Silent

5.5K 266 10
                                        

Akhir-akhir ini keluargaku sangat berisik. Kenyataan bahwa sebentar lagi aku harus mempersiapkan diri menghadapi ujian, nampaknya tidak mereka gubris. Sungguh aku membutuhkan ketenangan, setidaknya sedikit pengertian.

Ugh! Menyebalkan!

Duaakk... duakk...

Aku melepaskan pandangan dari buku pegangan ujianku saat mendengar benda yang ditendang-tendang di lantai bawah. Padahal sudah dua hari aku merasakan kedamaian karena tidak mendengar mereka berisik. Kenapa harus sekarang?

Pandanganku tertuju pada jam yang menempel di di dinding kamar. Jarum-jarumnya membuatku tersentak. Saatnya makan malam. Sedikit perasaan bersalah hinggap, bagaimana pun aku punya kewajiban untuk membuatkan mereka makanan. Aku sadar mereka tidak bisa membuatnya sendiri, tidak sejak dua hari yang lalu ketika aku memprotes ketidakperdulian mereka akan persiapan ujianku.

Ibu mungkin terlalu shock saat melihat amarahku yang meledak dan menyemprotnya atas kebiasaan buruknya menggosip di telepon. Hal lain yang bisa dilakukan ayah dengan baik selain mabuk hanyalah menggoda perempuan yang lewat.

Adikku? Well, apa yang bisa diharapkan dari bocah berumur tujuh tahun? Kebiasaan menjengkelkannya berteriak-teriak saat menonton kartun menjadikannya sasaran kemarahanku juga. Jika teringat saat itu sebenarnya untuk dikatakan menyesal, aku lebih suka menyebutnya sebagai kelegaan.

Sambil menghela nafas berat, aku berjalan keluar kamar dan menuruni tangga menuju ke dapur tempat mereka berkumpul. Saat melihat kedatanganku, ayah melotot penuh dendam kearahku. Ah, aku tak perduli. Jika dirinya ingin dihormati, setidaknya buatlah dirinya menjadi sosok yang layak untuk dihormati, pikirku. Adikku terdiam, tak bergerak sedikitpun, aku tak tahu apakah hal itu dikarenakan dirinya kelaparan atau takut terkena marahku lagi, sekali lagi aku tak perduli. Ibu menangis sesenggukan di atas kursi menghadap meja makan. Kuharap dia menyesali segala sifat buruknya selama ini. Aku berlalu mengabaikan suasana tak bersahabat itu dan menuju ke arah kulkas. Kesibukan belajar untuk ujian tidak memberikan waktu banyak bagiku untuk berbelanja, maka kuputuskan untuk menggunakan bahan yang ada di freezer sebagai bahan hidangan makan malam.

Kegaduhan terdengar lagi saat aku mulai memasak. Mungkin mereka sudah tidak sabar atau tidak cocok dengan masakan yang akan kubuat.

"Duh, sabar sedikit. Memasak juga butuh waktu," omelku kesal.
Bukannya berhenti, namun kegaduhan semakin membuat telingaku berdengung.

"DIAM!" teriakku kesal sambil memukul ujung pisau ke talenan keras-keras, berusaha untuk meredakan kegaduhan tersebut. Dalam hati aku bersorak saat kemudian mereka terdiam kaku mendengar bentakanku.

Setelah melihat mereka tidak berisik lagi,aku mulai lagi memotongi daun bawang dan bawang putih. Lalu kulanjutkan dengan mencari bumbu-bumbu yang lain, bumbu yang sesuai untuk sup.

"Sebentar lagi matang, bersabarlah. Jika kalian bisa tenang sedikit, mungkin kejadian tempo hari tak perlu terjadi, dan makan malam bersama tidak perlu berlangsung kaku seperti ini!" omelku kesal sambil memasukkan bahan-bahan yang sudah aku siapkan ke air yang mendidih.

Setelah itu aku memasukkan garam,lada dan sedikit vetsin. Kuambil sedikit kuah di ujung sendok, dan menyendokkan ke dalam mulutku.

"Lumayan" gumamku saat kuah sup itu menyentuh lidah. Lalu aku mulai membagi mangkuk ke Ayah, Ibu dan adikku. Aku membagi rata sup itu ke masing-masing mangkuk. Juga kusiapkan nasi di piring di samping-samping mangkuk.

"Maaf, aku memang ada waktu untuk memasak, tapi aku tidak punya waktu untuk berbelanja, jadi untuk makan malam hanya ini yang bisa kuberikan" ujarku tersenyum kecil. "dan mohon makan dengan tenang karena aku mau melanjutkan belajarku, kalau kalian masih menendang-nendang meja seperti tadi, rasanya sup lidah akan digantikan dengan sup kaki sebagai menu makan malam besok," ujarku memperingatkan.

Kupandangi wajah mereka yang kini dipenui kengerian saat mendengar ucapanku. Wajah mereka menegang, sementara cairan merah kecokatan yang mengering memenuhi bibir dan mulut mereka. Kemudian kubuka rantai yang mengikat tangan kanan mereka agar ayah dan ibu bisa makan sendiri. Adikku nampaknya sudah tak bisa bergerak sedikit pun.

"Jika kalian bisa tenang, mungkin untuk beberapa hari ke depan kita bisa menikmati sup daging." Kuangkat kepalaku kearah tubuh adikku dan segera berbalik ke kamar untuk kembali belajar. Ibu dan ayah hanya bisa menggumam tak jelas, dan aku memakluminya. Bagaimanapun, orang tak akan bisa bicara tanpa lidah.

CreepyPasta & Horror StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang