"Seperti halnya sang Putri Tidur dalam cerita dongeng Anak-anak, yang harus mendapat ciuman magis dari sang Pangeran, cinta sejatinya, agar terbangun dari kutukan.
Begitupun Arthur, ia memerlukan Mate nya, belahan jiwanya, cinta sejatinya u...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah segel kegelapan menelan Amarantha dalam keheningan abadi, kedamaian perlahan kembali menyelimuti Corleone Pack. Bagaikan embun pagi yang menyejukkan setelah badai. Insiden mengerikan itu, dengan segala kehancuran dan kengeriannya, ditutup rapat dari pengetahuan warga pack.
Arthur, dengan kebijaksanaannya sebagai Alpha, tak ingin menimbulkan kekhawatiran dan kegaduhan yang tidak perlu. Perintahnya jelas, siapa pun yang mengetahui kebenaran insiden itu harus menjaga rahasia rapat-rapat. Setelah ketegangan mereda, fokus seluruh pack beralih pada persiapan Upacara Purnama Merah, sebuah festival yang dinanti-nantikan dan hanya datang belasan tahun sekali. Euforia menyelimuti setiap sudut pack; tawa riang dan sorak-sorai anak-anak memenuhi udara, menyambut perayaan agung yang dijanjikan akan membawa berkah dan kemakmuran.
Sebagai Pack Corleone yang merupakan tempat pertama Dewi Bulan turun ke bumi, upacara ini memiliki makna spiritual yang mendalam. Altar suci menjadi empat pemujaan akan diselenggarakan, mulai dihias dengan ornamen-ornamen sakral dan bunga-bunga langka yang hanya mekar di bawah cahaya purnama. Banyak pack lain diperkirakan akan hadir untuk turut serta dalam pemujaan agung ini, menambah semarak suasana dan mempererat tali persaudaraan antar-pack. Para tetua sibuk menyiapkan ritual kuno, sementara para warrior melipatgandakan pengamanan untuk memastikan tidak ada bahaya yang mengganggu hari sakral itu. Semua orang larut dalam kebahagiaan, menantikan malam suci yang akan datang.
Kebahagiaan itu juga turut dirasakan oleh Ally, gadis kecil berambut ikal dengan mata berbinar-binar itu. Tengah berjalan-jalan santai bersama Arthur di pack house, tangan mungilnya menggenggam erat jemari kokoh sang Alpha. Setiap kali menemukan hal menarik, Ally, dengan segala rasa ingin tahu khas anak-anak, melontarkan pertanyaan-pertanyaan random yang membuat Arthur tak henti tersenyum dan terkekeh geli. Matanya tak lepas dari sosok mungil yang begitu menggemaskan di sampingnya, seolah ingin menyerap setiap momen kebersamaan mereka dan menyimpannya dalam hati agar menjadi memori indah.
"Bagaimana, kau suka rumahku, pumpkin?" tanya Arthur, suaranya lembut, ia menepati janji lama untuk membawa Althea bermain di kediamannya yang megah. Arthur sangat merasa bersalah karena ia sempat melupakan kehadiran Matenya, tetapi ia haruselupakan semua itu agar bisa menata masa depan yang lebih baik bersama Ally.
Ally mengangguk semangat, rambutnya bergoyang-goyang. "Aku suka sekali! Rumah kak Arthur seperti istana di negeri dongeng yang pernah kubaca di buku cerita!"
Arthur terkekeh pelan, tawa renyah keluar dari bibirnya mendengar jawaban polos itu. "Kalau begitu, apa kau mau jadi puterinya?"
"Memang boleh?" tanya Ally lugu, mengerutkan kening kecilnya. "Aku kan masih kecil. Di buku dongeng, puterinya bukan anak kecil."
Arthur kembali tertawa, lalu berlutut, menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu. Postur tubuhnya yang tinggi, tegap, dan besar begitu kontras dengan tubuh mungil Ally. Kadang, Arthur diliputi kekhawatiran-takut ia akan menyakiti mate-nya secara tak sengaja, hanya dengan gerakannya kecil saja