The Day

107 5 0
                                        

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, setelah beberapa hari Reyhan mencoba berlatih di Sekolah dan di Rumah walaupun tanpa piano ia hanya membaca nots juga hanya mempraktekan sambil menekan jarinya pada meja pinggiran meja.
Akhirnya sampai juga dihari pertunjukkan ini, setidaknya ia sudah berusaha berlatih sebaik mungkin.

Bahkan Aldo dan juga kedua orang tuanya belum tahu perihal ia ikut mengisi acara di Festival Sekolah kali ini, ia tidak berharap banyak untuk tidak dimarahi Kaka maupun Mama dan Ayahnya. Yang terpenting ia sudah mau melawan segala keraguan dan ketakutan yang selama ini rasakan.

Jujur saja awalnya ia sempat berpikir untuk berhenti dan tidak melanjutkan hobi nya ini. Ia seperti merasa tidak sanggup untuk bermain lagi seperti dulu, entah kenapa bayangan senyum mendiang Ayah juga Bundanya selalu teringat kembali kedalam ingatannya saat ia ingin memainkan Pianonya.

Reyhan sedang berjalan menuju Lapangan basket tempat Kaka dan teman-temannya bertanding, sebetulnya ia sudah diajak untuk kesana bersama mereka sejak tadi pagi namun ia berlasan untuk membeli cemilan sebentar padahal sebenarnya ia ingin ke ruangan klub musik dulu untuk mengecek sebentar alat musik yang akan ia pakai nanti.

Setidaknya itu sudah bisa membantunya sedikit mengurangi rasa gugup yang sudah ia rasakan sejak tadi malam, bahkan Mama dan Papanya sampai sadar ia menjadi seperti orang gelisah sedari sore.

Saat ditanya kenapa pun ia pasti hanya menjawab tidak apa-apa, bagaimanapun ia tidak mau membuat Mama Diana dan Papa Heykal merasa khawatir.

Sedari pagi sudah banyak orang-orang dari luar yang mendatangi Sekolah mereka, ketika ia sampai tadi juga sudah banyak stand yang berdiri area sekolah mereka.
Dari makanan berat, kue, sampai aksesoris juga ada banyak.

Ada juga stand berjualan dari teman-teman kelasnya yang lain, Reyhan yakin semakin siang nanti pasti makin banyak lagi orang yang akan datang.
Membayangkannya saja membuat ia jadi berkeringat dingin.

Setelah sampai ke dalam lapangan basket, hampir semua tribun sudah terisi penuh dengan pendukung dari sekolahnya juga dari sekolah Sasya yang menjadi lawan.
Ketika ia mencoba untuk naik ke tribun penonton ternyata ada salah satu panitia yang mendekatinya.

Panitia tersebut mengajaknya ke tribun yang berada disebelah bangku bawah tempat para pemain untuk menyiapkan diri, ternyata sang Kaka lah yang berpesan pada salah satu panitia untuk membawa Reyhan duduk disini saja.

Sambil berjalan menggunakan tongkat penyangga, Reyhan melihat Kale dan Gama yang melambai kepadanya mengisyaratkan untuk duduk disana saja sedangkan sang Kakak ia lihat ternyata masih sibuk berbicara dengan rekan tim lainnya.

"Reyhan duduk sini." Ajak Kale sambel mempersilahkan ia duduk, lalu Gama yang mendekat sambil memberikan botol minum padanya.

"Makasih banyak ya." Ucap Reyhan pada kedua temannya itu.

"Sama-sama Han, kita tinggal dulu ya Han kamu disini aja oke." Pesan Gama dan diangguki oleh Reyhan.

"Doain kita menang ya Han, jangan lupa semangatin kita juga nanti." kali ini Kale yang berpesan setelah itu berjalan mendekat ke teman timnya yang lain.

Dilihatnya sang Kaka yang berjalan mendekatinya sambil membawa beberapa bungkus kue.

"Ini dimakan dulu Han sambil nonton kita main." Astaga Kakaknya ini memang benar-benar seperti Mamanya lama-lama.

"Baru juga abis sarapan Aa, iya nanti aku makan." Balas Reyhan sambil menerima kue yang diberi Kakanya.

"Duduk sini aja nunggu kita selesai nggak papa kan, tadi aku lihat diluar udah banyak banget orang yang datang."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 23 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Sipping My LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang