Thirty Seven

4.7K 316 11
                                        

Di tengah remangnya kegelapan, Amarantha larut dalam ritual pemujaan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di tengah remangnya kegelapan, Amarantha larut dalam ritual pemujaan. Ornamen-ornamen kelam dan lambang bintang hitam terbalik memenuhi ruangan. Duduk di tengah lingkaran bintang yang terukir dari darahnya sendiri, ia merapalkan mantra-mantra yang telah dihapalnya diluar kepala.

Di hadapannya, sebuah altar batu menopang bejana besar yang mengobarkan api hitam, tempat siluet mata dan mulut bergigi runcing Azael, iblis kegelapan pembawa malapetaka yang wujudnya mulai terbentuk.

Ritual ini adalah upaya Amarantha untuk memperkuat sihir hitam yang ia miliki dari kontraknya dengan Azael. Iblis itu, yang tersegel di neraka, perlahan bangkit berkat perjanjian mereka. Namun, kebangkitan penuh Azael membutuhkan kekuatan yang sangat besar. Amarantha, meski kuat, tidak cukup untuk itu. Oleh karena itu, setiap beberapa kali bulan purnama, ia harus melakukan pemujaan darah demi sedikit demi sedikit membangkitkan kekuatan Azael.

Semua ini Amarantha lakukan hanya untuk memiliki Arthur. Cinta telah membutakannya, mendorongnya untuk melanggar norma dan takdir Dewa, karena ia tahu Arthur tidak ditakdirkan untuknya. Demi tujuannya, Amarantha rela menggadaikan jiwanya pada iblis.

Tiba-tiba, di tengah ritual yang berlangsung, tubuh Amarantha bergetar hebat. Kekuatan sihir hitam mengelilinginya dengan gerakan kacau, seolah menyerangnya.

“Aaaaarrgghhh!” lolongnya. Amarantha tersungkur ke lantai. Ia merangkak, mencakarkan tangannya seolah sangat kesakitan, tubuhnya mengeluarkan sulur-sulur hitam, dan matanya berubah pekat.

“Aaaaarrrghhhhh, keparat! Siapa yang berani melakukan ini padaku!” sebuah teriakan berat lain terdengar dari api hitam yang kini meliuk-liuk kacau,  hampir padam.

“Tidak! Tidak! Tidak!”

Melihat api Azael akan lenyap, Amarantha segera menyayat tangannya. Ia berjalan terhuyung menuju bejana dan meneteskan darahnya. Berharap hal itu bisa mempertahankan Azael. Namun, tak ada yang berubah. Sebaliknya, ia menjerit hebat, tubuhnya meluruh ke lantai, terbatuk-batuk menyedihkan.

“Okhh, okhok... Okhh.” Amarantha batuk hebat, memuntahkan darah hitam dalam jumlah banyak dari mulutnya.

“Sial, akhh... Sialan,” umpatnya. “Arthur... Sesuatu pasti terjadi padanya. Sialan!”

“Tidak, tidak, tidak! Sihir itu tidak boleh lepas darinya! Arthur harus menjadi milikku selamanya! Aaaaarrggh!” Ia histeris, mengepalkan tangan kuat-kuat dan memukulkannya berulang kali ke lantai.

Terhuyung, ia bangkit, membungkuk ke arah bejana api hitam yang kini tersisa nyala kecil. Ia memukul-mukul bejana itu seperti orang gila. Kerja kerasnya membangkitkan Azael hancur sudah.

“Sia-sia... Semuanya sia-sia! Sialan! Baiklah, tidak ada jalan lain.”

Amarantha kemudian mengucapkan satu mantra terlarang yang dihafalnya di luar kepala. Lalu, api itu melayang, terserap ke dalam tubuhnya. Ini adalah ritual terlarang dan pelanggaran kontrak sebagai kontraktor, dengan konsekuensi yang sangat besar bagi Amarantha. Namun, ia tidak peduli. Bagaimanapun tujuannya harus tercapai. Ia sudah sejauh ini, dan kegagalan bukan hal yang ia inginkan.

The Sleeping Alpha Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang