"Seperti halnya sang Putri Tidur dalam cerita dongeng Anak-anak, yang harus mendapat ciuman magis dari sang Pangeran, cinta sejatinya, agar terbangun dari kutukan.
Begitupun Arthur, ia memerlukan Mate nya, belahan jiwanya, cinta sejatinya u...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pertama aku mau kasih tau aja ke kalian, kalau part ini lumayan panjang. Tapi ini part flashback terakhir ya, di part depan udah selesai. Oke deh semoga gak kepanjangan dan bikin mabok bacanya.
Selamat membaca.
***
A
lly terbangun dengan napas tersengal. Kegelapan gudang yang pengap terasa menghimpit paru-parunya. Kepalanya berdenyut nyeri, dan sisa air mata yang mengering membuat pipinya terasa kaku.
"Kak Jack... Bibi Jill, tolong... Ally takut..." Suaranya parau dan ketakutan, lalu Ally kembali menangis, namun suaranya hanya memantul di antara dinding gudang yang gelap.
di tengah tangisnya, tiba-tiba, sebuah suara ketukan dari arah pintu terdengar.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan itu terdengar pelan, disusul suara familiar yang Ally kenali.
"Ally? Kau di dalam?" Suara Lea memanggilnya pelan. Sontak menghentikan tangis ketakutan Ally.
"Lea?" Jawabnya terisak.
"Iya, ini Lea. Ukhuk... " Suara itu terdengar sengau dan lemah, sesekali terputus oleh batuk kecil. "Ally, apa kau baik-baik saja?"
Ally yang masih terisak merangkak mendekati pintu, mengabaikan debu yang mengotori gaun putihnya. Sinar lampu dari celah dibawah pintu membuat sedikit rasa takut Ally hilang. Kemudian, Ia menempelkan telinganya ke kayu pintu yang dingin.
"Lea... Lea, tolong buka pintunya. Ally takut, di sini gelap, hiks..." Ally mengadu sambil menangis sesenggukan. Kedua tangannya memukul-mukul daun pintu kayu itu dengan lemah.
"Tunggu sebentar ya, Ally. Lea akan mencari bantuan!" seru Lea dari balik pintu, suaranya terdengar bergetar karena panik. "Tadi Lea melihat Kak Jack membawa kuncinya pergi, tapi Lea akan cari bantuan yang lain untuk mengeluarkan Ally dari sana."
"I-iya, Ally akan tunggu," jawab Ally dengan suara parau. Ia memeluk lututnya erat-erat, mencoba mengusir bayangan gelap yang seolah mengepungnya di ruangan ini.
"Lea akan pergi dulu, nanti Lea pasti kembali. Ally tenang ya!" Lea menempelkan telapak tangannya ke pintu, seolah ingin menyalurkan ketenangan kepada adiknya sebelum akhirnya ia berbalik dan berlari menjauh dengan langkah kaki kecilnya yang tertatih.
Ally yang ditinggalkan lagi, menunggu dengan ketakutan, berharap Lea segera kembali membawa seseorang untuk mengeluarkannya dari sini. Namun, setelah lama menunggu Lea tidak juga kembali dan tidak ada siapapun juga yang datang. Ally yang sudah lelah menangis mencoba melihat ke sekelilingnya, bermaksud mencari jalan keluar. Gadis kecil itu merangkak di lantai kayu sambil meraba-raba sekitarnya.