26

14.5K 970 44
                                        

Di sebelah nya bibi Lia telah terlelap, tapi Alea tetap terjaga. Ada hal di dalam dirinya yang resah, Alea menatap langit-langit kamar yang terbuat dari bahan jerami dan bambu.

Tiba-tiba dia merindukan rumah. Merindukan ayah nya juga ibu nya. Jika ini di dunia nya, ada ponsel dan laptop untuk menemani nya begadang. Tapi di sini dia hanya bisa melamun dan terdiam.

Tiba-tiba Bi Lia membuat pergerakan, mungkin terganggu karena Alea terus bergerak tidak nyaman.

Alea memutuskan keluar kamar. Dia tidak bisa tidur, di kamar pun malah membuat tidur bi Lia terganggu. Membuka pintu dan kaluar lalu duduk di undakan tangga menatapi halaman dengan penerangan yang berasal dari obor dari setiap sisi rumah.

Alea menghela nafas, melamun sendirian seperti ini malah membuat nya semakin merasa sedih.

"Alea?". Suara Jaden menyapa nya. Begitu mendongak, Jaden yang seperti nya baru pulang dari luar mendekat dan duduk di sebelah nya.

"Tidak tidur?".

Alea menggeleng.
"Kau sendiri?".

"Aku ada urusan." Kedua nya melihat langit berbintang. Terlihat sangat indah seperti suasana hati Jaden yang sedari tadi terus tersenyum.

Alea meliriknya.
"Ada kabar baik?".

Jaden menoleh dan tersenyum tertahan.
"Coba tebak."

Alea mendatarkan wajahnya dan melihat ke depan.
"Aku tidak tau."

Suara tawa terdengar, Jaden melihat nya dengan geli.
"Aku tau, tapi aku tidak bisa mengatakan nya sekarang. Bagaimana dengan mu? ".

Alea menghela nafas kasar.
"Aku baik."

"Tapi kau tidak terlihat baik." Jaden terus menatapi nya.

"Apa karena Ashley?".

Alea terdiam dan Jaden sudah menemukan jawaban nya. Tatapan nya tertuju pada langit malam bercahaya kan bintang dan bulan.
"Apa kau menghindari nya?". Tebak Jaden yang membuat Alea terpaku.

"Hadapi..."

"Aku tidak bisa." Sela Alea.

"Apa masalah nya?" Jaden menatap nya heran.

"Itu karena..."

"...kami berbeda." Lirih Alea.

Jaden mengalihkan pandangan dengan pikiran berkecamuk.
"Jika kau suka, perbedaan bisa saling melengkapi."
Jaden melirik Alea tapi tidak mendapat jawaban. Maka Jaden menutup rapat bibir nya, takut mengganggu Alea.

Di ambang pintu Ashley berdiri menatap punggung nya.

......

Pagi ini Alea kesiangan dan tidak membantu bibi Lia di dapur. Begitu bangun bibi Lia tengah pergi keluar. Dan Alea bertemu Jaden yang juga baru keluar dari kamar.

Melihat Alea keluar dari kamar Jaden tidak bisa menahan dengusan geli nya. Alea meringis, karena semalam mereka duduk di luar dan mengobrol hingga larut malam dan kini mereka sama-sama kesiangan.

Saat itu Ashley datang dari luar, melihat mereka dan membuat suasana menjadi canggung.

"Makanan sudah di siap kan." Beritahu Ashley sebelum masuk ke dalam kamar.

Jaden berdehem.
"Ayo."

Alea mengangguk dan mengikuti nya.
Mereka makan bersama sesekali mengobrol dengan ringan, duduk lesehan di lantai kayu dan duduk bersebelahan.

Di dalam kamar, Ashley duduk di ranjang kayu beralaskan kasur tipis. Terdiam mendengar suara akrab di antara mreka.

Alea mengibas baju di dada nya merasa gerah. Ingin mandi tapi air di kamar mandi habis. Harus menimba air di sumur tapi Alea tidak bisa.

Big Man! (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang