•29•

137 20 5
                                        





Pagi menyapa dengan kejam. Bagi Aldrich, sinar matahari yang masuk lewat celah jendela asramanya terasa seperti lampu sorot panggung yang menuntutnya untuk segera tampil. Tapi Aldrich tidak mau tampil. Ia ingin pensiun dari kehidupan sosial secepatnya.

Setelah memastikan koridor sedikit sepi (dan untungnya, Kak Lionard serta Kak Cale sepertinya ditarik paksa oleh Ibu Olivia untuk sarapan di aula utama), Aldrich segera beraksi.

Ia mengenakan jubah asrama yang paling lebar, menarik tudungnya hingga menutupi separuh wajah, dan memakai kacamata baca tebal yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Ia bahkan berjalan sedikit membungkuk agar tinggi badannya tidak terlalu mencolok.

Target: Perpustakaan tua di sayap barat. Tempat itu berdebu, sepi, dan tidak ada yang mau ke sana saat festival," bisik Aldrich pada dirinya sendiri.

Namun, rencana Aldrich memiliki satu kelemahan fatal: ia punya sahabat-sahabat yang sudah mengenalnya sejak kecil. Bagi mereka, meskipun Aldrich berubah menjadi kentang pun, mereka tetap akan mengenali aroma parfum bunganya.

Saat Aldrich baru saja berbelok di koridor menuju taman belakang, empat bayangan tiba-tiba memutus jalannya.
"Mau lari ke mana, Tuan Singa Kecil?"

Aldrich membeku. Ia mengenali suara bernada malas namun tajam itu. Itu Randolph Lachaise (Ran), si jenius yang selalu tahu segalanya. Di sampingnya, Aleric Birdy (Eric) sedang menahan tawa sambil memegang sekantong roti.

"A-aku tidak lari! Aku hanya... sedang mengamati lantai!" sahut Aldrich tanpa mendongak.

"Mengamati lantai dengan tudung kepala dan kacamata sebesar piring?" Leticia Certon (Cia) melangkah maju, langsung menarik tudung kepala Aldrich dengan gerakan kilat.

"Wah, lihat wajah memerah ini! Kau sungguh berniat menghindar dari kami setelah aksi heroik kemarin?"

"Al, kau keren sekali kemarin!" Esmeray Ayrton (Ray) ikut menubruk Aldrich dengan pelukan singkat yang membuat kacamata Aldrich miring. "Berteriak pada Putra Mahkota? Melompat dari balkon? Kau benar-benar sudah gila atau sudah terlalu berani!"

Aldrich akhirnya menyerah. Ia melepas kacamatanya dengan pasrah sementara Ran, Cia, Ray, dan Eric menyeretnya ke sudut taman yang tersembunyi di balik pohon Oak besar. Mereka duduk melingkar, mengurung Aldrich di tengah.

"Cepat cerita," tagih Eric sambil menyodorkan sepotong roti ke mulut Aldrich. "Bagaimana rasanya memarahi Xavier Weyd? Aku hampir pingsan saat melihatnya dari tribun penonton."

"Aku tidak memarahinya!" Aldrich membela diri dengan mulut penuh roti. "Aku hanya... mencegah mereka saling bunuh! Kalian tahu kan kalau arena itu bisa hancur kalau mereka terus begitu?"

"Al, masalahnya bukan soal arenanya," Ran menyandarkan punggungnya ke pohon, menatap Aldrich dengan pandangan menyelidiki. "Masalahnya adalah kau baru saja mendapatkan hak istimewa dari Kaisar. Seluruh sekolah membicarakanmu. Mereka bilang kau adalah 'Penjinak Naga' sekarang."

Aldrich tersedak. "Penjinak apa?! Tidak, tidak boleh ada gelar seperti itu!"

Cia menepuk-nepuk punggung Aldrich dengan iba. "Kasihan sekali Aldrich kita. Pasti berat ya, disukai oleh Putra Mahkota, Pemberontak Hestia, dan sekarang malah jadi favorit Kaisar."

"Aku tidak ingin jadi favorit siapa pun!" seru Aldrich frustrasi. "Kalian teman-temanku, kan? Bantu aku bersembunyi! Jangan biarkan mereka mendekatiku!"

Ray mengepalkan tinjunya dengan semangat. "Tenang saja! Mulai hari ini, kami adalah 'Tembok Pelindung Aldrich'. Jika Xavier atau Dante mau lewat, mereka harus melewati kita dulu!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 24 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝐌𝐨𝐯𝐞 𝐓𝐨 𝐀𝐧𝐨𝐭𝐡𝐞𝐫 𝐖𝐨𝐫𝐥𝐝Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang