{24}

5.9K 431 36
                                        

Sam POV

Pagi ini aku dibangunkan oleh suara berat Eric. "Sam, apa kau sudah bangun?" bisiknya di telinga kiriku.

"Heeemmm..." kataku sambil mengerjapkan mataku. "Ini jam berapa Eric?" sambungku.

"Masih jam 5.30, Sayang" jawabnya.

Aku masih berusaha mengumpulkan nyawaku. Dengan sigap, aku eratkan kembali pelukan Eric di dadaku. "Aku masih ingin tidur di pelukanmu, Eric".

"Aku akan memelukmu seharian, Sam" jawab Eric seraya merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Kurasakan lekukan otot dada dan perutnya menempel posesif di punggungku. Lengan kanannya masih menjadi sandaran yang nyaman untuk kepalaku saat lengan kirinya semakin erat memelukku.

"Eric, apa kau bahagia menjalani hidup bersamaku?".

"Tak perlu kau tanya lagi Sayang. Kau adalah belahan jiwaku. Hanya bersamamu aku merasa sempurna. Hanya bersamamu aku merasa memiliki dunia. Hanya bersamamu aku bahagia, Sam".

Cuuuppp.....

Satu kecupan lembut mendarat di tengkukku. "Eric, geli..." rajukku. Tapi Eric malah semakin menjadi-jadi, dikecupnya seluruh bagian leher hingga telingaku.

"Aku suka harum tubuhmu Sayang" bisik Eric setelah puas mengulum telingaku.

"Itu, apa yang mengganjal di bawah?" tanyaku pura-pura polos untuk menggoda Eric. Kurasakan ada batang mengeras menempel di belahan pantatku.

"Sam, jangan memancingku" kata Eric.

"Aku tak sedang menggodamu, Eric. Tapi ada yang mengganjal di antara pahaku" jawabku.

Bleeessshhh.....

Tanpa peringatan dan dalam sekali hentakan, batang Eric sudah bersarang dengan nyaman di dalam liangnya. Benar saja, kami semalam tidur tanpa sehelai pakaian hanya tertutup oleh selimut hangat yang nyaman.

"Aaahhh... pelan-pelan Sayang" desahku.

Eric mulai memompa batangnya dengan irama tetap. Gesekan kulit batang dan dinding lubangku, semakin membuat kami terbang melayang. Eric semakin terbawa suasana, dikecup dan digigitnya bagian belakang bahuku. Aku rasa akan ada tanda cinta saat aku bercermin nanti.

Eric melepas batangnya dari lubangku. Lalu dengan sekali dorongan dan tarikan, dia berhasil membalikkan tubuhku menghadap dirinya. Satu kakinya berhasil membuka kakiku, dan dengan satu hentakan pinggul, batangnya sudah bersarang dengan nyaman lagi di dalam sarangnya. Eric memaju mundurkan lagi pinggulnya seraya memagut bibirku.

"Aku sa...yhhang...nngghh ka...muuu Sam" rintihnya disela-sela kenikmatan yang menjalari tubuhnya.

Aku cium dan gigit lehernya dengan gemas. Eric semakin melengkuh keenakan. Dipercepat hentakan pinggulnya, batang besar dan panjang itu berhasil menyentuh bagian paling sensitif di dalam lubangku hingga tubuhku mendapatkan gelenyar kenikmatan. Kujambak rambut Eric untuk menyalurkan rasa nikmat yang kurasakan. Dan beberapa saat kemudian, kami berdua mencapai puncak kenikmatan hingga kembali melepas hasrat. Kurasakan pagi ini lelehan Eric lebih banyak daripada yang semalam.

"Eric, sepertinya pagi ini lelehannya lebih banyak. Lubangku terasa penuh" lirihku seraya menatap mata hijaunya.

"Itu karena kau membuatku lebih bergairah pagi ini daripada tadi malam" jawabnya dengan seringai nakal.

"Dasar... kau selalu bisa menggodaku dengan gombalan picisanmu" kataku sambil menepuk lembut kepalanya.

Eric merapatkan kening dan hidungnya, jadilah kami sedang menempel dengan sempurna. "Kau tahu Sam?" katanya.

My Beloved Little BrotherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang