Radith POV
"Sial... Sudah coba telpon dari semalam tapi nomor Vian belum aktif juga" umpat Ovan yang duduk di tepi ranjang sembari sibuk mengusap layar ponselnya.
"Sayang, mungkin Vian masih sibuk atau mungkin dia sedang beristirahat dan ponselnya mati kehabisan baterai" kataku seraya memeluk tubuh kekasihku dari belakang.
"Iya mungkin". Ovan mendesah lesu. Dia masih sulit untuk bisa menghiraukan perkara di antara Alisha dan kakaknya. Mau tak mau, Ovan harus memberi tahu Octavian bahwa Alisha sedang mengandung putranya.
"Sebaiknya kita segera berkemas. Penerbangan kita pukul 3 sore dan kita bisa memberi tahu Vian besok saat kita sudah sampai di rumahmu sayang".
"Kau benar Radith. Terima kasih kau sudah mau menemaniku pulang ke Belanda" jawab Ovan yang kini telah mendaratkan ciuman lembut di keningku.
"Baiklah, aku akan menyiapkan beberapa bajuku. Kita di rumahmu seminggu saja kemudian menyusul Mas Sandy ke Dublin untuk bertemu papa sama abi". Aku segera turun dari ranjang dan mengeluarkan koper besarku. Ku buka lemari dan memasukan baju-bajuku ke dalam koper.
"Ya ampun Sayang. Apa kau mau pindah rumah?" tanya Ovan dengan senyum konyolnya. Aku hanya mengangkat bahuku dan melanjutkan aktivitas packing bajuku.
Ovan duduk di sampingku, menghentikan aktivitasku. Dan dia mengeluarkan koper kecilku. "Kau tak perlu membawa baju terlalu banyak. Di rumahku juga banyak baju, kau bisa memakai sesuka hatimu".
"Tapi bajumu lebih besar Ovan. Lihatlah tubuhku yang lebih mungil jika dibandingkan dengan tubuhmu" protesku.
"Aku lebih suka melihatmu memakai bajuku yang kebesaran karena kau akan terlihat lebih sexy sayang. Hahahaha" goda Ovan.
"Huh... Menyebalkan. Aku tak mau memakai bajumu".
"Tak ada bantahan Radith. Duduklah di ranjang. Biar aku yang menyelesaikan packing baju-baju kita. Lagian jika barang bawaan kita melebihi kapasitas, kita akan kena biaya tambahan". Kali ini Ovan terlihat sangat serius dan baru kali ini aku takut menatap matanya.
"Jangan menatapku seperti itu" protesku. Tapi Ovan masih saja menatapku intens dengan sorot yang tajam.
"Jangan membantahku".
Huh... Kenapa dia jadi menyebalkan seperti ini. Aku membuang pandanganku ke arah lain. Aku tak mau melihat Ovan dengan tatapan yang mengerikan itu.
"Aku mau keluar saja. Susul aku kalau kau sudah selesai" pamitku pada Ovan yang hanya dijawab dengan dehaman kecil. "Huh... Dasar menyebalkan" umpatku dalam hati.
"Ayah..." teriakku keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Namun teriakanku tertahan saat aku melihat sosok yang telah lama tak ku temui itu, Mama, Dina Mahardika.
"Ma...ma..." ucapku dengan mulut yang terkatup-katup.
Wanita itu hanya tersenyum lembut, senyum yang selalu bisa mendamaikan hatiku. Senyum yang sarat akan kasih sayang. "Radith..." ucapnya dengan lirih.
"Nak kemarilah. Duduk di samping Ayah" kata Ayah seraya menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Dengan ragu aku berjalan mendekat dan duduk di samping Ayah. Tiba-tiba ada rasa gusar dan nyeri yang berdesir dalam hatiku. Mungkinkah aku masih kecewa pada wanita yang ada di depanku sekarang ini?
Aku hanya terdiam berusaha mengusir perasaan aneh yang mengganggu hatiku. Ku coba untuk berdamai dengan kekecewaan ini. Aku tahu kalau Mama melakukan semua ini untuk kebaikan keluarga kami. Toh, sekarang rasa cinta antara aku dan Rastra sudah tak ada lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beloved Little Brother
RomanceSam, seorang pemuda tampan, pengertian dan sabar. Salah satu tipe orang yang sensitif pada janji, dia akan benar-benar marah saat ada orang yang mengabaikan janjinya. Eric, seorang eksekutif muda nan rupawan, dengan banyak kesibukan. Ia memiliki ban...
