65. SEEN.

123 9 0
                                        

Sesungguhnya, kehadiran Alina cukup mengganggu Anora yang tidak tahu apa-apa. Mereka berdua duduk di satu meja yang sama, saling berhadapan, dan menunggu salah satu dari keduanya membuka topik terlebih dahulu.

Anora sudah terbiasa dengan suasana Nocturne yang berselimuti keremangan. namun baru kali ini ia merasakan wajahnya yang terasa kaku, tangannya gemetar, dan hatinya berdebar cukup kencang. tidak siap bahwa ia akan mengetahui beberapa fakta baru.

"jadi... kamu pacar baru Asher?" ujar Alina setelah beberapa menit kesunyian menghantui Nocturne.

"jawaban apa yang kamu mau?" balas Anora santai

"well, aku sih gak berharap kamu bilang bukan atau iya sih. aku cuma mau ngingetin aja..." ia berhenti sejenak, membuka tasnya, dan membanting beberapa lembaran foto yang terlihat baru saja di cetak di atas meja. Beberapa foto tersebut menunjukkan Alina sedang berada di atas tubuh Asher yang hanya memakai dalaman. Dengan bangga, ia memamerkan hasil jepretannya itu ke bocah polos yang tidak tahu apa-apa tentang Asher sebelumnya.

"hmm, waktu kamu sebenernya masih banyak sih, buat kembali mikir mau tetap bertahan apa nggak nya." ujarnya dengan sangat percaya diri.

"huftt," Anora menghela nafas. "aku mau nanya deh sama kamu. setelah kejadian kemarin, kenapa kamu masih aja nyamperin aku buat nunjukin foto itu?" ujarnya tegas.

Matanya berkedip kencang saat mendengar pertanyaan dari Anora. Terlihat gelisah hingga posturnya kian menjadi kaku.

"aku tau kok kalau kamu masih kepikiran tentang Kak Asher, makanya kamu ngelakuin hal ini biar bisa balik sama dia lagi kan?"

"g..gak! kata siapa? asal kamu tau, Asher itu yang paling brengsek. liat aja, bentar lagi juga kamu bakal kena pancing nya!" balas nya berpura-pura keras.

"aku peringati kamu, Asher itu cuma make cewek-cewek polos kayak kamu buat kepuasan mamanya yang gila itu. dan aku yakin kamu akan berakhir menderita juga nantinya."

Anora terus mendengarkan ocehan perempuan tersebut secara acuh tak acuh. Alisnya merengut, ototnya menjadi tegang, dan emosinya terpancing ketika ia mendengar Alina yang menyebutkan bahwa Charlotte adalah orang gila. ia membanting kedua tangannya ke meja ketika bangun dari duduknya. "maksud kamu apa nyebut mama gila?!"

"ohh woww... udah sedeket itu sampe manggilnya mama ya? poor you, kejebak di keluarga aneh dan palsu." ia mengibas rambutnya.

"jaga ucapan kamu!" Anora membentak Alina tepat di depan wajahnya.

"udah deh ya, aku gak butuh penyataan masalalu sedikit pun dari kamu. mending pulang aja sana, aku mau closing." sambungnya tegas, ia berdiri menatap kesal Alina.

"hmm, sombong nyaa. padahal aku mau disini sampe Asher dateng, nemenin kamu yang udah nungguin lama dari tadi." Alina kemudian beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Nocturne dengan tingkat kepercayaan dirinya yang melebihi normalnya manusia.

Anora terus menatap kesal Alina hingga ia benar-benar keluar dari Nocturne. Tidak ingin terlalu larut dalam kesedihannya, ia mengusap kasar rambutnya hingga berantakan dan mengehela nafas dengan kasar setelahnya. Ia menatap kearah foto-foto itu, mengambilnya, dan menaruhnya di tas miliknya. Anora bergegas merapihkan barang bawaannya, mematikan seluruh lampu dan menguncinya rapat. Ia pergi dengan memesan taksi online.

°°°

30 menit pun berlalu, Anora kini tiba di depan rumahnya. Tanpa berpikir panjang, Anora bergegas memasuki rumahnya, dan pergi menuju ke kamar Susan. Setibanya ia disana, pandangan nya langsung tertuju kearah kasur kayu yang berbau apek khas barang yang sudah lama tertinggal. Dahi nya mengerut ketika ia mencoba untuk menggeser kasur itu sekuat tenaganya. Ketika kasur itu sudah tergeser, Anora hanya menemukan karpet berbahan tebal. Ia pun berpikir untuk menyisihkannya. Ketika karpet tersebut tidak lagi menghalang, ia mulai mengetuk-ketuk area yang tertutup oleh karpet sebelumnya, dan menyadari bahwa lantai kayu di bagian itu memiliki suara yang beda di bandingkan dengan area yang lain nya.

Forced To Be A BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang