Author POV
Andra berjalan dengan gontai, kaki kanan dan kirinya bergantian menapaki rumput hijau yang terhampar cukup luas.
Kehangatan itu terjun bebas mambasahi pipi kanan dan kirinya.
Andra tak peduli kalau ada yang melihatnya. Melihat seorang Andra yang lemah. Yang terlalu takut untuk menerima kenyataan.
"Heeei, kemana aja kamu? Kok ngilang? Haha"
Andra tertawa. Hambar. Sangat hambar. Lelaki dibelakangnya tersenyum, memakluminya.
"Kamu dimana? Ga usah ngumpet deh, ngapain coba ngajak ketemuan disini?" Andra melirik kanan dan kirinya. Tak ada siapapun. Kecuali dirinya dan bapak yang mengantarnya.
Kakinya mendadak lemas, selemas-lemasnya. Bahkan tak sanggup untung menopang badannya sendiri.
Kenyataan pahit itu benar-benar ada dihadapannya, sekarang.
Dengan bukti nyata.
Andra tersungkur. Kakinya ambruk seiring mata menangkap apa yang ada dihadapannya, Andra hanya berlutut. Air matanya pecah.
Isak tangis medak begitu saja, tak ada yang Andra tutupi. Andra tak bisa menyembunyikan kepedihannya.
Seseorang yang menemaninya pun, memutuskan untuk pergi. Meninggalkan Andra sendiri.
"Ecaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" Andra berteriak sekencang-kencangnya. Tak ada yang berseru.
Andra menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Kenapa kita harus ketemu disini? Kita bisa ketemu di tongkrongan biasa Caaa"
"Caaaaaaaaaaa, kamu-ngapain-disini? Ngapain Caaa? Ayo jawab?"
Seperti hilang kesadaran, Andra tak dapat mengontrol dirinya sendiri.
Andra terus berteriak, memanggil gadis kesayangannya. Tapi nihil.
Tak ada seruan.
Kembali pada kenyataan bahwa yang Andra cari dan Andra panggil, sudah tiada. Sekeras apapun Andra berteriak, selama apapun Andra mencari. Tak ada gunanya.
//
Untuk beberapa menit, Andra masih menangis sejadi-jadinya.
Untuk membayangkan saja Andra tak sanggup. Tak pernah terlintas difikiran Andra, bahwa gadis kesayangannya akan pergi begitu cepat. Mendahuluinya.
Tapi kenapa ini malah terjadi pada kenyataan.
"Ini yang kamu maksud Ca? Iniii?" Kali ini bukan berteriak.
Andra berbisik. Suaranya hampir tak terdengar, air mata tak henti bercucuran dari ujung matanya.
"Ini yang kamu maksud rumah baru? Komplek kecil? Party tujuh hari-tujuh malem? Dress code hitam-putih?Penjaga depan? Atas nama Erysca? Tanggal 17 Januari 2015? Ini Caaaaa? In-i Ccc-aa?" Andra menenggelamkan kepalanya ditengah pusaran penuh bunga. Kedua tangannya terlentang.
Ya. Andra memeluk gundukan tanah merah bertabur bunga. Dihadapannya.
Rasanya baru kemarin Andra ngobrol bareng Eca, memeluk Eca, mencium kening Eca.
//
Andra POV
"Itu hak kamu. Dengan ataupun tanpa aku jadi pendamping kamu nantinya, cinta aku tetep buat kamu Andra"
Karena pada kenyataannya kamu udah pergi Ca? Kamu bawa cinta itu, selamanya.
"Aku ga takut lagi. Lagian aku mati dipelukan kamu"
Bahkan kamu pergi disaat aku ga sadar?
"Haha lebay. Besok aku pindahan, sekalian party dirumah baru. Wkwk"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry.
Novela JuvenilSemua telah terjadi. Maaf tak ada gunanya, sebanyak apapun itu. Toh semua tak bisa kembali seperti semula.
