Pagi ini Reyhan sudah diperbolehkan pulang ke rumah, ruam di matanya juga sudah lebih baik dari sebelumnya.
Saat ini di mobil hanya ada Diana dan Reyhan saja, tujuan mereka langsung kembali ke Rumah. Sebenarnya Reyhan sudah meminta dari semalam bila besok ia ingin langsung masuk sekolah saja.
Namun Diana langsung melarang keras permintaan Reyhan kali ini, lebih baik tetap di Rumah sakit saja kalau baru pulang sudah minta diantar ke Sekolah. Kurang lebih seperti itu perkataan Diana tadi.
Tidak butuh waktu lama, sampailah mereka di Rumah yang terlihat sudah ada simbok yang kebetulan sedang menyapu bagian depan rumah.
Lantas simbok langsung membantu membawa tas baju miilik Reyhan, sedangkan Reyhan berjalan sendiri dengan tongkat penyangganya.
Reyhan langsung berjalan ke ruang tv mereka dan menidurkan diri di sofa yang ada di sana.
"Walaupun cuman tidur disofa tapi emang paling nyaman kalau sudah pulang ke rumah." Gumam Reyhan sambil sedikit merenggangkan badannya di sofa itu.
Diana terkekeh mendengar ucapan anaknya itu.
"Makanya Kaka jangan suka makan sembarangan, yaudah kamu tidur sini aja ya nggak usah di kamar." Goda Diana
"Mama tega banget nih, masak anaknya suruh tidur di luar." Rajuk Reyhan yang sontak membuat Diana tertawa.
"Mama nggak ke Kafe hari ini?"
"Nggak, kemarin udah mama selesaiin semua kerjaannya. Paling nanti siang ada Zoom tapi Mama dari rumah aja Zoom nya, Kamu ada mau apa gitu nggak biar mama bantu?"
"Nggak deh Mah, Reyhan mau belajar aja bentar nanti. Pasti udah ketinggalan banyak banget pelajaran."
Diana tidak heran dengan kebiasaaan Reyhan yang memang suka belajar, dilihat dari koleksi buku yang ia punya waktu dulu pertama mereka bertemu di rumah Solo.
Ia sudah menduga Reyhan memang anak yang rajin.
Dan Reyhan putuskan untuk belajar setelah jam makan siang saja sembari menemani Mamanya bekerja, Banyak sekali hal yang mereka bicarakan berdua.
Dari bagaimana kegiatan sekolah Reyhan sampai pekerjaan Diana mengurus Cafe dan Toko bunga bersamaan, Bahkan obrolan mereka masih berlanjut sampai di meja makan.
Jarang sekali Diana bisa makan siang di Rumah begini dengan suasan yang hangat bersama anaknya, biasanya ia akan makan sendiri kalaupun Heykal suaminya sedang tidak banyak kerjaan mereka akan makan siang berdua saja tanpa anak-anak.
Perlahan sisi cerewet Reyhan mulai terlihat dari sekarang, dan Diana bersyukur dengan hal itu. Bukankah itu berarti Reyhan sudah nyaman tinggal bersama mereka.
Makan siang pun selesai dan Diana bergegas lanjut menyelesaikan pekerjaannya di ruang tv sesuai permintaan Reyhan. Katanya ia ingin ada teman untuk belajar juga di sana.
Diana sudah menolak karena pasti akan mengganggu konsentrasi anak itu, tapi Reyhan bersikukuh mengatakan tidak apa-apa.
Cukup lama keheningan menyelimuti mereka selema beberapa jam, Reyhan yang sibuk membolak balikan buku pelajaran dan Diana yang juga masih fokus melakukan Zoom.
Tidak lama terlihat Reyhan berjalan menuju dapur mereka dengan tertatih ia kembali ke Ruang Tamu dan membawa beberapa es krim yang ia peluk di dadanya.
Ia pun berjalan sedikit mendekat kepada Diana dan sedikit berbisik pada sang Mama. "Reyhan boleh makan ini?" Tanya Reyhan dengan pelan.
Diana sedikit terkejut dengan jumlah es yang dibawa anaknya itu, lantas ia mengisyaratkan dengan dua darinya untuk cukup memakan dua es krim saja.
Ada sedikit rasa kecewa di wajah Reyhan dan Diana tahu soal itu, "Yang lainnya bisa dimakan besok lagi." Tambah Diana untuk menghibur sang anak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sipping My Life
Fiksi Remaja"Bukankah tuhan selalu tahu batas kemampuan semua umatnya." Setelah kepergian kedua orang tuanya, Reyhan mau tidak mau harus meninggalkan kota Solo dan pindah ke Jakarta. Dan disanalah kehidupan baru Reyhan dimulai bersama keluarga barunya.
