Kisah ini menceritakan tentang anak perempuan, Asher. Yang diubah tampilan nya menjadi laki-laki oleh ibu nya, tak segan-segan ibu nya bahkan menyuruh nya untuk menjalin hubungan apapun asalkan ia menjalankan nya dengan wanita. Namun, akan kah ia ba...
Ditengah-tengah dia membersihkan diri, Anora teringat akan kuliah nya. Dan mulai khawatir dengan beasiswa nya. Dengan tergesah-gesah, Anora menyelesaikan mandi nya, dan langsung pergi mencari ponsel nya untuk menghubungi pihak kampus.
Saat dia mengecek ponsel nya, benar saja. banyak sekali panggilan tidak terjawab dari teman dan juga pihak kampus. ada sekitar 18 panggilan tak terjawab dari masing-masing nomor. Namun, ada satu nomor yang menjadi pusat perhatian nya, nomor tersebut terlihat sangat asing bagi nya. Kekhawatiran dan rasa penasaran menghantui isi kepala nya. Dengan tangan nya yang sangat gemetar, dan jantung yang mendebar kencang, Anora membuka isi pesan tersebut. Dan betapa patah hati nya ia ketika membaca dengan jelas apa isi surat yang dikirim melalui nomor tersebut.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Baru saja Anora membaca paragraf pertama dari surat tersebut, namun hati nya sudah tidak kuat menahan betapa sakit nya hal tersebut baginya. Rasa sakit di kepala nya seakan tertimpa ratusan kali logam berat, nafas nya sesak tak karuan, tenggorokan nya terasa seperti di ikat mati, dan jantung yang terasa di tusuk menghantam nya di saat yang bersamaan.
Karena rasa kesepian dan putus asa nya, Anora mulai memeluk dirinya sendiri dan duduk meringkuk di dalam sepi dan sunyi nya rumah tersebut. Ponsel nya terjatuh, kedua mata nya me-merah, dan dengan cepat, airmata keluar dari kedua mata nya, membanjiri kedua mata hingga dagu nya.
***
Di keesokan harinya, Anora tetap berjuang untuk mengambil posisi nya kembali. Yaitu untuk menjadi mahasiswi di Troghsons lagi. Dengan tenang, Anora berjalan ke ruang BAAK. Langkahnya pelan, tapi matanya tajam menatap lurus ke depan. Di dadanya, ada rasa yang belum sempat dia cerna. antara takut, kecewa, dan masih sedikit harapan.
Begitu sampai di depan pintu, ia menarik napas panjang. Ruangan itu tampak seperti biasa : deretan meja, tumpukan berkas, rak buku dan suara printer yang sesekali berbunyi.
"p-permisi..." ucap nya pelan.
Petugas administrasi yang sedang sibuk mengetik menatap sekilas, lalu mencari sesuatu di laci.
"atas nama?" tanya petugas tersebut dengan sangat ketus.
"A-anora..Celestie..." balas Anora, suara dan tubuh nya tidak bisa berhenti bergetar.
"huuffftt...yap!. Anora, kamu nih...gak tau diri kah?-"
"maksudnya?" Anora terkejut ketika mendengar kalimat yang di lontarkan oleh petugas tersebut, karena bagaimana tidak? ucapan nya terdengar sangat personal.
"eitts...bahkan disaat-saat kayak gini aja kamu gak ngehormatin saya. Saya jadi aneh, bisa-bisa nya pihak kampus mau nerima orang se-gak tau diri ini." sambung nya dengan nada ketus.