Heraclitus punya pendapat, satu-satunya hal yang konstan adalah perubahan. Tapi apakah perubahan itu sesuatu yang harus kita takuti? atau sesuatu yang harus kita rangkul?
.
.
.
"Aku masih tidak percaya kalian tidak melakukan apa pun. Dia tahu apa yang kamu sukai, kenapa dia tidak bisa merencanakan sesuatu?" kata Lisa dengan bingung saat dia, Jennie, dan teman baru mereka, Doyoung, duduk di sebuah kedai kopi.
"Jisoo sedang bekerja, dia sangat sibuk bulan lalu dengan syuting untuk serial drama baru yang akan segera tayang, bukan masalah besar." Kata Jennie sambil memainkan bagian atas cangkir kopinya.
"Unnie, dalam setiap hubungan, orang-orang akan merasa nyaman. Ada kenyamanan 'kita bisa menjadi diri kita sendiri' dan ada kenyamanan 'kita bisa melakukan apa pun yang kita mau'." kata Doyoung.
"Seperti melupakan tanggal-tanggal penting." Lisa mengangkat alisnya.
"Guys, anniversary pertama pernikahan itu bukan masalah besar," kata Jennie mencoba bersikap santai.
"Maksudku, kita sudah menikah dan itu sudah cukup. Jisoo hanya sibuk dan manusia bisa lupa. Jadi, tidak apa-apa."
"Intinya, orang berubah ketika mereka terlalu nyaman dalam sebuah hubungan." kata Doyoung.
.
.
.
.
.
Jennie berdiri dalam kegelapan, di dekat pintu kamar tidur mereka dengan gugup. Jisoo sudah berada di tempat tidur dengan ponsel di tangannya.
Kau bersikap konyol, Jennie. Dia istrimu. Pergi saja!
Jennie memarahi dirinya sendiri. Tapi kemudian pikirannya kembali pada apa yang Doyoung katakan sebelumnya.
"Langkah pertama, kau akan lihat, mereka menjadi malas."
Jennie berjalan menuju tempat tidur tetapi tersandung sesuatu di tengah lantai.
"Apa yang dilakukan benda ini di sini?" tanya Jennie sambil mengambil tas kerja Jisoo.
"Sorry," kata Jisoo sambil menatap Jennie sebelum kembali melihat ponselnya.
"Kedua, mereka berhenti peduli tentang bagaimana penampilan mereka di depanmu."
Jisoo bersendawa keras membuat Jennie mengerutkan alisnya. "Ih, Jisoo."
"Sorry." Ucapnya lagi.
Jennie menyelinap ke tempat tidur di sebelah Jisoo, sementara Jisoo terus melihat ponselnya.
"Ketiga, mereka mulai menyembunyikan sesuatu."
Ponsel Jisoo berdering dan menarik perhatian Jennie.
Jennie mencondongkan tubuh untuk melihat ponsel Jisoo, tetapi Jisoo malah memutar ponselnya lebih dekat ke arah dirinya sendiri. Jennie dapat melihat pantulan dari kacamata Jisoo dan melihat situs web hotel di layar.
"Apakah kita akan pergi ke suatu tempat?" tanya Jennie.
"Eh? Tidak." kata Jisoo sambil menggaruk lehernya dengan gugup.
"Hanya merencanakan perjalanan dengan teman-temanku."
"Oh," kata Jennie. "Siapa yang akan pergi bersamamu?"
"Um, seperti biasa. Park Sooyoung, Park Hyun Sik, dan saudara mu. Hanya kita berempat."
Jennie melirik layar dan melihat bahwa hanya dipesan untuk dua orang, di satu kamar, tetapi dia memutuskan untuk membiarkannya saja.
Jisoo meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur dan melepas kacamatanya.
"Wah, sepertinya kalian akan bersenang-senang," kata Jennie dan Jisoo bergumam sebagai respons.
"Apakah kita masih jadi keluar besok?"
KAMU SEDANG MEMBACA
If You (Jensoo)
FanfictionTepat seminggu sejak Jennie mulai memperhatikan gadis itu. Pertama kali dia melihatnya, gadis misterius itu memakai kacamata, membaca buku, dan sesekali menggigit penanya dengan manis. Jennie dan Jisoo sama-sama mahasiswa di universitas YG. Apa yan...
