41

8K 921 107
                                        

Kaki berselimut kan sepatu kulit menginjak tumpukan salju. Setengah berjongkok dia menyingkirkan sebagian salju yang menimbun tanah.

Tangannya terkepal, rasa dingin menyelimuti tangannya hingga ke dasar hati nya. Rasa kosong dan ketidak rela'an kini harus dia kubur.

"Aku tidak tau bagaimana cara nya kembali. Tapi, jika terus berada disini aku akan pergi kemana?".

Ini adalah tempat dimana dia terbangun untuk pertama kalinya di dunia ini. Dia datang kesini tapi bagaimana cara agar dia bisa pulang?

"Terserah, kalau memang tidak bisa kembali aku akan tinggal disini dan mencari kehidupan sendiri. Apa susahnya?".

Tapi tinggal di dunia yang tidak kau kenal seorang diri, pada akhirnya Alea merindukan rumah nya. Dimana disana ada ayah angkatnya yang senantiasa memanjakan dan menerima nya secara terbuka.

Alea menghela nafas dalam.
"Selama itu...aku akan berusaha mencari cara untuk kembali."

Dan untuk cinta nya yang baru saja berkembang, harus dia kubur dengan rasa sakit yang tak akan bisa kau bayangkan.

Alea berdiri, menarik tali pelana kuda dan menuntunnya ke arah Utara. Meninggalkan jejak kaki di atas salju dengan rintikan salju yang mulai berjatuhan dan menghapus jejaknya.

......

Di sisi lain seorang pria gagah mengendarai kuda dengan urat-urat di lengan dan dahinya yang terlihat jelas menonjol.

Pegangan nya pada tali pelana kuda terus mengerat seiring waktu dengan kuda yang terus berlari kencang melewati pepohonan yang di hiasi salju.

"Alea..."

"... Jangan pergi."

.....

Suara tapak kaki kuda menjauh terdengar jelas, Ashley melihat ke arah asal suara tapi hanya rindang pohon yang menyambut mata.

Sementara tak jauh dari nya seseorang yang dia kenal tampak berdiri dengan angkuh.

"Apa yang kau lakukan?".

Irene menegang.

"Harles...keluar."

Dari balik pohon seorang pria keluar dengan seringaian yang tampak menyebalkan.
"Aku hanya menemani nya. Tidak membantu nya membiarkan Alea pergi."

Saat itu juga Irene melotot horor, sementara Ashley menegang dengan rahang kaku.
"Kau..."

Tatapan nya tajam menatap marah dan jijik pada Irene.
"Kau sungguh benar-benar menghalalkan segala cara."

Tatapan nya beralih menatap Harles.
"Akan ku biarkan kau menang di pertandingan berikutnya. Tapi urus dia." Kecam nya dengan nada penuh Sirat.

Setelah nya Ashley membuang gelas bambu berisi perasan air apel, dengan cepat menunggang kuda menembus hutan yang tampak tak berujung.

"Hei hei... terang-terangan mengatakan itu. Aku bukan pria seperti itu, oke?". Harles mendesah pasrah saat perkataan nya di abaikan seiring punggung Ashley yang menghilang.

Saat tatapan nya jatuh pada Irene dia menatap nya datar.
"Kau dengar?"

Irene dengan kaku berjalan mundur.
"Apa yang akan kau lakukan?".

"Karena dia mengatakan nya, maka aku akan meminta mengganti persyaratan nya." Senyuman meremehkan tersungging di sudut bibirnya.

"Kau bukanlah apa-apa, aku akan meminta ibu mu untuk menikahkan mu."

"Itu pelajaran yang cukup."

Tubuh Irene bergetar panik.
"Kau pikir kau siapa?".

"Kekasih sepupu kesayangan ibu mu." Enteng Harles.

Big Man! (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang