"Seperti halnya sang Putri Tidur dalam cerita dongeng Anak-anak, yang harus mendapat ciuman magis dari sang Pangeran, cinta sejatinya, agar terbangun dari kutukan.
Begitupun Arthur, ia memerlukan Mate nya, belahan jiwanya, cinta sejatinya u...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Upacara pemujaan purnama merah yang ditunggu-tunggu pun tiba, Ally kecil sudah siap dengan gaun putih yang mengembang di bagian bawah. Bertabur batu kristal kecil yang berkilauan saat terkena cahaya, sementara jepit pita besar lembut berwarna senada terpasang di rambutnya yang di gelung dengan rapi.
"Terima kasih, bibi Jill. Sudah membantu Ally berdandan rapi." Serunya dengan senyum lebar dan nada riang pada bibi pengasuhnya yang baru beberapa hari ini bekerja, tapi Ally sudah sangat nyaman bersamanya.
"Sama-sama, Nona. Nona Ally sangat imut memakai gaun ini, sangat cocok." Jill memuji, ia ikut merasa senang melihat nonanya tampak ceria.
"Hihi, terimakasih. Bibi Jill. Gaun ini memang sangat cantik. Kak Arthur yang memberikannya padaku."
Gaun itu memang pemberian Arthur untuk dikenakannya pada acara pemujaan malam purnama. Arthur bilang akan ada kejutan besar malam ini, dan ia menyuruh Ally untuk bersiap yang cantik karena akan menjadi ratunya.
Sejujurnya Ally tidak mengerti apa yang dikatakan pria yang sudah ia anggap kakak itu. Apakah mereka akan bermain seperti Raja dan Ratu di negeri dongeng seperti yang sering mereka mainkan saat di sabana?
"Dia pasti senang karena anda memakainya." Sahut Jill.
Ia tidak tahu siapa Arthur yang dimaksud Ally, Ally hanya selalu menceritakan padanya tentang seorang kakak baik yang sering mengajaknya bermain di sabana. Sejujurnya Jill merasa aneh, apakah pria itu teman kakak laki-laki Ally? Karena jika bukan, Jill takut pria yang sering bermain dengan Ally itu adalah orang jahat. Tapi mungkin pikirannya terlalu jauh.
"Iya, hari ini aku akan bertemu lagi dengannya di acara pemujaan. Dia bilang akan menjadikanku Ratu!" Mata Ally berbinar-binar saat mengatakannya, "ally akan kenalkan Jill padanya nanti."
Jill tertawa sembari mengusap pipi anak itu yang kemerahan dengan gemas. Mengingatkannya pada permen kapas lembut berwarna merah muda. Kenapa ada anak selucu ini?
"Baiklah, saya akan menantikannya. Nona." Jawab Jill, "sekarang, karena nona sudah siap. Kita akan segera berangkat. Tuan besar sebentar lagi pasti datang menjemput anda."
Jill menghela Ally keluar dari dalam kamar untuk segera bergegas, langit sudah akan berganti gelap, dan upacara pemujaan sebentar lagi akan dimulai. Jill ditugaskan agar mempersiapkan Ally sebelum kemudian akan dijemput oleh Ayahnya.
"Emm, bibi Jill." Ally mendongak untuk menoleh pada Jill yang tinggi. Sebelah tangannya menahan ujung pakaian Jill dengan hati-hati.
"Ya, ada apa nona?"
"Sebelum pergi, aku ingin menemui Lea dulu, apakah boleh?" Pinta Ally dengan nada pelan, Terkadang Jill seperti melihat Ally ragu-ragu saat ingin mengatakan sesuatu padanya, seolah ia takut akan reaksi yang akan diterimanya atas setiap permintaan. Padahal tentu saja Jill tidak mungkin menolak.