Pagi ini rasanya Reyhan seperti tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya untuk bangun, dari semalam tangannya terasa pegal dan sakit efek dari terapi kemarin.
Padahal obat dari rumah sakit juga sudah ia minum, tapi rasanya seperti tidak ada bedanya.
Bagaimanapun harus ia paksakan untuk bangun dan berangkat sekolah, karena hari ini ia ada janji dengan Lily untuk berlatih bersama.
Setelah selesai bersiap ia lantas berjalan ke ruang makan, disana sudah ada Aldo dan Mama nya yang bercengkerama mungkin sambil menunggu ia dan Papa yang belum ada di sana.
Setelah semua orang sudah ada lantas mereka makan bersama-sama, momen seperti ini yang mengingatkannya pada mendiang Ayah dan Bunda yang sekarang tidak akan bisa lagi menemaninya makan bersama seperti ini.
"Mah, Pah, Reyhan nanti izin ikut lihat kegiatan klub musik ya di Sekolah." Izin Reyhan disela makan nya.
Sebenarnya sejak tadi ia agak was-was untuk meminta izin seperti ini, tapi kalau tidak minta izin bisa jadi panjang ceritanya.
"Iya boleh Kak, yang penting nggak usah ikut main dulu aja ya." Pesan sang Ayah dan dibalas anggukan oleh Reyhan.
"Nanti aku nunggu dilapangan aja ya Han." Ucap Aldo, ya Reyhan lupa satu lagi kalau ia biasa pulang bersama sang Kaka.
"Eh nggak usah Aa pulang dulu aja nggak papa, kemarin Lily bilang katanya rumahnya searah juga Aa. Kemarin diinfo hari ini agak lama kumpulnya katanya bahas acara pekan olahraga itu." Jawab Reyhan panjang lebar setelah Aldo melihatnya tidak yakin diawal alasannya.
"Oh oke deh, kalo nggak nanti telfon aja biar aku jemput balik." Ucap Aldo, karena memang hari ini sekolah mereka pulang lebih pagi.
Reyhan sedikit lega dengan jawaban kakanya itu.
"Loh Lily siapa kak, Mama kok baru tahu?" Tanya Diana dengan bingung
"Pacarnya Reyhan Mah." Sontak Papa Heykal sedikit terbatuk makanannya gara-gara mendengar ucapan anak sulungnya.
"Loh Sasya kamu tinggal jadinya Han?" Tanya Diana yang lagi-lagi membuat sang Papa terkejut
Reyhan yang mendengar ucapan asal dari Aldo juga Mamanya jadi semakin yakin ini definisi buah jatuh sepohon-pohonnya.
"Yang bener aja kamu Kak, Sasya cantiknya kaya gitu kamu Skip Han?" Ini lagi celetukan sang Papa yang semakin menambah keheranannya dengan keluarga ini.
Kenapa semuanya punya skill asal bunyi seperti ini.
"Mama Papa jangan suka percaya sama Aa, itu Musyrik namanya. Aa itu emang suka bikin aliran sesat." Jawab Reyhan
Aldo yang mendengar jawaban Mama dan Papanya tadi jelas tertawa lebar sekali, sungguh lucu sekali mengerjai Reyhan.
"Lily itu temen klub nya Reyhan Mah, Kebetulan dulu juga temen waktu ikut di festival musik gitu." Jelas Aldo
"Wah bagus dong Han, kamu jadi ada teman lama juga di sekolahmu ini." Ucap Heykal
"Iya Pah, Reyhan juga kaget bisa ketemu disini soalnya Reyhan sama sekali nggak tahu kalau dia sekolah disana juga."
"kapan-kapan ajak kesini aja Han main sama-sama, tapi ajak Sasya juga loh ya." Goda sang Mama
"Papa ketinggalan apa lagi ini kok ada Sasya terus dari tadi?"
"Udah Pa ini buat yang tau-tau aja." Canda Aldo yang jelas mengundang gelak tawa semua orang kecuali Papa Heykal yang bingung dengan Sasya yang sejak tadi jadi topik pembicaraan.
. . . .
Hari ini kegiatan pembelajaran hanya sebentar sampi jam 10 pagi, jelas saja banyak anak yang bersemangat untuk pulang.
Entah betul pulang atau pergi ketempat lain bersama teman-temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sipping My Life
Fiksi Remaja"Bukankah tuhan selalu tahu batas kemampuan semua umatnya." Setelah kepergian kedua orang tuanya, Reyhan mau tidak mau harus meninggalkan kota Solo dan pindah ke Jakarta. Dan disanalah kehidupan baru Reyhan dimulai bersama keluarga barunya.
