Ceritanya spesial ulang tahun Kang Kwonjoo, tapi oknumnya ga muncul ygy wkwkwk
.
.
Suatu hari, tanpa sengaja Jinhyuk menemukan foto-fotonya saat masih berada di GTT, dan ia kembali mengingat masa-masa itu.
.
.
.
Suara debaman hasil peraduan sebuah kotak dengan lantai terdengar menggema dalam sebuah ruangan, yang tengah dipenuhi oleh kotak-kotak penyimpanan barang serta beraneka barang lain yang berserakan. Di tengah kekacauan itu, sesosok pria baya sedang duduk di depan sebuah lemari bufet yang ada tepat di bawah televisi, membongkar isinya untuk kemudian dimasukkan ke dalam beberapa kotak yang terbuka di sebelahnya.
"Astaga, kapan ya terakhir kali aku membongkar lemari ini? Banyak sekali debunya," Pria itu mengambil barang dari laci lemari tersebut sembari terbatuk ringan, efek debu yang ikut terangkat setelah sekian lama terkurung. "Atau jangan-jangan terakhir kali waktu pindahan, ya?"
"Appa, baju-baju kita mau dimasukkan ke mana?"
Dari arah pintu, sesosok pemuda muncul menghampiri sosok yang ia panggil ayah itu, penasaran apa yang tengah dibongkar oleh sang ayah. Namun kurang beberapa langkah, ia langsung mundur sambil bersin-bersin. "Astaga, disini berdebu semua. Mau kuambilkan masker?"
"Appa-mu ini kuat tahu, Dongwoo-ya. Mending kamu saja yang pakai," sahut Jinhyuk, sang ayah sembari membusungkan dadanya, membuat Dongwoo hanya bisa mendecih sembari menggeleng pelan, tak habis pikir melihat tingkah sang ayah.
"Pilah aja dulu mana baju yang sering dan jarang kau pakai. Yang sering kau pakai masukkan ke koper, sedangkan sisanya masukkan kotak saja. Baju appa juga masukkan ke koper aja, kecuali baju untuk musim dingin masukkan kotak aja setelah di-vacuum."
Dongwoo mengangguk paham, ia pun segera beralih kembali masuk ke kamar—tempat ia muncul sebelumnya. Jinhyuk pun melanjutkan acaranya yang belum selesai, membongkar isi lemari bufet.
Melihat semua debu yang menempel di mana-mana, Jinhyuk memutuskan untuk bangkit sejenak mengambil lap. Dengan telaten, ia mengelap setiap barang dari rak tersebut. Mulai dari beberapa mainan Dongwoo yang masih tersimpan, piagam miliknya serta sang anak, setumpuk buku yang dibacanya semasa berusaha beradaptasi di Amerika, peralatan elektronik, hingga beberapa pigura serta album berisi berbagai foto di dalamnya.
Saat mengelap pigura foto dirinya bersama Dongwoo dan mendiang istrinya, senyuman lebar terlukis di wajahnya. Ada sedikit perasaan rindu yang menyelinap dalam dadanya.
"Jihye-ya, terakhir kali kau melihat Dongwoo masih sekecil itu. Kau lihat dia sekarang? Tingginya bahkan sudah menyalipku," Jinhyuk sedikit mendecak, tetapi senyumnya masih belum lepas dari wajahnya. "Besok sekembalinya di Korea, kami pasti akan ke tempatmu dulu. Kau lihat saja sudah sebesar dan sesehat apa anak kita sekarang, haha."
Jinhyuk tak bisa menampik, terkadang masih ada perasaan sedih dan menyesal tiap kali mengingat kematian istrinya. Menyesal, karena dahulu ia tak bisa mencegah kematiannya. Serta sedih, karena istrinya tak bisa melihat perkembangan drastis anaknya yang kini sudah sangat membaik. Namun, tak ada gunanya menyesali itu semua. Kini tujuan hidupnya hanya untuk Dongwoo, apapun ia lakukan demi sang anak. Itu adalah janji yang sudah ia tanamkan di dalam hatinya semenjak kematian istrinya.
Setelah memastikan pigura keluarga itu telah aman tersimpan dalam kotak, Jinhyuk pun lanjut mengelap pigura serta album foto lainnya. Foto saat Dongwoo pertama kali masuk sekolah di Amerika, foto saat pertama kali bermain di taman bermain, dan beberapa foto lain yang berisi kenangan yang tak ingin ia lupakan. Saking banyaknya yang harus ia bersihkan sebelum dimasukkan dalam kotak, semakin lama Jinhyuk pun mulai mengomel entah pada siapa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moksori - voice
FanfictionTim Golden Time adalah sebuah tim khusus yang pertama kali berdiri di Kepolisian Wilayah Sungwun, dan semakin berkembang di Kepolisian Wilayah Poongsan dan Pulau Vimo. Dikenal sebagai tim yang selalu sukses dalam memecahkan kasus code zero dan berh...
