Perang Dunia 3 -random

10 4 0
                                        

Ehem, sebelum kita lanjutkan, mari kita mundurkan waktu sejenak ke beberapa puluh menit sebelumnya....

.

.

.

Sepanjang perjalanannya menuju ruangan Tim Lapangan, Kwonjoo mengelus tengkuknya yang tidak gatal. Sejak tadi, entah mengapa bulu kuduknya meremang, firasatnya seolah mengatakan akan ada hal yang sangat merepotkannya. Namun, ia langsung menggeleng, tak mungkin ada masalah, kan?

... Ya, kan?

Tepat ketika kakinya berhenti di depan pintu, Kwonjoo pun merenung. Entah mengapa, dirinya mulai meragukan pemikirannya sendiri saat mendengar suara-suara tak lazim yang berasal dari balik pintu itu. Namun, ia memantapkan hati untuk membuka pintu berplakat 'Tim Lapangan Golden Time Team' itu.

"Ayo! Ayo! Tangkep aja hyung!"

"Tendang aja itu anunya!"

"Bro, smackdown!"

"Kabur, hyungnim! Jangan sampe ketangkep!"

Dari semua situasi yang sudah dibayangkan Kwonjoo saat mendengar laporan Eunsoo sebelumnya, dirinya sama sekali tak membayangkan jika ruangan luas pemberian sang Kepala Kepolisian Vimo yang baik hati tiba-tiba berubah menjadi ring ala-ala MMA atau sejenisnya. Serangan sakit kepala seketika menyerang Kwonjoo.

Ah, seharusnya dirinya lebih cepat 'mengendalikan' makhluk-makhluk buas ini.

Di depannya, Kwonjoo bisa melihat Derek yang hampir menjotos Kangwoo yang kakinya terangkat nyaris menyentuh kepala pria berkebangsaan Amerika itu. Sedangkan Jinhyuk menarik kerah Joongki yang berusaha kabur melewati garis ring yang terbuat dari tali tambang—bahkan Kwonjoo pun tak tahu darimana asalnya—yang diikatkan pada kaki kursi dan ditempatkan di empat sudut yang berbeda.

"Astaganaga, kalian semua sedang apa sebenarnya?"

Mendengar suara wanita yang menjadi pimpinan Tim Golden Time itu, semua orang—termasuk empat orang lain yang sebelumnya tengah asyik sabung timjang—langsung menghentikan aktivitas mereka dan berpura-pura kembali bersikap normal.

"Ehem, kita sedang... berusaha saling kenal dan mengakrabkan diri...?" jawab Jinhyuk dengan nada sedikit ragu, yang kemudian diikuti anggukan oleh 7 pria lainnya.

"Dengan mengadakan pertandingan di dalam kantor...?" tanya Kwonjoo sangsi.

"Ini cuma sparring ringan kok, Direktur Kang. Sebagai para bawahan sekaligus wasit, kami pastikan takkan ada yang terluka," jelas Kwangsoo yang didaulat sebagai wasit dadakan pertaru—pertandingan tadi.

"Benar. Bahkan tadi awalnya mau tanding ala gangster Amerika karena muka mereka mirip gangs—"

Mulut Chad seketika dibungkam oleh Kwangsoo dan Choonbyung hingga ketiganya langsung terkapar di lantai—terlihat seperti adegan men-smackdown. Sedangkan Daeshik di pojokan berusaha menahan tawanya, sekilas terdengar  "Jinhyuk-hyung emang gangster" dan "Semua mukanya kek gangster" yang diikuti dengan cekikikan aneh bocor dari mulutnya. Namun, semua gumaman absurd itu seketika lenyap saat ia merasakan tepukan ringan di kedua bahunya, yang rupanya berasal dari Joongki (yang tersenyum 'cerah') serta Derek (dengan muka seriusnya) yang membuat sirine bahaya Daeshik menyala.

Kwonjoo memilih tak melihat adegan 'tutup mulut' terhadap Chad dan Daeshik yang malang itu, atensinya kemudian beralih pada Kangwoo yang sudah duduk sembari bersidekap dengan wajah sok cool-nya. "Kau nggak punya pembelaan seperti yang lain?"

"Untuk apa?" Sebelah alis Kangwoo terangkat, meskipun hatinya sedikit ciut saat melihat tatapan tajam dari sang—ehem—ayangnya. "Aku cuma diseret yang lain, tahu!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Moksori - voiceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang