Like a Star

49 9 13
                                        

Setiap memandang ke langit malam, kuharap salah satu di antara bintang-bintang yang jauh di atas sana adalah dirimu.

Kwonjoo-Derek with their stars.

Inspiration song: Ryeowook - Like a Star

.

.

.

Warna biru gelap telah menjadi identitas langit yang menaungi Pulau Vimo sejak beberapa jam yang lalu. Kwonjoo baru menyadarinya saat ia tengah mencari udara segar sembari beristirahat sejenak dari pekerjaan.

Seharian penuh ini ia habiskan untuk menunaikan pekerjaannya sebagai Direktur Pusat Panggilan. Dirinya terlalu sibuk berurusan dengan laporan, menjawab telepon, mengurus kasus dengan berbagai code-tentu saja yang paling menguras tenaganya ketika ada code zero. Karena itulah ia berada di sini, kabur sejenak setelah menyelesaikan sebagian besar pekerjaannya menuju ke atap gedung kepolisian sembari memandangi langit dalam kesendirian dan segelas kopi di tangannya. Ia pun baru menyadari bahwa langit sudah berganti malam dengan bulan dan bintang yang bersinar temaram di atas sana, membuatnya semakin sadar jika dirinya sudah hampir seharian terkungkung di Pusat Panggilan.

Memang tak banyak hal yang bisa dinikmati dari langit malam di hari kerja. Namun, bagi Kwonjoo yang setiap hari harus terjebak di ruangan sempit yang begitu ramai setiap harinya, tentu menikmati pemandangan langit Vimo yang bersih dengan angin sepoi-sepoinya menjadi salah satu caranya menikmati waktu istirahat-jauh lebih baik daripada melihat seragam dengan warna serupa langit malam sepanjang hari.

Entah sejak kapan, Kwonjoo mulai suka memandangi langit malam. Bentangan biru gelap sejauh mata memandang dengan kerlipan bintang yang sesekali terlihat, seakan membawa dirinya larut dalam ketenangan semu. Sepertinya akan lebih banyak terlihat bintang-bintang jika pergi ke salah satu pantai di Vimo dan menikmati suara deburan ombaknya, tetapi Kwonjoo sudah cukup puas bisa beristirahat di atap ditemani angin malam yang tenang seperti saat ini.

"Direktur Kang?"

Ditolehkan kepalanya ketika mendengar suara pria memanggilnya dari belakang. Sosok Derek muncul dengan sebelah tangannya juga memegang segelas kopi dingin. Jaket kulit kesanyangannya ia sampirkan di pundaknya, memperlihatkan tubuh tegap dan tangan berototnya yang hanya berbalut kaus putih polos.

Hanya membalas panggilan itu dengan sedikit anggukan dan senyuman kecil, Kwonjoo membiarkan sang detektif pindahan dari Amerika itu mendekatinya yang masih asyik bersandar di pagar pengaman rooftop. Awalnya, Kwonjoo sedikit terkejut akan kehadiran Derek yang ia pikir harusnya saat ini tengah beristirahat di ruangan Tim Lapangan setelah menuntaskan kasus code one beberapa saat yang lalu. Namun, ia langsung memahami bahwa mungkin saja sama seperti dirinya, Derek juga berpikir untuk istirahat sejenak di atap gedung yang sepi dan tenang ini.

"Aku tak menduga kau ada di sini. Sedang istirahat?" Derek melanjutkan ucapannya saat ia berada tepat di sebelah Kwonjoo, ikut menikmati hembusan angin malam yang sejuk.

"Sesekali istirahat di luar ternyata jauh lebih baik daripada terkurung di Pusat seharian," balas Kwonjoo santai.

"Jika memang ingin istirahat di luar, lebih baik sekalian ajak rekan-rekanmu makan di luar. Kudengar mereka tengah mendata pesanan makanan di bawah tadi."

"Dan mengajak mereka meninggalkan Pusat Panggilan di tengah jam kerja?" Kwonjoo tertawa kecil. "Mereka pesan makanan karena aku yang memintanya, sebagai ganti karena batal makan malam bersama kemarin."

"Pantas saja Komandan Park terlihat paling semangat, ternyata karena dia tak perlu keluar uang, ya," gurau Derek, yang hanya dibalas dengan tawa ringan dari Kwonjoo.

Keheningan melingkupi keduanya, menikmati segelas kopi di masing-masing tangan. Tak ada kecanggungan, hanya ada rasa damai yang dibawa hembusan angin dan ditemani cahaya bintang nun jauh di angkasa sana.

"Sudah lama sekali aku tak melihat bintang di langit malam. Terakhir kali aku melihatnya bersama Lisa di California beberapa tahun yang lalu, di sana ada tempat dimana bisa melihat bintang yang jauh lebih banyak daripada di sini," gumam Derek, matanya masih tak lepas memandang langit. Kwonjoo yang mendengarnya memilih untuk diam menyimak.

"Terkadang, aku merasa Lisa dan ibuku menjadi salah satu bintang di sana untuk mengawasiku." Kekehan pelan lolos dari bibir Derek. "Terdengar sedikit kekanakan, ya?"

"Tidak juga."

Lirikan Derek sedikit bergeser ke arah sang wanita yang, entah mengapa, tatapannya mulai menyendu.

"Aku juga... selalu berharap mereka yang sudah pergi terlebih dahulu tetap melihatku dari atas sana, seperti bintang-bintang itu."

Kwonjoo menolehkan kepalanya ke arah Derek, dengan senyuman lembut terukir di bibirnya. "Jadi, percaya saja. Dengan begitu, kita akan terus berusaha yang terbaik dan membuat mereka bangga melihat kita."

Meski sudut bibirnya naik ke atas membentuk sebuah senyuman, tetapi Derek bisa melihat percikan ekspresi sendu, rindu, serta penyesalan yang bercampur aduk dari tatapan mata Kwonjoo. Sebuah tatapan yang sangat Derek kenali, karena dirinya sering melihat sinar mata yang sama tiap kali berada di depan cermin.

Tatapan seseorang yang pernah mengalami kehilangan.

Meskipun begitu, Derek memilih untuk diam tentang itu dan memilih untuk membalas senyum.

"Omong-omong, kau tidak kedinginan?"

"Hm, tidak terlalu."

Derek kembali melirik Kwonjoo. Meski wanita itu bilang tidak kedinginan, samar-samar Derek bisa melihat gelagat Kwonjoo yang sesekali mengusap-usap tangannya ke gelas kopi yang sepertinya sudah mulai mendingin itu. Sembari mendengus ringan, ia menyampirkan jaket kulitnya ke punggung Kwonjoo yang sedikit terperanjat.

"Pakai saja kalau memang masih ingin di sini," tukas Derek saat tahu Kwonjoo memandangnya bingung.

Pipi Kwonjoo sedikit memerah. Dirinya sedikit terkejut saat Derek memberikan jaketnya karena menyadari dirinya sedikit kedinginan karena hembusan angin malam awal musim gugur. Ia sama sekali tak terbiasa menerima perlakuan seperti ini, jadi Kwonjoo pun bingung harus bereaksi seperti apa.

"... Terima kasih."

Derek hanya mengangguk singkat, atensinya kembali terarah pada langit Vimo yang cukup cerah. Kwonjoo pun ikut melakukan hal yang sama. Keheningan pun menyelimuti keduanya. Bukan keheningan penuh hawa intimidasi yang mampu mencekik siapapun yang merasakannya, justru hanya ada rasa tenang penuh kedamaian yang mengelilingi dua makhluk berbeda jenis kelamin itu.

Sayangnya, keheningan tersebut hanya bertahan selama beberapa menit, berkat suara telepon milik Kwonjoo yang bergetar pelan. Saat Kwonjoo mengangkatnya, suara Joongki pun menyapa dari seberang telepon.

"Direktur Kang! Semua makanannya sudah datang, ayo kemari!"

"Baiklah, Komandan Park. Aku segera kesana," balas Kwonjoo, kemudian ia mematikan panggilan tersebut. Ia pun menolehkan kepalanya ke arah Derek. "Mau turun?" tawarnya.

Derek hanya mengangguk singkat dan mengikuti langkah Kwonjoo menuju pintu keluar. Untuk sesaat, ia kembali mendongak memandang langit malam yang masih berhiaskan gemerlap bintang.

Tolong terus amati kami dari atas sana, ya.

.

.

.

... Kayaknya ini pertama kali aku nulis tentang KangDer, ya? Yah, bisa dibilang ini fanfic pertamaku ttg Derek.

Duluu bgt, awalnya agak hambar waktu nulis ff ttg Voice 4, entahlah kekny emg masih belom mupon dr V3 wkwk. Tapi setelah bbrp saat hiatus nulis dan rewatch V4 bbrp kali, entah kenapa mulai gatel pengen nulis fanfic V4 😂

Sebenernya fic ini dibuatnya blm lama ini sih, baru bbrp bulan yg lalu bikin prompt-nya. Tapi sepanjang nulis lumayan enjoy aja, entah karena cerita ini muncul ketika aku lg asik dengerin lagu ballad ato gimana gatau deh 😂 Karena kalo liat bbrp cerita yg lain... ah, lupakan aja draf yg jumlahnya udah hampir menyamai jumlah bab yg terupload itu wkwk

Oke deh, see you gatau kapan~ Tapi kelamaan ga si kalo nungguin Voice 5 tayang? 🤡

Moksori - voiceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang