33

100 24 1
                                        

‎1 Tahun Kemudian

Matahari menembus tirai putih ruangan. Angin sepoi-sepoi tropis yang ringan mengiringi suara deburan ombak di kejauhan.

Jisoo menatap perempuan di pelukannya. Orang yang telah merebut hatinya sejak pertama kali ia berbicara dengannya.

Hanya selimut yang memisahkan mereka, Jisoo menggerakkan jari-jarinya ke atas dan ke bawah mengusap lengan istrinya. Ini adalah hari terakhir bulan madu mereka, berbaring di tempat tidur resor hotel, di pantai Hawaii. Mereka ingin menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan.

‎"Aku mencintaimu." Jisoo berbisik sambil mencium puncak kepala Jennie.

Dia bisa merasakan Jennie tersenyum di dadanya, sebelum Jennie bergeser sedikit agar dia bisa melihat wajah Jisoo.

"Ada berapa orang sebelum aku?" Jennie bertanya pelan, sambil memegang tangan Jisoo.

"Maksudmu apa?"

"Seperti, berapa banyak gadis yang kau cintai sebelum aku?"

"Cinta?" Jisoo bertanya sambil mengingat-ingat.

"Lima." Jisoo berkata dengan percaya diri. "Aku mencintai lima orang sebelum kau." Jennie tersenyum tipis.

"Siapa nama mereka?"

‎"Who, what, when, where, why." Jisoo menjawab.

"Bisakah kau ceritakan tentang mereka?" Jennie bertanya sambil menatap jari mereka yang saling bertautan, cincin mereka berkilauan di bawah cahaya ruangan.

Jisoo tersenyum pada istrinya, sebelum mengenang kembali.

"Who, orang yang kucintai adalah seorang gadis dari kampus. Aku tidak terlalu dekat dengannya, tetapi dengan beberapa fakta dangkal, dan beberapa interaksi selama semester, kau tahu, seperti kebanyakan orang yang berfantasi tentang seorang gadis yang bahkan hampir tidak mereka kenal. Aku mengisi kekosongan itu seperti seorang penulis dongeng." Jisoo berkata sambil mengingat kenangan itu.

"Dia dalam pikiranku mungkin lebih dari kenyataan. Dia adalah mahasiswi tahun ketiga, anggota organisasi mahasiswi, dan aku adalah mahasiswi baru yang tergila-gila padanya. Tetapi beberapa kali kami menghabiskan waktu bersama di luar kelas, itu benar-benar memungkinkan ku untuk menyadari bahwa dia juga memiliki hati yang baik dan semangat yang ceria. Satu-satunya masalah adalah, dia juga memperlakukan hampir setiap pria lainnya seperti itu." Jisoo tertawa kecil.

"Meskipun dia menolak ku dengan baik, aku bersumpah, ada saat-saat gadis organisasi itu mungkin merasakan sesuatu untuk mahasiswa baru yang canggung." kata Jisoo.

"What, yang kusuka adalah seorang teman lama. Tapi dia jauh lebih dari sekadar teman. Kami bertemu di awal kuliah dan tetap berhubungan baik selama beberapa tahun. Kami melihat satu sama lain tumbuh dan berubah, dan melalui berbagai hubungan. Aku melihat pacar-pacarnya yang berbeda, datang dan pergi. Dia juga ada di sana untuk setiap pacar dan saat aku putus cinta. Kepribadian, humor, selera... semuanya ada di dia semua, dia dan aku hampir sempurna sangat satu frekuensi. Satu-satunya hal yang tidak sempurna adalah waktu kami. Kami tidak pernah lajang pada waktu yang sama, dan kita tidak pernah bisa untuk meninggalkan orang yang bersama kita pada saat itu. Ini adalah sesuatu yang akhirnya harus kita hadapi dan terima." Jennie mendengarkan Jisoo dengan saksama sambil ibu jarinya mengusap tangan Jisoo dengan lembut.

"When, dia adalah pacar pertamaku di sekolah menengah atas. Agak tidak adil karena dia mewujudkan kombinasi antara cinta dan masa muda. Perasaan cinta muda itu unik dan tidak mungkin digantikan atau ditiru, karena kita hanya bisa berada di usia itu sekali. SMA adalah masa kepolosan, penemuan, dan petualangan. Kita berbagi ketiga elemen ini bersama dalam hal-hal seperti ciuman pertama kita, menyelinap keluar larut malam, dan menonton film di bioskop drive-in, yang semuanya kini telah menjadi cinta nostalgia. Terpelihara dalam masa yang tidak dapat kita sentuh lagi. Tapi tidak ada apa-apa di sana.
‎Meskipun kami masih anak-anak, tidak ada keraguan dalam pikiranku bahwa kami saling mencintai." Jisoo tersenyum lembut sambil menatap keluar pintu balkon yang terbuka, menyaksikan ombak laut surut.

"Where, yang kucintai adalah gadis yang kutemui di Seoul. Aku tidak pernah berniat untuk tinggal di sana selama itu, itu hanya magang enam bulan setelah lulus SMA. Tapi semuanya berubah ketika aku bertemu dengannya. Setahun berlalu, dan kemudian entah bagaimana setahun lagi setelah itu. Aku tidak bisa meninggalkan kota itu... dan aku tidak bisa meninggalkannya. Mungkin itu keinginanku untuk mandiri, atau membuktikan sesuatu kepada semua orang di rumah, tetapi dia membantuku mewujudkannya di sana. Dengan hubungan yang mencerminkan kota tempat kami berada. Energi baru, dan pengalaman baru yang benar-benar mendorongku untuk lebih dewasa daripada siapa pun, atau di tempat lain. Ketika orang bertanya kota mana yang paling kusukai, aku menjawab... Seoul." Kota yang paling ku cintai."

‎Jisoo menelan ludah dengan susah payah saat mengingat gadis terakhir.

"Why, mengapa aku mencintai, dia adalah seorang teman dekat ku yang meninggal dunia. Dia mengatakan kepadaku setelah didiagnosis, bahwa kematian bukanlah hal yang paling membuatnya sedih. Tetapi kenyataan bahwa dia tidak pernah merasakan jatuh cinta. Dia tidak akan pernah merasakan emosi itu, baik dan buruk, dari terluka dan dipeluk." Jisoo berbisik, dan Jennie menggenggam tangannya dengan menenangkan.

"Setelah dia meninggal, itulah yang paling membekas dalam ingatanku. Mengajariku bahwa salah satu anugerah terbesar yang kita miliki dalam hidup adalah kemampuan untuk memberi cinta, menerima cinta, dan bahkan kehilangan cinta. Ada begitu banyak orang di luar sana seperti dia, yang hidupnya tidak akan pernah mengalami pengalaman itu. Sungguh sia-sia jika kita tidak berusaha untuk mencintai dalam hidup kita. Dia membuatku mengerti alasannya, betapa sia-sia hidup ini tanpa mencintai."

‎Jennie menghela napas dan tersenyum lembut pada Jisoo. "Aku mengerti sekarang."

Jisoo berbalik ke samping untuk menghadap Jennie. "Kau yang keenam." Katanya.

"Yang keenam. Jadi aku yang mana?" Jennie tersenyum.

"Kau bukan salah satu dari mereka..." kata Jisoo sambil menarik napas dalam-dalam.

"Karena kau adalah mereka semua." Kata Jisoo sambil menatap dalam-dalam mata Jennie, dia meletakkan tangannya di pipi Jennie dan mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.

‎"Kau adalah Siapa yang kucintai. Gadis di atas panggung fantasi, hal-hal khayalan yang sebenarnya benar. Kau adalah Apa yang kucintai. Kedalaman, lelucon-lelucon rahasia, sahabat terbaik. Kau adalah saat aku mencintai. Sejarah baru sedang dimulai bersamamu. Kita adalah sepasang kekasih muda yang suatu hari nanti akan dikenang oleh diri kita yang lebih tua. Kau adalah Tempat yang kucintai, karena aku akan pergi ke mana saja hanya untuk bersamamu. Kau adalah Mengapa aku mencintai. Karena sebelum kau, aku tidak pernah benar-benar mengerti apa yang kucari. Dan sekarang setelah kita saling menemukan, kau telah memberi makna pada masa lalu dan masa depanku." Kata Jisoo.

"Kau adalah yang keenam. Kau adalah the last, yang terakhir."

If You (Jensoo)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang