••••
Aldrich mengintip dari balik pilar aula. Begitu melihat sosok berambut perak milik Alphonse sedang sibuk memberi instruksi pada panitia, dan pengawal pribadi Xavier sedang berpatroli di gerbang utama, Aldrich segera berbalik arah.
"Maaf semuanya, aku butuh waktu sendiri atau aku benar-benar akan gila!" gumamnya sambil berlari kecil menuju area gudang tua di belakang Academy.
Ada sebuah lubang kecil di bawah pagar tanaman yang hanya diketahui oleh beberapa siswa nakal. Dengan susah payah, Aldrich merangkak keluar, mengabaikan seragamnya yang terkena sedikit tanah. Begitu kakinya menginjak rumput di luar area Academy, ia merasa seolah beban seberat satu ton terangkat dari pundaknya.
Ia berjalan menuju Kota Bawah, sebuah area pasar tradisional yang ramai namun tidak terlalu formal. Di sini, tidak ada yang mengenalnya sebagai "kesayangan Putra Mahkota" atau "target Dante". Di sini, dia hanyalah Aldrich, seorang remaja biasa.
Aldrich berhenti di sebuah kedai kecil yang menjual es krim buah. Ia membeli satu kerucut besar rasa stroberi dan duduk di bangku taman kota yang menghadap ke sungai.
"Ah... ini baru hidup," desisnya senang sambil menjilat es krimnya. Angin musim gugur yang sejuk menerpa wajahnya, membawanya jauh dari ketegangan politik dan obsesi di sekolah.
Ia mulai memikirkan masa depannya. Jika ia terus berada di bawah perlindungan Xavier Weyd of Nyctophillic, hidupnya memang akan terjamin, tapi ia akan kehilangan kebebasannya. Namun, jika ia lari ke arah Dante, itu sama saja masuk ke kandang serigala. Dan Alphonse... Aldrich bergidik. Pria itu terlalu sulit dibaca.
"Seandainya aku hanya figuran biasa yang tidak punya mana spesial," keluhnya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari melewatinya dan tidak sengaja menjatuhkan bola mainannya ke sungai. Aldrich, tanpa berpikir panjang, menggunakan sedikit sihir anginnya untuk menggerakkan air dan mengembalikan bola itu ke tangan sang anak.
"Wah! Kakak penyihir hebat! Terima kasih!" seru anak itu riang.
Aldrich tersenyum tulus. Namun, senyum itu mendadak luntur saat ia merasakan sebuah kehadiran di belakang bangkunya.
"Senyummu di sini jauh lebih manis daripada saat kau bersamaku di sekolah, Aldrich."
Aldrich hampir menjatuhkan es krimnya. Ia menoleh perlahan dan menemukan Dante berdiri di sana, mengenakan jubah cokelat biasa untuk menyamar, namun aura liarnya tetap tidak bisa disembunyikan.
"Dante?! Bagaimana kau bisa ada di sini?"
Dante duduk di samping Aldrich tanpa izin, lalu mencuri sedikit es krim dari kerucut Aldrich dengan jarinya. "Kau pikir kau bisa lari dari indra penciumanku? Aku sudah bilang, aku ini pemburu."
Aldrich menggeser duduknya. "Tolong, biarkan aku sendiri sebentar saja. Aku stres, Dante. Kalian semua membuatku merasa seperti mangsa."
Ekspresi Dante yang biasanya penuh ejekan mendadak berubah sedikit lebih serius. Ia menatap aliran sungai di depan mereka.
"Xavier itu... dia tidak tahu cara mencintai sesuatu tanpa menghancurkannya, Aldrich. Aku mungkin nakal, tapi setidaknya aku tidak akan mengurungmu di menara gelap."
Aldrich terdiam. Ia tidak menyangka Dante bisa bicara seperti itu. "Lalu kau? Kau ingin apa dariku?"
Dante berdiri, menepuk-nepuk debu di celananya, lalu mengacak rambut Aldrich dengan kasar namun tidak menyakitkan. "Aku? Aku hanya ingin melihat naga itu mengamuk saat aku memenangkanmu besok. Tapi untuk sekarang..."
Dante merogoh sakunya dan memberikan sebuah pita merah kecil. "Pakai ini di pergelangan tanganmu besok. Jika kau memakainya, aku akan tahu kau setidaknya memberiku kesempatan."
Setelahnya Dante pergi begitu saja, meninggalkan Aldrich yang kini menatap pita merah itu dengan bingung.
╭──────༺♡༻──────╮
𝑀𝑜𝑣𝑒 𝑇𝑜
𝐴𝑛𝑜𝑡ℎ𝑒𝑟 𝑊𝑜𝑟𝑙𝑑
𝐶ℎ𝑎𝑝𝑡𝑒𝑟: 25
𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠: @Cacayang88
𝐷𝑖𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙:
22-12-2025
𝐷𝑖 𝑝𝑢𝑏𝑙𝑖𝑘𝑎𝑠𝑖𝑘𝑎𝑛:
00-12-2025
╰──────༺♡༻──────╯
☆☆☆
Matahari mulai terbenam saat Aldrich menyelinap kembali ke Academy. Ia merasa sedikit lebih tenang, setidaknya sampai ia sampai di depan asramanya.
Di sana, sudah berdiri Xavier dengan tangan bersedekap di dada. Di sampingnya, beberapa pengawal tampak gemetar ketakutan. Suasana di sekitar Xavier begitu dingin hingga rumput di dekat kakinya tampak membeku.
"Dari. Mana. Saja. Kau?" tanya Xavier. Setiap kata ditekan dengan intensitas yang mengerikan. Xavier berbeda sekali sekarang.
Aldrich menelan ludah, menyembunyikan pita merah dari Dante ke dalam saku celananya. "Aku... aku hanya jalan-jalan di taman belakang, Kak. Aku ketiduran."
Xavier melangkah mendekat, mencengkeram bahu Aldrich dengan lembut namun posesif. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Aldrich, menghirup aroma tubuhnya. "Kau berbohong. Bau parfummu berbeda. Dan ada aroma tembakau... aroma Dante."
Xavier menatap mata Aldrich dengan kilatan amarah dan luka yang bercampur jadi satu. "Kau menemuinya di belakangku?"
"Tidak! Maksudku, tidak sengaja bertemu!"
Xavier tidak mendengarkan. Ia mengangkat tubuh Aldrich dan menggendongnya secara paksa menuju kamar asrama. "Sepertinya aku terlalu memberimu kebebasan, Al. Besok adalah festival, dan kau tidak akan keluar dari pengawasanku barang satu detik pun."
Malam itu, di bawah cahaya bulan, Aldrich menyadari bahwa pelariannya tadi hanyalah ketenangan sebelum badai yang sesungguhnya pecah di Turnamen Duel besok.
"Ah... sial sekali nasibku..." Aldrich membatin pasrah.
Continued
Don't forget to vote, comment, and share!
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐨𝐯𝐞 𝐓𝐨 𝐀𝐧𝐨𝐭𝐡𝐞𝐫 𝐖𝐨𝐫𝐥𝐝
FantasyBefore: [𝘽𝙇] 𝐁𝐞𝐜𝐨𝐦𝐞 𝐉𝐞𝐚 𝐈𝐧 𝐓𝐡𝐞 𝐖𝐢𝐳𝐚𝐫𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐖𝐨𝐫𝐥𝐝 Kevin Alexandra hanya ingin menyelamatkan seorang anak, namun ia malah berakhir terjebak di tengah perebutan kekuasaan dan cinta di Kekaisaran Nyctophillic. Dia adalah Kev...
