•22• Percikan Api di Lorong Sunyi

245 39 1
                                        



aku up lagi nich!

walau target belum tercapai, gpp deh
aku update cepet aja yak

happy reading ~


••••

Suasana di lorong asrama itu mendadak menjadi sangat menyesakkan. Aldrich merasa seolah-olah oksigen di sekitarnya tersedot habis oleh benturan aura dari dua pria di depannya.

Di satu sisi, ada Dante yang menatap santai namun penuh provokasi, dan di sisi lain, ada Xavier yang tampak siap meratakan seluruh gedung ini jika Dante tidak segera menjauh.

​"Kak Xavier..." cicit Aldrich pelan. Suaranya bergetar, jujur saja dia takut melihat ekspresi Xavier yang jauh lebih menyeramkan daripada saat misi penangkapan preman dulu.

​Xavier melangkah maju. Setiap ketukan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian. Matanya terkunci pada tangan Dante yang masih berani menyentuh helai rambut pirang milik Aldrich.

​"Dante von Hestia," suara Xavier terdengar sangat tenang, namun justru itulah yang membuatnya berbahaya.

"Kudengar kau baru kembali dari pengasingan karena mematahkan tulang putra seorang Count. Sepertinya kau belum kapok mencari masalah."

​Dante melepaskan tangannya dari dinding dan berbalik sepenuhnya menghadap Xavier, namun ia tetap berdiri sangat dekat di depan Aldrich, seolah-olah sedang memagari miliknya.

​"Oh, Yang Mulia Putra Mahkota," Dante menyeringai lebar.

"Masalah adalah bumbu kehidupan, bukan? Dan kurasa... aku baru saja menemukan bumbu yang paling manis di sini." Dante melirik Aldrich dengan tatapan haus yang tidak disembunyikan.

​BUM!

​Sebuah ledakan mana kecil terjadi di udara saat Xavier melepaskan tekanannya. Aldrich refleks menutup telinganya.

​"Dia bukan bumbu untuk hidupmu yang sampah itu, Dante," desis Xavier.

Tangan Xavier bergerak secepat kilat, menarik pergelangan tangan Aldrich dan menyentakkannya hingga Aldrich menabrak dada bidang Xavier. "Sekali lagi kau menyentuhnya, kupastikan tanganmu tidak akan pernah bisa memegang pedang lagi."

​Aldrich yang sekarang berada di pelukan Xavier bisa merasakan jantung sang Putra Mahkota berdetak kencang karena amarah.

Xavier memeluk pinggang Aldrich dengan posesif, sangat erat hingga Aldrich merasa sedikit sesak.

​Dante tertawa renyah, sama sekali tidak terintimidasi. "Posesif sekali. Apa dia benar-benar milikmu, Xavier? Setahuku, permata secantik ini biasanya milik siapa pun yang berhasil merebutnya."

​"Cobalah kalau kau berani mati," tantang Xavier.

​Aldrich yang mulai merasa situasi ini akan berakhir dengan pertumpahan darah, segera menarik-narik ujung kemeja Xavier. "Ka-kak... sudah. Ayo pergi, aku lapar... aku ingin makan malam," ucap Aldrich dengan nada memelas, mencoba menggunakan jurus puppy eyes-nya untuk meredam amarah sang naga.

​Xavier menunduk melihat Aldrich. Tatapan tajamnya melunak dalam sekejap saat melihat wajah sembab dan bibir yang mengerucut itu.

​"Baiklah. Kita pergi," ucap Xavier singkat.

Namun sebelum melangkah, ia menatap Dante untuk terakhir kalinya dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Jangan pernah muncul di hadapannya lagi."

​Dante hanya berdiri di sana, memasukkan tangan ke saku celananya sambil memperhatikan punggung keduanya yang menjauh. Senyum miring masih terpatri di wajahnya.

​"Aldrich Granville, ya?" gumam Dante pelan. "Menarik. Sangat menarik."







╭──────༺♡༻──────╮

𝑀𝑜𝑣𝑒 𝑇𝑜
𝐴𝑛𝑜𝑡ℎ𝑒𝑟 𝑊𝑜𝑟𝑙𝑑

𝐶ℎ𝑎𝑝𝑡𝑒𝑟: 22

𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠: @Cacayang88

𝐷𝑖𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙:

22-12-2025

𝐷𝑖 𝑝𝑢𝑏𝑙𝑖𝑘𝑎𝑠𝑖𝑘𝑎𝑛:

25-12-2025

╰──────༺♡༻──────╯



☆☆☆



​Aldrich duduk dengan kaku di kursi restoran mewah di dalam area Academy. Di depannya, Xavier sedang memotong steak dengan gerakan yang sangat rapi, namun tetap memancarkan aura dingin yang menusuk.

​"Makan, Aldrich. Kenapa diam saja?" tanya Xavier tanpa menatapnya.

​"U-um, iya Kak..." Aldrich mulai menyendok supnya dengan tangan gemetar. "Kak Xavier... kakak jangan marah lagi ya? Tadi itu hanya salah paham, aku tidak kenal dia."

​Xavier meletakkan pisaunya. Bunyi dentingan logam dengan piring keramik membuat Aldrich berjengit. Xavier menopang dagunya, menatap Aldrich intens.

​"Aku tidak marah padamu, Al," ucap Xavier lembut, namun ada nada obsesif di dalamnya.

"Aku hanya marah karena ada tikus kotor yang berani menyentuh apa yang seharusnya dijaga. Kau terlalu polos, kau tidak tahu betapa banyak serigala di sekolah ini yang ingin membawamu pergi."

​Aldrich merengut kecil. "Aku kan bukan barang yang bisa dibawa-bawa..."

​Xavier terkekeh, tangannya terulur untuk mengusap pipi berisi Aldrich yang masih memerah. "Memang bukan. Kau adalah jantungku. Dan siapa pun yang mencoba mencuri jantungku, mereka harus siap kehilangan nyawa."

​Aldrich menelan ludah. Duh, kenapa dialognya jadi makin mirip psikopat di novel aslinya sih? batinnya panik.

​"Lalu... soal 'tanggung jawab' yang kakak katakan di kamar tempo hari..." Aldrich memulai topik yang membuatnya penasaran sekaligus malu.

"Apa maksud kakak?"

​Xavier tersenyum misterius. Ia memajukan tubuhnya, memperkecil jarak di antara mereka di meja makan.

​"Kau ingin tahu?" Xavier berbisik.

"Tanggung jawabnya mudah. Mulai besok, kau harus selalu berada dalam jangkauan pandanganku. Ke mana pun kau pergi, kau harus memberitahuku. Dan yang paling penting..." ​Xavier menggantung kalimatnya, membuat Aldrich berdebar menunggu.

​"...Jangan pernah tersenyum pada pria lain seperti kau tersenyum padaku. Bisa?"

​Aldrich mematung. Ini bukan tanggung jawab, ini namanya isolasi! Tapi melihat tatapan penuh harap sekaligus gelap milik Xavier, Aldrich hanya bisa mengangguk pelan.

​"B-bisa..."

​Xavier tampak puas. "Anak pintar."

​Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, sepasang mata perak sedang memperhatikan interaksi mereka dengan senyum yang sulit diartikan. Itu adalah Alphonse, yang sedari tadi memegang sapu tangan biru milik Aldrich di tangannya.

​"Sepertinya papan catur ini mulai penuh dengan pemain baru," gumam Alphonse pelan sebelum menghilang di balik kegelapan malam.
















Continued

​Don't forget to vote, comment, and share!

𝐌𝐨𝐯𝐞 𝐓𝐨 𝐀𝐧𝐨𝐭𝐡𝐞𝐫 𝐖𝐨𝐫𝐥𝐝Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang