat pergi dan meminum segelas air dingin, atau air manis seperti...air apel.
Alea mengepalkan tangan nya lalu berjalan melewati Ashley.
"Tunggu."
Alea berdiri kaku.
"A apa?".
"Baju mu."
Alea mengernyit melihat baju nya dan semakin kebingungan. Refleks Alea berbalik ingin bertanya.
"Apa yang salah?".
Tatapan mereka saling bertemu, jari Ashley terangkat dan menunjuk dada nya. Alea mengerut, menunduk dan memperhatikan bagian dadanya sendiri dan di detik berikutnya Alea segera berbalik dengan panik dan segera menarik gaun nya sedikit ke atas. Lalu berdehem canggung.
'Pantas saja semua orang melihat ku.'
Menahan malu Alea bergegas masuk.
Di belakang nya Ashley melihat punggung Alea.
Di ruang tamu hanya ada bibi Lia, melihat Alea yang datang bi Lia segera menyuruhnya duduk.
"Duduk nak, bibi ingin bertanya."
Alea mengangguk dan duduk di salah satu kursi panjang.
"Bagaimana? Apa kamu nyaman tinggal di sini."
"Nyaman bi, terimakasih sudah membiarkan Alea tinggal." Sebenarnya ada hal yang membuat Alea tidak nyaman. Pertama ranjangnya keras, dan kedua kamar mandi nya. Tapi mengingat ini adalah zaman yang belum mengenal kasur busa dan kamar mandi ber kloset keramik , penerangan di sini pun masih menggunakan obor atau lampu minyak.
Alea hanya bisa menerima, mengeluhpun hanya akan membuat nya jadi bahan tertawaan. Mereka tidak akan mengerti mewahnya barang-barang di jaman modern nya.
Bi Lia tersenyum.
"Istirahat lah...bibi mau ke kamar sudah mengantuk."
Alea mengangguk dan bibi Lia memasuki kamar.
Alea menghela nafas, lagi-lagi sepi... membosankan rasanya tidak ada hiburan. Di kursi yang terbuat dari bahan bambu Alea menarik kaki dan memeluk nya dengan dagu dia sandarkan di atas lutut.
Sebenarnya kenapa dia harus berada di dunia ini? Jika di ingat-ingat akan novel yang pernah dia baca juga tidak ada cerita dengan nama pemeran yang mirip. Dalam buku sejarah yang dia baca pun seperti nya tidak ada sama sekali.
Alea meraih kalung di lehernya dan menggenggam nya erat.
"Bagaimana cara nya pulang?".
"Kenapa? Tidak suka di sini?".
Alea termangu, dengan patah-patah kepala nya menoleh ke belakang dan melihat Ashley yang menatap tepat ke matanya, dengan cepat Alea kembali berbalik.
"Kenapa?". Suara berat Ashley terkesan dingin, tanpa sadar Alea meneguk ludah nya.
"Aku...aku hanya rindu rumah."
' Dan jika terus berada di sini, aku takut ada perasaan yang mulai tumbuh. Lalu bagaimana jika nanti harus ada luka?' Tatapan Alea menjadi redup, namun Ashley yang berada di belakang nya tidak bisa melihat ekspresi Alea.
"Bagaimana caranya?".
"Apa?". Alea mengernyit.
"Cara mu pulang."
Alea menunduk dengan kedua sudut bibir jatuh ke bawah.
"Aku...tidak tau."
Mendengar suara nya yang tercekat Ashley terdiam. Detik berikutnya melangkah mendekat dan memberikan satu buah apel dari belakang.
Alea menatap apel di depannya, dengan perlahan mengambil nya dan mengusap permukaan apel yang terdapat jejak basah. Seperti baru saja di bilas air.
"Ash..." Lirih Alea. Tapi tanggapan Ashley bukan hanya jawaban tapi juga dengan tindakan.
Alea menegang kaku begitu secara perlahan Ashley duduk di sampingnya. Tangan nya berada di atas sandaran kursi tepat di belakang Alea.
"Katakan."
"Aku..." Diantara banyaknya kursi kenapa harus duduk tepat di sebelah nya? Jika begini, rasa canggung yang semula ada malah membuat nya tidak bisa berkutik.
Keringat sebiji jagung mengalir di dahi Alea, sementara sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol perlahan mendekat dan merapihkan rambutnya ke belakang telinga. Menghapus keringat di malam yang dingin, namun Alea tampak kepanasan.
"Katakan."
"Aku..." ' Kau terlalu dekat! Bagaimana aku mengatakan nya?!'.
"Hm?". Seiring dengan gumaman nya wajah dengan bulu-bulu halus di dagu entah sejak kapan mulai mendekat. Seakan tengah menggodanya, hembusan nafas menerpa wajah Alea yang tanpa sadar memejamkan mata.
Hembusan nafas hangat berpindah ke lehernya, Alea menahan nafasnya tak mampu bergerak.
Sebuah jari-jari besar menelusuri pipi halus Alea secara perlahan seakan tengah memuja keindahan yang belum pernah dia lihat. Alea membuka mata secara bertahap begitu jari Ashley menarik dagu nya mendekat.
Seakan terhipnotis Alea tak mampu bergerak, wajah mereka semakin mengikis jarak. Hidung mereka saling bersentuhan dengan nafas hangat yang saling menerpa.
Saat itu terdengar suara derit pintu yang terbuka, Alea tersadar dan langsung memalingkan wajah. Sementara tangan Ashley menggantung di udara dengan kaku.
Di seberang mereka pintu kamar terbuka dengan bibi Lia yang mematung.
"Kalian...tidak tidur?".
Dengan panik juga gugup Alea berdiri dan berkata terbata-bata.
"A aku...mm, ini mau tidur." Setelah nya Alea segera melewati bi Lia dan masuk ke dalam kamar tak lupa menutup pintu.
Bi Lia mengerjap. Tatapan nya jatuh pada Ashley yang berdiri dan hendak pergi.
"Ashley..." Panggil bi Lia.
Ashley berbalik, menatap bi Lia dengan tenang.
"Jangan terburu-buru."
Ashley terpaku.
.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Man! (End)
Ficción GeneralAlea adalah gadis modern.Namun sebuah kalung peninggalan leluhurnya membawanya menuju ke dunia lain.Dunia yang benar-benar berbeda.
