•28• pengen ngilang aja

126 22 7
                                        

Suasana sunyi yang menyelimuti stadion terasa begitu berat hingga suara embusan angin pun terdengar jelas. Di tengah arena, Aldrich berdiri mematung. Keberaniannya yang meledak satu detik lalu kini menguap, berganti dengan kesadaran penuh bahwa ia baru saja berteriak di depan dua keluarga penguasa dunia.

Kaisar Alexander Weyd tidak marah. Alih-alih memerintahkan pengawalnya untuk menangkap siswa yang tidak sopan itu, ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi emasnya. Sebuah seringai tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajahnya yang tegas.

"Menarik," gumam Alexander, suaranya yang rendah entah bagaimana terdengar ke seluruh penjuru tribun VIP.

"Selama puluhan tahun, aku tidak pernah melihat seseorang—apalagi seorang remaja—berani menghentikan duel berdarah Nyctophillic hanya dengan satu teriakan."

Permaisuri Isabella di sampingnya hanya bisa berkedip tak percaya. "Dia... dia benar-benar melompat dari balkon."

Kaisar menoleh ke arah Henry Granville yang wajahnya sudah memerah antara panik dan bangga. "Archduke Henry, kau membesarkan singa kecil yang memiliki nyali baja. Aku mulai mengerti mengapa Xavier begitu terobsesi padanya."

••^••

╭──────༺♡༻──────╮

𝑀𝑜𝑣𝑒 𝑇𝑜
𝐴𝑛𝑜𝑡ℎ𝑒𝑟 𝑊𝑜𝑟𝑙𝑑

𝐶ℎ𝑎𝑝𝑡𝑒𝑟: 28

𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠: @Cacayang88

𝐷𝑖𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙:

14-02-2026

𝐷𝑖 𝑝𝑢𝑏𝑙𝑖𝑘𝑎𝑠𝑖𝑘𝑎𝑛:

17-12-2025

╰──────༺♡༻──────╯

☆☆☆

(Pov Aldrich)

"Oh, tidak. Apa yang baru saja kulakukan?"

Jantungku berdegup kencang, tapi bukan karena adrenalin, melainkan karena rasa malu yang luar biasa. Aku bisa merasakan ribuan pasang mata menatapku—beberapa dengan kagum, tapi kebanyakan dengan ekspresi seolah aku adalah alien.

Xavier menatapku dengan tatapan kosong, pedangnya masih menggantung di tangannya. Dante di sisi lain tampak terpesona, seolah-olah aku baru saja menumbuhkan sayap emas di depan matanya.

"Sial, sial, sial! Aku baru saja mempermalukan keluargaku di depan Kaisar! Aku baru saja memarahi Putra Mahkota dan pemberontak Hestia di depan umum!"

Rasanya aku ingin menggunakan sihir gravitasi Kak Cale untuk membuat lubang di bawah kakiku sekarang juga. Aku ingin masuk ke sana, menutupnya dengan tanah, dan tidak keluar sampai musim dingin berikutnya—atau mungkin sampai aku reinkarnasi lagi ke dunia lain.

Wajahku terasa panas. Aku menunduk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan pipiku yang pastinya sudah semerah tomat. "Kau bodoh! Kau seharusnya tetap diam di kursi dan makan camilan!"

(Pov end)

Di tribun Granville, ketegangan mendadak berubah menjadi kegemparan yang berbeda.

"Kau lihat itu?!" seru Zelio dengan bangga, melupakan niatnya untuk mensabotase pertandingan. "Adikku! Dia melompat sepuluh meter dan mendiamkan dua monster itu! Itu darah Granville!"

𝐌𝐨𝐯𝐞 𝐓𝐨 𝐀𝐧𝐨𝐭𝐡𝐞𝐫 𝐖𝐨𝐫𝐥𝐝Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang